ABILITY GROUPING (tugas makul “orientasi baru dalam psikologi”)

March 11, 2011 at 12:27 pm Leave a comment

ABILITY GROUPING

A. Latar Belakang
Demi mengejar target nilai perolehan UAS/UASBN, tidak sedikit sekolah yang menerapkan metode ‘one-shot and quick-fix’ proses sekali jadi dan bagus hasilnya. Untuk di sekolah dasar, metode ini diterapkan di kelas enam dengan asumsi bahwa siswa kelas enam adalah siswa yang diharapkan dapat mengangkat prestasi dan prestise sekolah. Prestasi berarti tercapainya nilai-nilai akademik mata pelajaran-mata pelajaran khususnya yang di-UASBN-kan, sedangkan prestise dalam kaitannya dengan mengangkat nama baik sekolah dan nilai jual sekolah. Kebijakan sekolah dengan metode seperti ini tidak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 yang menerangkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendaliaan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Di samping itu, metode ‘one-shot and quick-fix’ tidak lagi seusai dengan karakter pembeajaran yang diharapkan mampu mengubah perilaku dan pendewasaan siswa melainkan sudah mengarah pada ‘penjejalan materi’ yang bagi siswa menjadi dogma yang harus diikuti. Siswa hanya ‘di-drill’ dengan pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan langsung dengan materi-materi ujian. Interaksi antara guru dengan siswa terbatas pada pemecahan soal-soal ujian. Siswa dianggap sebagai ‘robot’ yang dapat diprogram sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh guru.
Proses belajar-mengajar berlangsung sangat kaku dan kurang manusiawi. Siswa dianggap sebagai ‘botol’ yang harus terus diisi dengan pengetahuan. Siswa dianggap berhasil jika materi-materi ujian itu cepat dikuasai. Sebaliknya, siswa dianggap gagal jika belum menguasai materi yang diberikan guru. Salah satu bentuk metode ‘one-shot and quick-fix’ adalah pemisahan siswa berdasarkan kemampuan akademisnya yang lebih dikenal dengan istilah ‘ability grouping’.
Dalam novelnya Brave New World yang ditulis pada 1931, Aldous Huxley bercerita mengenai rekayasa genetika di masa depan untuk mengelompokkan anak manusia berdasarkan tingkat kecerdasan menjadi lima jenis mulai dari Alfa Plus, Beta sampai dengan Epsilon. Dengan kecerdasan dan kemampuan super, manusia jenis Alfa Plus menempati posisi penting dalam masyarakat dan mendapatkan berbagai privilese. Sebaliknya, manusia Epsilon bertubuh kerdil dan bodoh sehingga mereka harus puas bisa bekerja sebagai penjaga lift atau tangga berjalan. Setiap manusia merasa puas dengan kemampuan dan peran masing-masing dalam masyarakat karena memang sudah dikondisikan demikian sejak proses penciptaan di laboratorium. Proses pembelajaran dan kondisi emosional anak dikontrol melalui mesin dan obat-obatan. Alhasil, masyarakat di dunia baru ini memang nampak teratur. Tidak ada kekacauan, kejahatan, atau bahkan protes.
Rencana pemerintah untuk membagi anak di sekolah dalam dua jalur pendidikan formal (standar dan mandiri) sudah memancing respon dari kalangan pendidik (Kompas, 7 April 2005 dan 13 April 2005). Pengelompokan anak berdasarkan kemampuan akademis dan finansial ini akan membawa dampak sangat serius bagi proses pendidikan anak-anak bangsa dan perubahan dalam masyarakat.
Pemisahan anak berdasarkan kemampuan akademis dan kecerdasan memang tidak bisa dihindari sama sekali. Dalam era komersialisasi sekolah saat ini, fenomena segregasi yang nampak pada munculnya sekolah-sekolah “unggulan” dan “buangan” makin kentara seiring dengan segregasi pemukiman berdasarkan kelas sosio-ekonomi dan persaingan antar siswa maupun antar sekolah. Namun, fakta ini tidak berarti rencana pemerintah untuk melegalkan pembagian jalur pendidikan formal bisa dibenarkan begitu saja. Di balik beberapa keuntungan yang mungkin bisa didapatkan dari kebijakan ini, pembagian jalur pendidikan formal akan mengarah pada proses dehumanisasi anak manusia seperti yang terjadi pada masyarakat dystopia di Brave New World.
Pengelompokan atau lazim dikenal dengan grouping didasarkan atas pandangan bahwa disamping peserta didik tersebut mempunyai kesamaan, juga mempunyai perbedaan. Kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran penempatan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda.
Jika perbedaan antara peserta didik satu dengan yang lain dicermati lebih mendalam, akan didapati perbedaan antara individu dan perbedaan intra individu. Yang pertama berkenaan dengan berbedanya peserta didik satu dengan yang lain dalam kelas, dan yang kedua berkenaan dengan berbedanya kemampuan masing-masing peserta didik dalam berbagai mata pelajaran atau bidang studi.
Perbedaan antar peserta didik dan intra peserta didik ini mengharuskan layanan pendidikan yang berbeda terhadap mereka. Oleh karena layanan yang berbeda secara individual demikian dianggap kurang efisien, maka dilakukan pengelompokan berdasarkan persamaan dan perbedaan peserta didik, agar kekurangan pada pengajaran secara klasikal dapat dikurangi. Dengan perkataan lain, pengelompokan adalah konvergensi dari pengajaran sistem klasikal dan sistem individual.
Alasan pengelompokan peserta didik juga didasarkan atas realitas bahwa peserta didik secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lain berbeda. Agar perkembangan peserta didik yang cepat tidak mengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukanlah pengelompokan peserta didik . Tidak jarang dalam pengajaran yang menggunakan sistem klasikal, peserta didik yang lambat, tidak akan dapat mengejar peserta didik yang cepat.

B. Pengertian Pengelompokkan (Grouping)
Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi yang sama ini bisa memudahkan pemberian layanan yang sama. Oleh kerena itu, pengelompokan (grouping) ini lazim dengan istilah pengklasifikasian (clasification).
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pengelompokan bukan dimaksudkan untuk mengkotak-kotakkan peserta didik, melainkan justru bermaksud membantu mereka agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Jika maksud pengelompokan demikian malah tidak tercapai, maka peserta didik justru tidak perlu dikelompokan atau digolong-golongkan.
Dengan adanya pengelompokan peserta didik juga akan mudah dikenali. Sebab, tidak jarang, peserta didik di dalam kelas, berada dalam keadaan heterogen dan bukannya homogen. Tentu, heterogenitas demikian, seberapa dapat diketahui tingkatannya sangat bergantung kemampuan diskriminan alat ukur yang digunakan untuk membedakan. Semakin tinggi tingkat kemampun membedakan alat ukur yang dipergunakan, semakin tinggi pula tingkat heterogenitas peserta didik yang ada di sekolah.
Adapun alat ukur yang lazim dipergunakan untuk membedakan peserta didik antara lain adalah tes. Dalam hal ini, banyak tes yang dapat dipergunakan untuk membedakan peserta didik. Tes kemampuan umum seperti tes kemampuan verbal dan numerikal, dapat dipergunakan untuk membedakan kemapuan umum peserta didik. Tes keklerekan dapat dipergunakan untuk membedakan kecepatan kerja dan kecermatan kerja peserta didik. Tes minat dapat dipergunakan untuk membedakan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Tes prestasi belajar dapat dipergunakan untuk membedakan daya serap masing-masing peserta didik terhadap bahan ajaran yang telah disampaikan kepada peserta didik. Tes kepribadian dipergunakan untuk membedakan integritas dan kepribadian peserta didik. Dan, masih banyak lagi jenis-jenis tes lain yang dapat membedakan kemampuan peserta didik.

C. Pengelompokan Akademis
Kebijakan dan praktek pengelompokan anak berdasarkan kemampuan akademis (ability grouping) baik di dalam kelas, sekolah, maupun antar sekolah merupakan salah satu topik penelitian dan perbincangan yang kontroversial di kalangan para pendidik. Pencarian di mesin pencari Google dengan kata kunci ability grouping menghasilkan hampir dua juta artikel dan situs. Para pendidik yang mendukung praktek ini menyebutkan kemudahan bagi para pengajar untuk mefokuskan pengajaran pada satu tingkatan kemampuan siswa dan menyesuaikan kecepatan pengajaran dengan kebutuhan kelompok yang homogen. Selain itu, anak-anak “pandai” seharusnya diberikan tantangan lebih dan kesempatan untuk maju lebih cepat dari rekan-rekannya yang kurang pandai.
Kebanyakan artikel dan penelitian justru mengkritisi praktek pembagian siswa berdasarkan kemampuan akademis dengan beberapa alasan. Pertama, kriteria yang biasanya digunakan untuk membagi siswa seringkali merupakan persepsi subyektif dan pemahaman yang sempit mengenai konsep kecerdasan anak. Kedua, pengelompokan akan menimbulkan pelabelan anak (pintar, bodoh, cepat, lamban) dan kerancuan antara konsep kecepatan belajar dengan kapasitas belajar. Ketiga, penempatan anak pada kelompok atau jalur yang berbeda akan mengarah pada harapan, target, dan ekspektasi yang berbeda pula terhadap anak padahal ada penelitian yang mendukung bahwa motivasi dan hasil belajar anak terkait secara positif dengan ekspektasi guru dan mitra belajarnya. Sekali anak dimasukkan dalam satu kelompok tertentu, kemungkinan sangat besar anak tersebut akan tetap tinggal di kelompok itu sampai akhir masa sekolahnya. Vonis mengenai kemampuan anak pada masa pendidikan sama dengan ramalan yang akan menjadi kenyataan. Bahkan selepas dari masa sekolah, label ini akan terus melekat dalam diri anak. Di Harvard Educational Review (1996), Welner dan Oakes. mendesak agar pengadilan turun tangan dan melarang pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademis.
Mengajar di kelas yang berisi anak-anak dengan tingkat dan jenis kemampuan yang berbeda memang tidak mudah bagi guru. Metode pengajaran satu arah (ceramah, misalnya) tidak akan efektif. Tapi justru inilah tantangan bagi guru dalam proses pengembangan profesionalisme mereka untuk meningkatkan pendekatan dan metodologi pengajaran. Juga tantangan bagi birokrasi pendidikan untuk menfasilitasi guru dalam pengembangan profesionalisme mereka.
Pada sisi yang lain, tantangan lebih yang diberikan kepada anak-anak “pandai” seharusnya tidak hanya berupa materi lebih sulit yang akan memacu perkembangan kognisi mereka semata. Anak-anak yang dimasukkan dalam kategori “pandai” seharusnya juga diberi kesempatan untuk mengembangkan afeksi, kesabaran, dan kedewasaan emosional untuk bisa belajar bersama dengan anak-anak dengan kapasitas dan kecepatan belajar yang berbeda.

D. Pengelompokan Sosio-Ekonomis
Pembagian jalur juga akan dilakukan berdasarkan kemampuan finansial anak. Dampak yang akan timbul dari kebijakan ini amat serius dan membawa berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang homogen. Anak-anak dari keluarga mampu akan berinteraksi dengan anak-anak lain yang setara secara sosio-ekonomis dan demikian pula dengan anak-anak miskin. Padahal seharusnya anak-anak dari berbagai latar belakang sosio-ekonomis bisa saling berinteraksi dan memperkaya dengan pengalaman hidup mereka masing-masing. Sempitnya lingkungan belajar selama masa sekolah akan membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan empati dan solidaritas terhadap orang lain yang berbeda. Anak perlu belajar mengembangkan kemauan dan kemampuan untuk mengenal dan menghargai manusia lain sebagai seorang individu yang utuh dan bukannya sebagai anggota suatu kelompok yang asing dan mengancam.
Realita di masyarakat saat ini, terutama di kota-kota besar, memang sudah menunjukkan pemisahan warga masyarakat berdasarkan kelas seperti yang terlihat di lingkungan pemukiman, pusat perbelanjaan, sekolah, tempat rekreasi, dan bahkan tempat ibadah. Yang seharusnya dilakukan oleh para pembuat kebijakan pendidikan adalah mendesain model pendidikan yang bisa menyiapkan anak-anak agar nantinya mereka bisa menjadi agen perubahan dan mendobrak berbagai sekat dalam masyarakat.
Jika pembagian jalur pendidikan formal standar dan mandiri ditujukan untuk memudahkan alokasi beasiswa bagi siswa-siswa miskin, solusi tambal sulam ini sangat tidak bertanggung jawab. Berbagai kebocoran dan penyelewengan dana subsidi pendidikan di berbagai tempat seharusnya ditindak-lanjuti dengan upaya penegakan hukum yang tegas, bukannya dengan kebijakan yang akan menimbulkan dampak sangat destruktif dalam proses pendidikan anak. Demikian juga dengan ketidak-mampuan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun bagi semua anak Indonesia seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU 20/2003.
Di balik segala keteraturan dalam masyarakat Brave New World seperti yang dijanjikan dalam jargon mereka Komunitas, Identitas, dan Stabilitas, ada proses dehumanisasi manusia. Pembagian anak ke dalam jalur pendidikan formal standar atau mandiri di Indonesia juga akan menghasilkan komunitas anak bangsa yang tersekat-sekat, identitas sebagai hasil dari proses yang diskriminatif, dan stabilitas yang hanya menguntungkan penguasa. Di balik segala tatanan yang nampaknya teratur itu muncul suatu kegamangan karena segala upaya pengelompokan dan pengkondisian manusia sesuai label yang diciptakan penguasa telah mencerabut kebebasan manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan mencapai yang terbaik yang dia bisa.
Jangan sampai kecenderungan penguasa untuk melenyapkan segala sesuatu yang tidak menyenangkan mengacaukan dunia pendidikan. Setelah rumah-rumah kumuh dan para PKL digusur dan dihilangkan dari pandangan, akan dibawa kemanakah anak-anak “miskin dan bodoh”? Tidak ada jalan pintas atau solusi tambal sulam yang akan membawa dampak efektif dalam proses pendidikan anak. Untuk mengatasi berbagai kerumitan dalam sistem pendidikan nasional, air mata juga dibutuhkan. Seperti kata Shakespeare dalam Othello, “If after every tempest came such calms, may the winds blow till they wakened death” (Jika setiap badai berakhir dengan kedamaian, semoga angin bertiup sampai membangunkan kematian).

E. Jenis – jenis Pengelompokkan Peserta Didik
Ada banyak jenis pengelompokan peserta didik yang dikemukakan oleh para ahli. Mitchun (1960) mengemukakan dua jenis pengelompokan peserta didik. Yang pertama, ia namai dengan ability grouping, sedangkan yang kedua ia namai dengan sub-grouping with in the class. Yang dimaksud ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan di dalam setting sekolah. Sedangkan sub- grouping with in the class adalah pengelompokan dalam setting kelas.
Pengelompokan yang didasarkan atas kemapuan adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik yang pandai dikumpulkan dengan yang pandai, yang kurang pandai dikumpulkan dengan yang kurang pandai. Sementara pengelompokan dalam setting kelas adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik pada masing-masing kelas, dibagi lagi menjadi beberpa kelompok kecil. Pengelompokan ini juga memberi kesempatan kepada masing-masing individu untuk masuk ke dalam lebih dari satu kelompok.
Adapun kelompok-kelompok kecil pada masing-masing kelas demikian dapat dibentuk berdasarkan karakteristik individu. Ada beberapa macam kelompok kecil di dalam kelas ini, yaitu: interest grouping, special-need grouping, team grouping, tutorial grouping, research grouping, full-class grouping, combined- class grouping.
1. Pengelompokan Berdasarkan Minat (Interest Grouping)
Yang dimaksud dengan interest grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas minat peserta didik. Peserta didik yang berminat pada pokok bahasan tertentu, pada kegiatan tertentu, pada topik tertentu atau tema tertentu, membentuk ke dalam suatu kelompok.
2. Pengelompokan Berdasarkan Kebutuhan Khusus (Special Need Grouping)
Yang dimaksud dengan special need grouping, adalah pengelompokan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik. Peserta didik yang sebenarnya sudah tergabung dalam kelompok-kelompok, dapat membentuk kelompok baru untuk belajar ketrampilan khusus.
3. Pengelompokan Beregu (Team Grouping)
Yang dimaksdud dengan team grouping adalah suatu kelompok yang terbentuk karena dua atau lebih peserta didik ingin bekerja dan belajar secara bersama memecahkan masalah-masalah khusus.
4. Pengelompokan Tutorial (Tutorial Grouping)
Yang dimaksud dengan tutorial grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik bersama-sama dengan guru merencanakan kegiatan-kegiatan kelompoknya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh kelompok bersama dengan guru tersebut, telah disepakati terebih dahulu. Antara kelompok satu dengan yang lain, bisa berbeda kegiatannya, karena mereka sama-sama mempunyai otonomi untuk menentukan kelompoknya masing-masing.
5. Pengelompokan Penelitian (Research Grouping)
Yang dimaksud dengan research grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih peserta didik menggarap suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas. Bagaimana cara penggarapan, penyajian serta sistem kerja yang dipergunakan bergantung kepada kesepakatan anggota kelompok.
6. Pengelompokan Kelas Utuh (Full-Class Grouping)
Yang dimaksud dengan ful-class grouping adalah suatu pengelompokan di mana peserta didik secara bersama-sama mempelajari dan mendapatkan pengalaman di bidang seni. Misalnya saja kelompok yang berlatih drama, musik, tari dan sebagainya.
7. Pengelompokan Kombinasi (Combined Class Grouping)
Yang dimaksud dengan combined class grouping adalah suatu pengelompokan di mana dua atau lebih kelas yang dikumpulkan dalam suatu ruangan untuk bersama-sama menyaksikan pemutaran film, slide, TV dan media audio visual lainnya.

Menurut Regan (1996), ada 7 macam pengelompokan atau grouping. Pengelompokan yang dikemukakan oleh Regan tersebut didasarkan atas realitas pendidikan di sekolah dasar. Ketujuh pengelompokan tersebut adalah: the non grade elementary school, multi grade and multi age grouping, the dual progress plan, self-contained classroom, team teaching, departementalisasi dan ability grouping.
1. SD Tanpa Tingkat (The Non Grade Elementary School)
Yang dimaksud dengan the non grade elementary school adalah sekolah dasar tanpa tingkat. Sekolah dasar tanpa tingkat ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengambil mata pelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing individu peserta didiknya. Bahkan peserta didik dapat mengambil mata pelajaran yang mungkin sama dengan mereka yang angkatan masuknya tidak sama.
Pada sistem demikian, tidak ada peserta didik yang dinyatakan naik tingkat dan peserta didik yang tidak naik tingkat. Sebab, tingkat itu sendiri, dalam sistem yang demikian tidak dikenal. Adanya kelas, tidak menunjukkan tingkatannya, melainkan lebih dipandang sebagai kode atau ruang kelas.
Sistem sekolah dasar tanpa tingkat ini, menggunakan sistem pengajaran secara kelompok, di mana seorang guru melayani kelompok-kelompok yang anggota kelompok tersebut mempunyai kemajuan, keinginan dan kebutuhan yang sama. Mereka mempunyai kesamaan demikian, tidak saja yang berada satu angktan melainkan dapat juga dari angkatan tahun yang berbeda-beda.
Adapun keuntungan sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
(a) Secara psikologis, kebutuhan peserta didik terpenuhi, karena tidak pernah dipaksa untuk melaksanakan sesuatu ang dia sendiri tidak bisa, tidak suka dan tidak mampu.
(b) Peserta didik tidak bosan, oleh karena pengajaran yang diberikan diesuikan dengan minat dan kemampuannya.
(c) Peserta didik akan dapat dibantu sesuai dengan tingkat dan keceptan perkembangannya.
(d) Peserta didik akan puas, oleh karena apa yang ia dapatkan sesui benar dengan yang mereka inginkan.
(e) Terdapat kerja sama yang baik antara peserta didik dengan gurunya, karena di antara mereka tidak terjadi perbedaan interpretasi (mis-intepretation).
(f) Peserta didik akan merasa mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik.

Di samping ada kelebihan-kelebihan pengelompokan jenis ini, ada juga kekurangan-kekurangannya, yaitu:
(a) Sangat sulit pengadministrasiannya, karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda.
(b) Menyulitkan mutasi peserta didik ke sekolah lain, terutama jika peserta didik harus pindah ke sekolah lain yang menggunakan sisitem tingkat. Tidak hanya itu, peserta didik juga akan sulit mutasi jika di sekolah lain tersebut, jenis pengelompokannya tidak sama dengan sekolah asal.
(c) Tidak efisien, karena membutuhkan biaya, tenaga dan ruang kelas yang banyak. Tenaga yang tersedia didasarkan atas jumlah kelas atau tingkat yang ada, melainkan berdasarkan banyaknya kelompok yang relatif lebih banyak jumlahnya.
(d) Membutuhkan guru yang tinggi tingkatan komitmen dan tingkat kecermatannya, sebab hanya demikian akan dapat mengetahui karakteristik peserta didik secara individual.
(e) Karena segalanya banyak bergantung kepada peserta didik, maka sulit mengharapkan tercapainya kompetensi yang diharapkan. Sebab, kompetensi haruslah dirancang berdasarkan seperangkat pengalaman belajar tertentu.

2. Pengelompokan Kelas Rangkap (Multigrade and Multi-Age Grouping)
Yang dimaksud dengan multigrade and multi- age grouping adalah pengelompokan yang multi tingkat dan multi usia. Pengelompokan demikian dapat terjadi pada sekolah-sekolah yang menggunakan sistem tingkat. Pada pengelompokan demikian, peserta didik berbeda usianya, dikelompokkan dalam tempat yang sama. Mereka berinteraksi dan belajar bersama-sama.
Adapun keuntungan pada sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
(a) Mendorong cepatnya sosialisasi peserta didik dengan lingkungan sebayanya.
(b) Peserta didik yang berada pada tingkat-tingkat awal dan yang relatif lebih sedikit usianya akan dapat belajar banyak kepada peserta didik yang lebih tinggi tingkatannya, dan lebih tua usianya.
(c) Peserta didik yang usianya lebih muda dan lebih rendah tingktannya, jika mempunyai kemampuan yang tinggi akan semakin mempunyai kepercayaan diri.
(d) Heterogenitas peserta didik dalam pengelompokan demikian, akan mendorong kuatnya kompetisi mereka. Hal demikian akan sangat menguntungkan bagi pemacuan prestasi.

Sedangkan kekurangan sistem pengelompokan demikian adalah sebagai berikut:
(a) Peserta didik yang lebih rendah tingkatannya, dan yang lebih rendah tingkatan usianya, akan merasa dipaksakan menyesuaikan diri dengan peserta didik yang lebih tinggi usia dan tingkatannya. Hal demikian bisa kurang menguntungkan, lebih-lebih jika mereka mempunyai kemampuan rendah. Pemaksaan demikian, tidak jarang menjadikan peserta didik yang tertinggal akan kian frustasi.
(b) Peserta didik yang lebih tinggi usianya dan lebih tinggi tingkatannya, akan menjadi malas jika mendapati bahwa anggota kelompok lain yang berasal dari usia dan tingkat yang lebih rendah ternyata tidak dapat berbuat banyak untuk kelompoknya. Sebaliknya, jika ternyata lebih tinggi kemampuannya, akan merasa dirinantersaingi dan bisa menjatuhkan privacy-nya.

3. Pengelompokan Kemajuan Rangkap (The Dual Progress Plan Grouping)
Yang dimaksud dengan the duel progress plan grouping adalah sistem pengelompokan kemajuan rangkap. Sistem pengelompokan demikian dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan kemampuan individual di setiap umur dan setiap tingkat. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas-tugas guru sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Dengan sendirinya, sistem pengelompokan demikian, sebanyak ragam dan heterogenitas peserta didik di sekolah tersebut. Semakin heterogen kelompok semakin banyak; sebaliknya semakin homogen semakin sedikit. Homogenitas dan heterogenitas demikian lebih diaksuentasikan kepada bakat peserta didik. Dengan demikian, layanan yang diberikan oleh guru lebih banyak diaksuentasikan kepada bakat khusus yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.
Keuntungan sistem pengelompokan kemajuan rangkap demikian ini adalah sebagai berikut:
(a) Guru lebih banyak mengenal peserta didiknya, oleh karena layanan yang diberikan bersifat individual.
(b) Layanan yang diberikan oleh guru benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan, karena lebih diarahkan pada pelayanan bakat khusus peserta didik.
(c) Peserta didik semakin mengenal lebih dekat mengenai gurunya. Hal demikian sangat bermanfaat terutama dalam hal memahami watak, kepribadian dan cara mengajarnya.
(d) Peserta didik yang tampak menonjol bakat khususnya akan cepat maju oleh karena secepat mungkin mendapatkan layanan dari gurunya. Kecepatan untuk maju ini juga didukung oleh layanan pembinaan yang terarah dari gurunya terhadap bakat khusus yang tampak menonjol tersebut.

Sementara itu, kekurangan sistem pengelompokan kemajuan rangkap adalah sebagai berikut:
(a) Layanan yang diberikan oleh guru kepada seluruh peserta didik menjadi terbatas. Disamping disebabkan oleh jumlah kelompok yang sangat banyak, waktu guru yang terbatas banyak dihabiskan untuk menyusun strategi penyampaian kepada masing-masing kelompok yang beraneka tuntutan dan kebutuhan.
(b) Peserta didik sedikit kemungkinannya untuk maju secara kontinyu oleh karena peserta didik tidak memenuhi standar untuk naik tingkat harus mengulangi tugas-tugas guru sejak awal di tingkatnya.

4. Penempatan Sekelompok Siswa pada Seorang Guru (Self-contained Classroom)
Yang dimaksud dengan self-contained classroom adalah penempatan sekelompok peserta didik pada seorang guru sementara itu, sekelompok peserta didik yang lainnya ditempatkan pada guru lainnya.
Beberapa keuntungan self-contained classroom adalah:
(a) Guru akan mengenal peserta didik lebih mendalam, oleh karena lebih banak bertanggungjawab terhadap kelompok peserta didik yang diajar.
(b) Peserta didik akan lebih leluasa berpartisipasi dalam kelompoknya.
(c) Waktu yang dipergunakan pengajaran relatif lebih fleksibel.
(d) Guru akan banyak membantu terhadap kelompok yang menjadi tanggung jawabnya.
(e) Memungkinkan kompetisi yang sehat antara kelompok satu dengan kelompok lain, hal ini akan memacu kemajuan kelompok.

Sedangkan kekurangannya adalah:
(a) Peserta didik hanya mendapatkan pengalaman dari seorang guru. Pada hal, pengalaman dari banyak guru sangat penting bagi mereka. Peserta didik sesungguhnya sangat membutuhkan pengalaman dari banyak guru.
(b) Pengelompokan ini, mengharuskan guru menguasai banyak bidang secara general. Pada hal, penguasaan yang luas menyangkut banyak bidang, menjadikannya tidak mendalam terhadap yang ia kuasai. Bagaimanapun, kemampuan guru terbatas.
(c) Oleh karena guru lebih banak berkelompok dengan peserta didiknya yang menjadi kelompoknya sendiri, bisa jadi guru terisolasi dengan sejawat guru yang lainnya.
(d) Banyaknya bidang yang harus dikuasai oleh guru, mengharuskan guru mengadakan persiapan terus-menerus, sehingga waktu guru lebih banyak dipergunakan untuk persiapan.

5. Pembelajaran Beregu (Team Teaching)
Yang dimaksud dengan team teaching adalah suatu pengelompokan yang di dalamnya ada sekelompok peserta didik dibelajarkan oleh guru secara tim. Dalam pembelajaran ini, guru lebih membatasi diri pada kapasitas keahliannya, dan sama sekali tidak mengajarkan apa yang ada di luar keahliannya. Hal demikian dapat terjadi, oleh karena tidak jarang satu mata pelajaran atau bidang studi, membutuhkan keahliannya yang bermacam-macam.
Dalam suatu tim, guru merancang pembelajaran secara bersama-sama dengan anggota timnya, dan mengadakan pembagian yang jelas antara apa yang harus ia kerjakan sendiri, apa yang harus dikerjakan oleh anggota tim yang lain, dan apa yang harus dikerjakan secara bersama-sama secara tim. Peserta didik, dalam pembelajaran ini akan mendapatkan sesuatu dalam perspektif yang lebih luas, mengingat sesuatu yang dipelajari, dikemukakan oleh guru dari berbagai macam perspektif keahlian.
Keuntungan sistem pengelompokan demikian adalah:
(a) Setiap angota tim pembelajar, akan bekeja sesuai dengan sudut pandang keahliannya. Hal ini tidak saja bermanfaat bagi peserta didiknya yang mendapatkan pengetahuan dari perspektif ang lebih luas, melainkan juga bermanfaat bagi guru itu sendiri. Guru-guru ang terlibat dala tim, kerena terus-menerus mengembangkan spesialisasinya, akhirnya mereka nantinya akan ahli benar dalam bidangnya.
(b) Oleh karena merupaka kerja tim, maka jika guru yang satu berhalangan dengan mudah dapat digantikan oleh guru lain yang tidak berhalangan; dengan demikian, tidak terjadi kekosongan guru.

Sedangkan kekurangannya adalah:
(a) Jika anggota tim tidak baik kerja samanya, tidak mustahil justru menggagalkan pembelajaran tim.
(b) Banyak waktu yang dipergunakan untuk merencanakan kerja tim, terutama jika disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.
(c) Dalam operasinya memerlukan tempat dan ruang khusus.

6. Departementalisasi
Yang dimaksud dengan departementalisasi adalah suatu sistem pengelompokan peserta didik, yang di dalamnya guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena guru hanya mengkhususkan diri pada mata pelajaran tertentu, maka yang mereka ajarkan hanyalah mata pelajaran tertentu juga.
Beberapa keuntungan sistem pengelompokan deprtementalisasi adalah sebagai berikut:
(a) Guru akan lebih kompeten mengajarnya, oleh karena ia mendalami terhadap apa yang akan mereka ajarkan. Kompetensi mereka setidak-tidaknya pada penguasaan bahan ajaran.
(b) Peserta didik mendapatkan pengetahuan yang dalam dan menyakinkan, oleh karena yang memberikan adalah mereka yang benar-benar ahli di bidangnya.

Kekurangan sistem pengelompokan demikian adalah:
(a) Mengingat guru terpacu dengan keahliannya sendiri, maka pada saat guru yang lain tidak hadir, dia tidak bisa menggatikannya.
(b) Kecenderungan guru untuk merasa ahli di bidangnya bisa menjadi penyebab yang bersangkutan bisa merasa tidak perlu belajar lagi. Hal ini akan menyebabkan guru tersebut semakin tertinggal dengan laju pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk yang berada di bidangnya.
(c) Guru cenderung menganggap bahwa keahliannya lebih penting dibangdingkan dengan keahlian orang lain. Hal ini bisa menjadi penyebab dia berambisi secara sektoral terhadap ilmunya sendiri, dan lebih lanjut ia menganggap bahwa keahliannyalah yang lebih penting untuk diajarkan. Ada efek pengiring sikap guru ini terhadap peserta didiknya, yaitu peserta didik akan serupa dengan gurunya.

7. Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan (Ability Grouping)
Yang dimasksud dengan ability grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama ditempatkan pada kelompok yang sama. Peserta didik yang sama-sama tinggi kemampuannya ditempatkan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah ditempatkan dalam kelompok peserta didik yang berkemampuan rendah.
Keuntungan ability grouping adalah:
(a) Guru akan mudah menyesuaikan pengajarannya sesuai dengan kemampuan peserta didiknya.
(b) Peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih tingi, tidak merasa terhambat perkembangannya oleh peserta didik yang berkemampuan rendah.
(c) Peserta didik yang mempunyai kemampuan sama akan dapat saling mengisi, sehingga semakin mempercepat perkembangan dan mempertinggi kemampuan mereka.
(d) Peserta didik yang berkemampuan rendah tidak merasa tertinggal jauh dengan anggota kelompoknya, hal ini bisa menjadikan mereka frustasi.

Kelemahan ability grouping adalah:
(a) Guru harus membuat persiapan yang berbeda-beda, ada rancangan pembelajaran yang dikhususkan untuk peserta didik berkemampuan rendah, dan ada yang dikhususkan untuk peserta didik yang berkemempuan tinggi.
(b) Peserta didik merasa terganggu privacy-nya jika dimasukkan kedalam kelompok inferior.
(c) Peserta didik yang masuk ke dalam kelompok superior merasa dirinya lebih dan sombong serta suka membanggakan diri.

Sapartinah Pakasi, melalui eksperimentasi di Sekolah Dasar Laboratorium IKIP Malang (kini Universitas Negeri Malang), mengelompokkan peserta didiknya berdasarkan prestasi belajarnya di kelas. Pengelompokan demikian ia namai dengan achievement grouping. Dengan adanya pengelompokan demikian, maka peserta didik yang berprestasi tinggi dikelompokkan dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, sementara yang berprestasi rendah, dikelompokkan ke dalam yang berprestasi rendah. Ada tiga macam pengelompokan yang didasarkan atas achievement grouping ini, yaitu: kelompok untuk peserta didik yang cepat berpikir, kelompok untuk peserta didik yang sedang dan kelompok untuk peserta didik yang lambat belajar.
Yeager (1994) mengemukakan bahwa pengelompokan dapat didasarkan atas fungsi perbedaan. Pengelompokan menurut fungsi integrasi adalah pengelompokan yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik. Pengelompokan tersebut meliputi, yang didasarka atas umur, jenis kelamin, dan sebagainya. Pengelompokan ini melahirkan pembelajaran yang bersifat klasikal. Pengelompokan yang didasarkan atas fungsi perbedaan adalah yang diaksentuasikan pada perbedaan individual peserta didik. Pengelompokan menurut fungsi perbedaan demikian, melahirkan pembelajaran individual.
Hendyat Soetopo (1982) mengemukakan empat dasar pengelompokan peserta didik, yaitu: friendship grouping, achievement grouping, aptitude grouping, attention or interest grouping dan intelegent grouping.
1. Pengelompokan Berdasarkan Kesukaan Memilih Teman (Friendship Grouping)
Yang dimaksud dengan friednship grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kesukaan memilih teman. Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk memilih anggota kelompoknya sendiri serta menetapkan orang-orang yang dijadikan sebagai pemimpin kelompoknya.
Ada kecenderungan, pengelompokan demikian menjadikan peserta didik yang pandai cenderung memilih temannya yang pandai sebagai anggota kelompoknya. Tidak jarang, mereka yang tidak pandai juga mendapatkan angota kelompok yang tidak pandai. Pada hal, kualitas suatu kelompok ditentukan juga oleh bobot masing-masing anggotanya.
2. Pengelompokan Berdasarkan Prestasi (Achievement Grouping)
Achievement grouping adalah suatu pengelompokan yang didasarkan atas pretasi peserta didik. Secara jelas, pengelompokan demikian telah diuraikan diatas.
3. Pengelompokan Berdasarkan Bakat (Aptitude Grouping)
Aptitude grouping adalah suatu pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kemampuan dan bakat mereka.
4. Pengelompokan Berdasarkan Minat (Attention or Interest Grouping)
Attention or interest grouping adalah pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas perhatian mereka atau minat mereka. Pengelompokan demikian dilakukan, oleh karena tidak semua peserta didik yang berbakat mengenai sesuatu dan sekaligus juga meminatinya. Tidak semua peserta didik yang mampu sesuatu sekaligus juga meminatinya.
5. Pengelompokan Berdasarkan Kecerdasan (Intelegence Grouping)
Intelegence grouping adalah pengelompokan yang didasarkan atas hasil tes kecerdasan atau intelek.

F. Pengertian Ability Grouping
Ability grouping (selanjutnya disingkat AG) adalah adalah pengelompokkan siswa dalam kelas yang sama berdasarkan kemampuan akademiknya. Siswa yang tingkat penguasaan akademiknya baik, dijadikan satu dan dipisahkan dengan kelompok siswa yang tingkat penguasaan akademiknya kurang baik.
Asumsi penerapan AG adalah bahwa siswa yang pandai memerlukan layanan pembelajaran yang berbeda dengan siswa yang kurang pandai. Anggapan ini didasarkan bahwa siswa yang pandai cenderung lebih cepat menerima pelajaran dan lebih mudah menerima pelajaran dibandingkan dengan siswa yang kurang pandai. Jika kedua kelompok yang berbeda tingkat penguasaannya ini dijadikan satu, maka akan terjadi ketimpangan dalam penerimaan pelajaran.
Bentuk ketimpangan itu adalah siswa yang cepat menguasai pelajaran harus menunggu pada siswa yang kurang cepat menguasai pelajaran sampai siswa tersebut menguasai pelajaran. Demikian juga gurunya, guru tidak bisa menerapkan satu cara dalam satu kelas yang sama. Akibatnya, baik siswa maupun guru sama-sama mengalami kesulitan.

G. Program AG dan peningkatan prestasi akademik siswa
Secara obyektif program AG akan memberikan kondisi pada suasana belajar yang ideal dan kondusif untuk mencapai tujuan pragmatis dalam belajar. Hal ini tampak dari hasil evaluasi belajar siswa yang memiliki kemampuan homogen / sama akan dengan mudah menerima masukan / materi pelajaran. Potensi akademik yang homogen akan memberikan respon hasil belajar yang homogen pula. Guru dengan mudah menyampaikan materi, selanjutnya siswa akan menanggapi dalam proses belajar dengan lebih mudah. Pada akhirnya prestasi akademik siswa akan mudah termonitor dan mudah pula melakukan perlakukan-perlakuan khusus dalam rangka perbaikan atau pengayaan.
Baik siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial tinggi (pintar) ataupun siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial rendah (kurang pandai), akan dengan mudah termonitor oleh guru. Perlakuan guru dalam proses pembelajaran yang homogen di dua kelompok tersebut akan meningkatkan prestasi siswa.
Ada anggapan bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan kita tidak lagi mempersoalkan posisi (institusi) pendidikan. Mungkin karena ilmu pengetahuan itu sendiri dianggap netral, dengan sendirinya proses belajar-mengajar pun kemudian dianggap netral dan selalu mengandung kebajikan.
Menurut pengamatan penulis (melalui wawancara, diskusi sesama guru, perolehan nilai) program AG memang berhasil menjadikan anak pandai semakin cepat menguasai pelajaran dan siswa yang kurang pandai pun dapat diangkat prestasinya, minimal jika dibandingkan dengan kelas heterogen. Guru pun menemukan metode yang tepat sesuai dengan bidang pelajaran dan jenis kelasnya.

H. Dampak Penerapan AG
1. Terjadi dikotomi ‘anak pandai-anak bodoh’
Anak-anak cenderung bergaul sesuai dengan kelasnya. Mereka agak menjaga jarak dengan sesama teman yang berbeda kelas. Anak pandai akan lebih banyak bergaul dengan anak pandai dan anak kurang pandai akan bergaul dengan anak yang kurang pandai. Guru pun seolah memberikan label bahwa si A anak pandai karena nilai-nilainya bagus sedangkan si B anak bodoh karena niai-nilainya jelek.
2. Kesenjangan sosial meningkat
Interaksi sosial yang kurang baik menyebabkan banyak masalah kecil yang idak jarang memunculkan masalah serius. Sikap sinis dan mudah curiga dari masing-masing grup menimbulkan letupan-letupan yang menjurus pada ketidakstabilan suasana pembelajran di sekolah. Tidak jaran terjadi pertengkaran bahkan perkelahian antara anak yang pandai dan kurang pandai yang bermua dari saling ejek dan saling menyindir.
3. Tidak memupuk rasa ‘convidient’
Siswa kurang pandai merasa tersisih dan kurang percaya diri. Cap bahwa ia ‘bodoh’ seolah sudah melekat pada dirinya yang menjadikan ia tampak canggung dan merasa serba salah. Hal ini kadang diperparah dengan sikap guru yang kadang melontarkan perkatan-perkataan tidak pada tempatnya, seperti:
a. Coba seperti si A itu, ia selalu dapat nilai di atas 9
b. Contohlah si A ia selalu rajin belajar
c. Jangan seperti si B sudah bodoh, malas lagi

I. Tinjauan Psiklogis terhadap AG
Pelaksanaan Ability Grouping telah menempatkan siswa pada suatu anggapan bahwa anak pandai harus bergabung dengan anak pandai dan anak kurang pandai harus bergabung dengan anak kurang pandai. Padahal kecerdasan akademik hanya merupakan sebagian kecl faktor penentu keberhasilan hidup seeoran. Banyak orang sukses yang ketika sekolah prestasi akademiknya biasa-biasa saja atau bahkan kurang. Sebaliknya, banyak juga orang yang gagal dalam karier padahal sewaktu sekoah ia termasuk siswa ‘superior’ dalam prestasi akademik.
Teori baru telah menunjukkan bahwa kecerdasan manusia berdimensi majemuk. Teori multiple intelligences Howard Gardner yang telah teruji secara empiris di dalam kelas, yang juga didukung temuan-temuan di bidang neuro science tentang fungsi otak kanan dan otak kiri, adalah teori baru yang layak dijadikan landasan teori untuk membuat kategori kecerdasan siswa.
Gardner telah mengidentifikasi kecenderungan kecerdasan manusia menjadi sembilan jenis, yaitu linguistik, logiko-matematikal, musikal, spasial-visual, kinestetik-jasmani, intrapersonal, interpersonal, naturalis, dan spiritual atau eksistensial. Orang yang kurang cerdas di bidang logiko-matematikal mungkin cerdas luar biasa di bidang musik, mungkin kinestetik, mungkin spasial-visual. Sementara identifikasi kecerdasan anak yang didasarkan pada skor IQ, notabene hanya mengukur kecerdasan logika-matematikal dan sedikit linguistik. Oleh karena itu, identifikasian kecerdasan luar biasa yang hanya ditentukan berdasarkan skor IQ hanya mengukur dua dimensi saja.
Menurut ahli psikologi, Jean Piaget (1896-1980), sebagaimana tubuh kita mempunyai struktur tertentu agar dapat berfungsi, pikiran kita juga mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya seorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya.
Apabila manusia mengintegrasikan gambaran baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya, maka ia melakukan proses asimilasi. Proses ini terjadi bila ada kesamaan dengan konsep yang sudah ada atau melengkapi konsep itu. Dikala manusia tidak menemukan kecocokan dengan konsep yang sudah ada maka manusia melakukan akomodasi. Dalam proses ini manusia membentuk skema baru. Seorang pelajar mempunyai skema dalam pikirannya bahwa air mendidih pada suhu 100oC. Tetapi ketika ia memanaskan beberapa air ternyata ada yang mendidih pada suhu 90oC, 110oC dan 80oC. Ia menemukan bahwa air itu tidak murni atau tercampur dengan zat lain, karena air mendidih pada suhu yang berbeda. Akhirnya, pelajar itu mengembangkan skemanya yang baru tentang air, bahwasannya hanya air yang murni bisa mendidih pada suhu 100oC.
Benyamin S. Bloom (1956) melengkapi pendapat Jean Piaget dengan membuat stratifikasi intelektual yaitu menerapkan gaya pembelajaran dengan memperhatikan aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Memang diakui bahwa identifikasi strata intlektual ini jarang dimengerti dan diterapkan guru. Barangkali karena ketidaktahuan menggunakan prinsip-prinsip logika. Ukuran kemengertian siswa sebatas mempunyai jawaban persis sama dengan apa yang ada dalam buku, bukannya peta konsep (concept map) yang sama seperti kepunyaan guru. Belajar yang sesungguhnya adalah proses mentransfer konsep, seperti mempunyai kemampuan mengetahui apa yang dipelajari, membahasakannya dengan bahasa sendiri, menerapkannya dalam konteks yang praktis, mempunyai keahlian untuk membandingkan dan menganalisa serta bisa memberikan kesimpulan logis secara deduktif dan induktif dan seterusnya bisa menguraikan secara dialektis kesimpulan yang sudah disusunnya itu.
Ability grouping sudah jauh meniggalkan pandangan bahwa anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa disamakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tiap anak mempunyai karakter yang perlu dikembangkan di sekolah. Guru harus menjadi jembatan antara kondisi realitas yang ada dengan masa depan yang hendak dicapai anak.

J. Kebutuhan yang diperlukan siswa di sekolah
1. Kebutuhan Fisiologis
2. Kebutuhan Rasa Aman
3. Kebutuhan Harga Diri
4. Penghargaan dari pihak lain
5. Pengetahuan dan Pemahaman
6. Kebutuhan Estetik
7. Kebutuhan Akatualisasi Diri

K. Kesimpulan
1) Program AG dari sisi proses belajar mengajar adalah baik dan kondusif dalam rangka mencapai tujuan belajar. Siswa terpacu dan tertantang untuk lebih maju lagi. Target pencapaian nilai akan lebih mudah tercapai. Siswa menemukan pola pebelajara yang sesai dengan tingkat kemampuannya. Guru dapat menerpakan metode yang tepat untuk kelas tepat.
2) Dalam kerangka tujuan pendidikan ideal, yaitu pengembangan aspek pengetahuan, sikap dan perilaku motorik (sosial) harus diperhatikan. Kondisi siswa yang homogen khususnya kelompok berkemampuan tinggi , apabila memang dibentuk/ diprogramkan maka perlu adanya bimbingan khusus bagi siswa yang mengalami persoalan dengan masalah sosialnya.
3) Program AG dapat memicu kerawanan sosial di sekolah jika tidak diantisipasi dengan baik, yang melibatkan seuruh koponen sekolah.
4) Penerapan program AG harus bisa mengubah paradigma siswa, bahwa siswa itu mempunyai kecerdasan majemuk, tidak hanya terbatas pada kecerdasan bidang akademik saja.

Entry filed under: IDE & PEMIKIRAN. Tags: .

Pacaran Haram? Masa’ sih? Kalo gitu cepet merid aja yuuuk.. ^_^ Filsafat Ilmu (Tugas kuliah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



More clock widgets here

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: