Belajar menggunakan dropbox

Aaaiooookk.. ikutan manfaatin Dropbox. Ini nih Link nya: https://db.tt/c6LDP8Wb

May 21, 2015 at 2:51 am Leave a comment

Judulnya sih mau cerita…

Ceritanya sih mau cerita. Tapi entah ingin memulainya dari mana.
Hidupmu adalah derita dan bahagiamu.. Mungkin ini yang harus aku rasakan untuk jalan hidup yang aku pilih.
Terlalu terbebani, sangat membuatku tertekan dan terasa sangat-sangat nyata ga enaknya. Tapi yaahh.. It’s my life.
Yang kuinginkan adalah akhir yang bahagia. Hanya bisa berharap diberikan jalan yang terbaik oleh Allah SWT. Smoga aku lulus dalam ujian-Nya. Diberikan kesabaran dan kekuatan lahir batin. Aku tau bahwa Allah tidak akan membiarkan hambanya terlalu senang ataupun terlalu sedih.. Semuanya harus serba “cukup”. Allah juga pasti akan memberikan hak kita. Semuanya diberikan dengan adil. Allah memang maha segalanya.
Hanya saja terkadang secara kenyataan banyak terasa “hidup ini tidak adil”. Banyak kekecewaan dan ketidakpuasan dengan yang sudah diberikan dalam hidup ini.
Hidupku sekarang…
Harus memposisikan diri di tempat yang selalu salah. Antara keluarga kecilku atau keluarga besarku. Segalanya nyaris berjalan berlawanan arah. Siapa lagi dan dimana lagi aku harus mengeluh selain pemilik hati dan jiwa ini, Allah SWT.

July 26, 2013 at 2:50 am Leave a comment

Sebelah Hati

Menggantung sepi di kerinduan hati
Menatap sendu tak kunjung menepi
Indah cinta semanis janji
Setia menanti di ujung mimpi
Kisah cinta si sebelah hati

Tertambat tak kunjung pasti
Menatap riuh badai bersemi
Goyahan bahtera tak jua sunyi
Sungguh malang nasib sebelah hati

Mengharap cinta tak kunjung memberi
Ribuan maki tak berbelas kasih
Menempa mimpi di ujung belati
Damba pelita terangi hati

October 18, 2012 at 11:52 pm Leave a comment

KISAH TANPA JUDUL (untuk sementara)

Friday, june 24th 2011
Kurasakan hembusan nafas terberatku hari ini. Merasakan segala macam perasaan ga keruan yang memenuhi rongga dada dan liuk likunya pikiran. Sungguh menyakitkan dan menyesakkan. Merasa menjadi orang terbodoh, tergagal dan kesepian. Begitu kacau sekali.
Kutatap wajah – wajah ceria yang terpampang jelas di album foto dan memutar kembali video penuh tawa bahagia dalam ingatan ini. Sungguh ga bisa kubayangkan senyum itu lenyap dengan apa yang akan mereka peroleh esok hari. Suatu kabar yang membuat segalanya berubah. Yang pertama kali tentu saja adalah senyum ceria mereka semua. Murid – muridku tersayang.
Esok, hari sabtu. Hari yang sudah ditentukan oleh sekolah kami untuk membagikan laporan hasil belajar siswa selama satu semester. Hari dimana mereka harus menerima keputusan untuk naik kelas atau ga. Semuanya bergantung pada hasil rapat kenaikan kelas yang diadakan kemarin. Hari dimana dimulainya cerita kegagalanku sebagai wali kelas yang membina dan seorang guru yang mengajar dan mendidik.

Hari kamis merupakan acara darmawisata yang awalnya sempat diundur karena sekolah mengadakan PSB (Penerimaan Siswa Baru) untuk jalur BL (Bina Lingkungan) dan Gakin (Keluarga miskin) pada hari senin. Setelah mendengarkan saran Kepala Sekolah (Kepsek) yang meminta acara tersebut dipindah hari menjadi hari kamis. Akhirnya diputuskan bahwa acara darmawisata berubah hari menjadi hari kamis. Di hari selasa segala rencana persiapan dan pembagian tugas sudah fix termasuk urusan konsumsi dan transport. Acara darmawisata membentuk panitia kecil yang sudah berjalan sesuai dengan pembagian tugas masing – masing. Hanya saja untuk urusan konsumsi dan transport, siswa yang kebagian tugas ini melibatkan orang tua mereka. Pembayaran pun juga sudah diberikan.

Rabu, acara seminar nasional yang tidak mewajibkan para pendidik (guru) untuk bisa datang ke sekolah kembali bila acara selesai. Otomatis persiapan untuk pelaksanaan darmawisata hanya bisa mengharapkan dari panitia kecil yang terbentuk. Perjalanan menuju tempat seminar sekitar jam 8 pagi, diterima sms dari seorang guru yang tidak mengikuti seminar (berada di sekolah). Besok, kamis sekolah mengadakan rapat dinas kenaikan kelas yang dimulai pukul 8 pagi. Dengan pikiran kalut karena seharusnya konsen dengan acara seminar jadi terpecah dengan rencana darmawisata yang bertepatan juga dengan rencana rapat dinas. Pikiran yang terlintas yaitu meminta kembali persetujuan Kepsek dengan acara darmawisata besok. Setelah berkirim informasi lewat SMS dengan beberapa panitia yang masih berada di area sekolah, akhirnya ga juga bisa mendapatkan ijin dari seorang guru yang membuat acara rapat dadakan yang diselenggarakan besok. Akhirnya, karena berujung tidak mendapatkan informasi pasti dari panitia tadi, kuputuskan untuk menelpon Kepsek langsung. Dengan meminta ijin keluar ruangan untuk menelepon Kepsek, kucoba untuk terus menahan emosi. Kepastian keputusan dari Kepsek pun ga juga membuahkan kepuasan bagiku. Terkesan plin plan. Pada saat beliau memutuskan memindah hari darmawisata dari hari senin menjadi kamis dan juga dia membuat keputusan mengadakan rapat dinas diadakan hari kamis juga, apa beliau lupa dengan janji yang sudah dia sepakati bersama kami? Dalam hal ini, orang tua siswa sudah mengetahui kepastian keberangkatan darmawisata adalah besok, hari kamis dari surat keterangan yang kelas kami sudah buat bersama. Surat keterangan yang menitikberatkan tanggung jawab penuh pada wali kelas dan panitia kecil yang terbentuk karena acara diadakan di luar sekolah. Surat keterangan yang meminta tanda tangan orang tua siswa dan siswa itu sendiri sebagai persetujuan rencana darmawisata tersebut. Dan juga, untuk pemesanan konsumsi dan transport langsung melibatkan orang tua siswa langsung. Khususnya konsumsi, ga bisa begitu saja untuk membatalkannya. Panitia yang bertanggung jawab untuk urusan ini bahkan sudah belanja dan memasak. Masalah transport terkendala pada kesanggupan sopir bis yang melupakan permintaan kami untuk mengantar dan menjemput kami semua menuju tempat tujuan darmawisata. Akhir dari sehari penuh tanpa kepastian, selanjutnya tinggal diriku selaku wali kelas yang bersikap. Rencana tetap terlaksana karena melihat pemesanan cathering sebanyak 90 snack untuk sarapan pagi, 45 kotak untuk makan siang, dan kepastian mendapat akomodasi dengan menyewa 3 mobil carteran walau baru mendapatkannya seusai sholat maghrib sudah tidak bisa dibatalkan. Walau acara berlangsung dengan tidak bisa membawa serta guru – guru yang sudah terpilih sebagai pendamping di acara ini karena terkendala pada rapat dinas besok. Akhirnya bisa sedikit menghirup nafas lega, walau hati ga bisa tenang dan pikiran yang ga bisa diajak santai. Melihat ombak pantai yang sedang besar – besarnya, hanya bisa berharap semoga rencana ke pantai besok lancar. Dan anak – anak senang dengan keinginan pilihan mereka.

Kamis, the deadline. Berkumpul jam 8 di sekolah. Keterpaksaan membuatku meninggalkan rapat dinas di sekolah. Berbekal kepercayaan kepada salah seorang teman guru untuk bisa meng-handle kelasku. Dengan semua kendala yang kuhadapi hari itu benar – benar menguras otak dan emosi. Begitu banyak hal yang membuat emosiku terpancing. Mulai dari ulah beberapa siswa yang juga termasuk dalam panitia kecil, lambatnya laju taksi argo menuju tempat wisata, perasaan iri karena melihat teman (guru pendamping yang bersedia menemani) yang bisa dengan mesranya menikmati hari kebersamaan itu bersama calon pendamping hidupnya, keinginan beberapa siswa yang bermain di laut di tengah ombak yang begitu besar, dan akhirnya harus menelan kecewa karena dia yang kusayang ga bisa datang menjemput karena masih berkutik dengan kesibukan pekerjaannya. Padahal terbersit niatku untuk memperkenalkannya ke murid – muridku tersayang, salah satu kebanggaan yang kupunya.
Sepulang dari darmawisata, harus menerima kabar keputusan dari rapat dinas. Siswa – siswaku 7 orang dinyatakan tinggal kelas dan 14 naik bersyarat. Astaghfirullaahula’dziim… Parahnya lagi, aku sudah ga dipercaya untuk menjadi wali kelas. Dan teman guru yang kupercaya untuk bisa meng-handle kelasku ternyata lebih dulu mengundurkan diri dari rapat dinas tersebut dengan alasan ada kegiatan yang mengundang kehadiran dia untuk berceramah. Kuhibur diriku dengan hunting sunset di Melawai dengan ditemani dia yang kusayang. Ternyata matahari sore itu, mengetahui isi hati dan pikiranku. Langit memberikannya warna kelabu. Siluet jingganya tak mampu menandingi mendungnya angkasa. Sore itu hanya jeprat – jepret ga jelas sebagai upaya mengalihkan pikiran dari rasa penat dan lelah. Menghabiskan senja duduk berdua di tempat biasa kami mencari ketenangan dengan menatap hamparan air laut dan menikmati gemuruh deru anginnya.
Sesampai di rumah masih saja kucoba menghibur rasa lelahku. Memilih foto hasil jepretan acara darmawisata tadi siang untuk dipajang di pesbuk dan bisa dinikmati beberapa siswa yang ikut darmawisata tadi. Entah kenapa perasaanku sesak banget malam itu ditambah dengan SMS teman yang ikut rapat dinas tadi, ada kewajibanku sebagai wali kelas yang belum kulaksanakan, yaitu mengisi absensi dan kepribadian siswa yang akan disertakan pada penulisan raport. Dengan masih berpikir alasan apa yang bisa kuberikan ke Kepsek untuk ketidak hadiranku di rapat dinas pada hari itu.

Hari ini, dengan upaya beberapa malam untuk bisa tidur lelap. Sia – sia. Memastikan informasi atas ketak berhasilanku sebagai wali kelas karena memang aku ini “dudul”. Aku sudah gagal. Kuhadapi hariku hari ini di sekolah dengan kenyang oleh tatapan muka penuh ga senang atas ke”dudul”anku atau mungkin juga dengan semua yang ada padaku dan nada – nada sumbang dari beberapa pihak. Berusaha tetap memakai topeng cuek ala “All is well”. Upaya menjelaskan alasanku untuk ga bisa menghadiri acara rapat dinas terkalahkan dengan kehadiran tamu dari sekolah lain yang ingin menambah ilmu untuk belajar sama beliau (Kepsek). Akhirnya pulang dengan tangan hampa dan kecewa yang berlipat – lipat. Akhirnya kucoba untuk mengirim SMS ke beberapa siswa kelasku untuk meminta maaf karena sudah menjadi wali kelas yang gagal buat kesuksesan mereka:
Dengan berat hati sayang mengungkapkan rasa kecewa saya kepada siswa X-1. Kalian sudah menyalahgunakan kepercayaan saya lagi. Seharusnya acara kemarin tidak perlu dilaksanakan. Saya sudah mewanti – wanti untuk menyegerakan remidi. Ternyata ga ada laporannya sama sekali ke saya untuk pelaksanaan remidinya. Dan akhirnya saya pun juga harus kecewa dengan hasil rapat kemarin. Tapi selebihnya ini semua bukan kesalahan kalian. Tapi salah pada diri saya semua. Maaf, bila selama saya jadi wali kelas kalian, saya tidak / belum bisa memberikan yang terbaik buat kesuksesan kalian. Saya sudah gagal menjadi wali kelas kalian. Gagal membina dan mendidik kalian. Tapi jujur selama saya menjadi wali kelas, kalian adalah siswa – siswa terbaik yang pernah saya bina dan punya. Maafkan atas kegagalan saya ya nak. Maafkan ibu.. Dwi N.H”. Dan berbagai SMS balasan yang kuterima dari siswa – siswaku menanggapi SMS yang sudah kukirim ke HP mereka. Semakin terpukul dan akhirnya ga kuasa menahan air mata membayangkan senyum mereka yang hilang sebelum libur sekolah. Membayangkan banyaknya raut wajah kecewa, sedih dan rasa tak percaya yang terpancar dari wajah siswa – siswaku dan juga orang tua mereka. Kegagalan.
Merasa ga sanggup terus membayangkan rona sedih dan kecewa yang akan kuterima besok pada saat bagi rapot, kucoba sharing dengan dia yang kusayang. Karena rasanya sudah sangat penat beban batinku sampai saat ini. Alhamdulillaah dia punya waktu untukku hari ini. Kata – kata bijak sekaligus penguat di keterpurukanku hari ini benar – benar sangat kuperlukan. Dia yang kusayang berpendapat bahwa biar alam yang mengajarinya (belajar dari lingkungan). Kita bisa saja memaksa kuda, keledai, gajah ataupun kucing untuk ikut mendekati sumber mata air (menarik ataupun mendorong mereka), tapi kita ga akan bisa menyuruh mereka (memaksa) untuk meminum airnya. Atau kita bisa memaksa seseorang untuk berbuat baik ataupun buruk tapi tetap saja keputusan ada di tangan pribadi masing – masing. Semua sudah ada yang mengatur. Sukses, gagal atau apapun itu. Setiap orang sudah ada jatahnya masing – masing (takdir = jalan hidup). Every cloud has silver line. Sudah mulai tenang rasanya hati ini sampai pada akhirnya ternyata hari ini pula adalah hari dimana puncak kecewaku harus tertumpuk tinggi. Kudapati foto “dia yang tak ingin kusebut” terpajang berseri di pesbuk dia yang kusayang. Miris banget. Sakit, kecewa, sedih, kesal, dan benci terasa sesak memenuhi jiwa. Komplit teraduk menjadi satu adonan kegilaan dan rasa nyeri di kepala. Wanna scream out of loud. It’s not fair. It was hard and hurt day.
Dengan sisa tenaga yang kupunya, masih ada satu hal yang harus segera kulakukan yaitu rencana untuk ke rumah Kepsek seusai maghrib membicarakan alasan ketidak hadiran dalam rapat dinas kemarin dan juga maksud lainku yaitu mengusahakan siswa – siswaku yang ga naik kelas supaya ada kebijakan lain untuk bisa naik kelas. Tapi dari nada suara yang keluar dan kata – kata lugas beliau yang menyatakan tidak ingin diganggu dulu malam ini dan baru bisa mendengar alasanku adalah setelah acara pembagian rapot besok. Lengkaplah sudah rasa sedihku hari ini. The end.
Malam ini.. masih saja terpikirkan dengan apa yang sudah aku dapatkan dalam beberapa hari terakhir sampai sekarang. Melihat dengan apa yang tak inign kulihat. Terus terpikirkan dengan apa yang sudah kutemukan dan kulihat. Huuuft…


NB:
Apa benar “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”?
Jika memang benar semoga dari kegagalan itu kita semua mendapat sesuatu yang sangat berharga (pelajaran/ hikmah). Dan jangan pernah terperosok pada lubang yang sama. Mari belajar bersama dari kegagalan.

June 24, 2011 at 4:27 pm 2 comments

Penyesalan buat ortu yang zuper zibuk

Tuesday, May 17, 2011

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain di luar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan.
Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam…
” jawap pembantunya ringkas.”Kasih minum panadol ,” jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.

“Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah. “Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

“Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.

“Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

Apalah arti mobil mewah, apalah arti kekayaan yang berlimpah, apalah arti semuanya bila itu tidak bisa berbuat banyak untuk merupab sebuah penyesalan yang tidak bakal bisa dikembalikan lagi, nasi sudah jadi bubur, anak adalah titipan Tuhan pada kita, jagalah amanah Tuhan dengan bijak ikhlas dan penuh kesabaran, karena mereka adalah investasi Anda yang lebih berharga di masa depan.

“copy from http://blog-kongkow.blogspot.com/2011/05/renungan-bagi-para-orang-tua-yang-sibuk.html
NB:
Astaghfirullahul’adziim… Semoga kisah ini bisa memberikan pelajaran bagi kita semua dan juga semoga kejadian ini tidak terjadi pada orang2 yang kita cintai.. Amiin yaa Rabb
Betapa penyesalan selalu datang terlambat. Berpikirlah berulang kali sebelum berbuat. Belajar berpikir untuk orang yang kita sayangi yuukk… ^_^

May 21, 2011 at 12:02 am Leave a comment

Indah bila bersamanya


Melangkah bersama menuju tepi pantai
Tempat singgah hati di kala rindu menjamah
Berteduh di bawah atap malam yang sama
Mengisahkan harapan cinta yang sama
Bercanda mesra bersama
Menyelami sebuah arti kebersamaan kembali
Merajut indah cerita cinta lagi
Menguak setiap kenangan yang terjalin dalam memori

Senandung lembut nyanyian laut
Riuh gelora ombak menghempas daratan
Lirih angin berbisik mempermainkan ujung kerudung
Gemerlap kilau cahaya kecil di kejauhan garis pantai menyoraki malam
Langit kelam bertabur bintang walau tanpa hadirnya bulan
Kelam malam yang terbayar lunas oleh gembira jiwa

Berdampingan menikmati sajian malam
Riang kaki memainkan pasir putih
Sesaat terpaku oleh elok rupa pujaan hatiku
Perasaan kagum dengan apapun yang ada pada dirinya
Ketenangan jiwa yang selalu hadir saat bersamanya
Mencuri pandang setiap gerakan walau lebih sering ketahuan
Semburat merah merona di pipi.
Sebongkah rasa bahagia hangat menyelimuti diri.
Seraya mengucap syukur kepada Dia wahai pemilik semua jiwa
Untuk segala anugerah terindah perlipur lara
Walau bahagia sering terengkuh nestapa
Bersama dirinya, kekuatan dalam diri muncul dengan sendirinya
Semoga indahnya cerita berwujud kekal selamanya
Amin yaa Rabb

~May, 3rd 2011~
NB: Remember of the incident on December, 29th 2010 in Segara Sari beach

May 4, 2011 at 2:17 pm Leave a comment

Pagiku


Lentera sang fajar siap mengawali hari
Kulangkahkan kaki bersenandung sepi menyambut datangnya
Menapaki liku jalan menuju taman jiwa
Udara dinginnya menyapu wajah menyesakkan dada
Harap embunnya menyejukkan lara hati
Jengah dengan semua realita
Galau oleh sebuah suasana
Resah oleh sebentuk rasa
Rindu yang kian mendera
Asa yang merayu sukma
Deraian kristal pun tak mampu terus bertahan
Pekikan kecil meredam asa
Khayal mimpi berbuah indah nyata
Menatap indah pemilik hati untuk selamanya

Indah pagi menggelar tirai kelabunya
Pelita sang bintang kejora sirna
Semburat kilau emasnya tak mampu bersaing dengan kelam
Sinarnya luput oleh pekat mendung
Sapaan ricuh guruh menguasai langit
Perlahan bulir kehidupan bergegas turun
Membasahi permukaan bumi dengan sentuhannya
Melelapkan insan yang masih berselimut mimpi
Melanjutkan mimpi meraih sanubari

~April, 25th 2011~

April 24, 2011 at 11:59 am Leave a comment

Older Posts



More clock widgets here

December 2016
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Recent Posts