Cukup untuk cerita hari ini

April 16, 2011 at 2:34 pm Leave a comment


Seharian berada dalam ruangan sambil melanjutkan kemalasan diri menyambut datangnya Ujian Akhir Semester untuk studi yang kutempuh sungguh sangat membosankan. Ketiadaan cemilan dan juga keterbatasan air pelepas dahaga. Membaca atau lebih tepatnya melihat secara kilat slide demi slide presentasi yang diberi oleh dosen pengampu mata kuliah yang di ujikan esok. Hening.. Sesekali terdengar raungan kendaran yang melintas dan bisik obrolan memecah kesepian. Mendengarkan lagu terputar otomatis dalam laptop superku. Kalah saing dengan volume TV yang meliput segala hal tentang Briptu Norman Kamaru yang melegenda sepanjang hari. Seperti tak ada habisnya saja untuk terus membebaninya dengan tugas – tugas yang terus membanjir. Menonton acara anak – anak untuk sedikit melonggarkan tegang pada saraf. Tontonan lainnya seperti film detektif perempuan dari NYPD yang mengusut sebuah kasus pembunuhan bersama asistennya Castle. Kebiasaan menonton yang buruk karena mengusir bosan oleh iklan – iklan adalah selalu mengganti saluran dan mencari acara yang lebih menarik lagi. Huuft… Berdiam diri malah membuat jengah dan masih saja suntuk. Di saat iklan masih terputar, melenggang ke sana ke mari sampai berhenti pada cermin besar pada meja. Menatap bayang diri yang terpantul pada cermin, memandanginya dan terlintas kalimat narsis dengan masih sedikit malu – malu “Cukup cantik kok, kenapa harus minder sih?”. Alhamdulillah punya bentuk fisik yang masih sedap dipandang mata. Mengagumi diri sendiri itu terkadang memang sangat diperlukan pada saat kepercayaan akan diri sendiri lagi merosot turun. Tapi yang kulakukan sekarang, ga ada sangkut pautnya dengan rasa PD-ku yang mendadak anjlok karena akan menghabiskan waktu bersama dengan dia yang tersayang. Membuat sebuah cerita lagi untuk hari ini. Masih saja dengan acara melepas rindu.

Cahaya jingga kemerahan sudah nyaris berada di ufuk barat. Melakukan ritual pelepasan. Mencium lembut punggung tangannya dan mengucapkan kalimat pesan yang sama. Menatap kepergiannya yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dari jangkauan mata. Perasaan rindu sudah menjalar di tubuh kembali. Sampai kapan perasaan ini akan menghilang? Saat bertemu sangatlah biasa, tapi pada saat kehadirannya tak nampak keinginan untuk ingin terus bersamanya sangat menyiksa diri. Baru saja bertemu dan menghabiskan waktu bersama yang cukup panjang, kemudian baru sekejap mata dia pamit untuk pulang. Sungguh perasaan yang tak bisa kutebak dengan apapun. Sambil menysuri jalan kecil menuju rumah, aku masih saja mengutuk diri sendiri untuk menahan segala perasaan untuk dia yang tersayang dulu. Mengkonsentrasikan pada hal lain yang lebih mendesak.

Melewati malam dengan terus memfokuskan setiap pikiran pada slide – slide mata kuliah. Masih juga tak mampu berkonsentrasi. Memeluk mimi yang sudah kucel tak berbentuk, sambil terus mengoceh tak karuan (curhat). Boneka kucing pemberian dia yang tersayang sudah lama jadi teman curhat untuk segala hal tentang aku dan dia yang tersayang sejak berpindah tangan dari pemilik toko ke aku. Sesekali menanyakan kabarnya. Dan sekali dia membalas dan mengabarkan bahwa dia baru saja membeli sebuah gitar dan berniat untuk nyiptakan lagu. Lagu…. Teringat beberapa lagu yang dulu pernah dia nyanyikan untukku lewat obrolan panjang di telpon dahulu. Sudah cukup lama sekali ternyata..

Menderita lahir batin menahan rindu yang tak bersambut. Mengalihkan segenap perasaan kangen dan menumpahkannya lewat sebuah tulisan yang lagi – lagi menceritakan tentang dia yang tersayang. Sampai tak sanggup berpikir lagi, kuhentikan semuanya. Akhirnya ku putuskan untuk pergi tidur saja. Melepaskan lelah batin, jiwa dan hati. Ritual sebelum tidur pun dilaksanakan. Merebahkan diri pada dekapan lembut bantal dan guling ditemani oleh mimi menyambut pergantian hari.

Kesibukan pagi mulai menggiring penduduk seisi rumah. Setelah selesai dengan acara rutinku di akhir pekan yaitu mencuci baju, kembali ku membuka slide – slide yang sudah membuatku nyaris gila. Memindahkan perhatian dari slide ke tulisan yang sudah kurancang semalam tanpa sempat merampungkannya. Selesai. Sampai lupa akan sarapan pagi dan menggantinya dengan sarapan siang yang kulahap sebelum pergi ke tempat ujian. Ujian berlangsung dengan sangat santai, ternyata. Hufft.. Sia – sia perjuangan perutku menahan segala nervous karena ujian pagi tadi.

Selesai ujian masih mengharap bertemu dengan dia yang tersayang di sela padatnya kesibukan yang harus terlaksana sesuai jadwal. Seminggu penuh.. Huufft.. Apa aku bisa menahan perasaan rindu ini selama itu? Yang ada hanya keluhan yang selalu ditujukan ke dia yang tersayang, runtutan hangatnya air mata yang terjatuh, tulisan yang masih saja tentangnya dan juga alternatif akhir yaitu obat perileks saraf. Mengapa perasaan untuk dia yang tersayang ini sangat berlebih kurasakan, tanpa sanggup ku mengontrolnya? Mungkin pikirnya, aku bersikap sangat berlebihan dengan perasaan yang kurasa terhadapnya. Bilakah dia mengerti dengan semua yang telah terjadi dan kurasa, tentang hasrat tak tertahan untuk mendapatkan dirinya? Semoga dia mengerti.. Dan akan selalu mengerti.

~April, 15th – 16th 2011~

Entry filed under: TENTANG HIDUP. Tags: .

Bayangmu Yaa.. Anggap saja sudah diambil pemiliknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



More clock widgets here

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: