Ukiran Batang Pohon Di Pulau Tukung (true story)

December 14, 2010 at 1:49 am Leave a comment

-Nama Tempat, Gambar dan Keterangan Lain Nyata Adanya-Diposting Juga Di cerpen.net


Kilas Balik Melawai

Arditya berlari tergopoh melintasi hamparan pasir lembut yang mulai digenangi pasang air laut. Matanya nanar dan mengarah ke sebuah pandangan di depannya, sebuah pulau kecil berkarang. Kala itu hampir pukul 16.45 wita, dan itu jelas semakin membuat nafas nya berhembus tak beraturan memompa jantungnya yang mulai memanas.

“God pliss…jangan pasang kan air laut ini dulu..!”, pintanya dalam hati sambil terus berlari, dan kini permukaan air yang ia lintasi terasa semakin dalam dan mulai membasahi celana jeans hitam nya yang dilipat sebatas lutut. Sepasang matanya menyipit, pandangannya mulai kabur oleh air mata yang mulai membasahi permukaan bola matanya. Dadanya terasa lebih sesak. Kekuatannya mulai terkikis saat langkahnya mulai goyah. Harapan itu terasa sangat tipis. Dia berteriak….“God..Pliiiiiiissss!!!”———***———

Suasana senja di tepi pantai kala itu cukup ramai oleh para pengunjung yang sedang menikmati berbagai hidangan para penjaja makanan. Dari jajanan ringan hingga hidangan pengisi perut disediakan oleh para penjual yang berbaris dan tertata rapi di sekitar wilayah itu. Nampaknya senja kali ini lebih ramai dari senja sebelumnya. Wajar saja karena seperti sudah menjadi rutinitas, bahwa pada akhir pekan kawasan itu akan menjadi arena publik yang banyak mengundang minat untuk di kunjungi, baik oleh warga pribumi atau pun pelancong dari luar kota. Dan senja itu, adalah malam minggu dimana keramaian nampak didominasi oleh rombongan remaja – remaja muda yang bergerombol dengan aktifitas masing – masing. Kawasan itu sering disebut dengan nama Melawai yang terletak di tepian Kota Balikpapan. Namun Arditya tidak mempedulikan semua itu, dan terlebih lagi ia selalu sering terlupa akan nama hari.

Sebelumnya tepat pukul 16.05 wita, sebuah pesawat milik salah satu maskapai penerbangan swasta di Indonesia telah membawa nya mendarat di Kota Balikpapan. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih dua jam sepuluh menit itu adalah kali ketiga buatnya menginjak kan kaki kembali di kota yang ia tinggalkan tiga tahun lalu. Sebuah kebijakan dari perusahaan tempat ia bekerja mengharuskannya untuk pindah tugas di kota lainnya. Dan saat ini ia bertugas di kota kembang Bandung, dimana dua tahun sebelumnya dia sempat bertugas selama setahun di kota pendidikan Yogyakarta.

Tiga tahun lalu, ia masih berada di kota itu. Masih sangat jelas tersimpan dalam ingatannya saat ia melintasi tepian pantai yang sama. Menyusuri percikan – percikan air laut yang mulai pasang dan mendekati tepian bibir pantai. Menjahili kepiting – kepiting kecil yang berlarian bersembunyi di bawah tumpukan pasir, lalu kakinya mengeruk paksa tempat kepiting tersebut bersembunyi. Segalanya peristiwa itu masih nampak selalu jelas dalam benaknya. Seakan kejadian tersebut selalu dibawa kemanapun ia pergi dan tidak akan pernah ia lupakan.

Peristiwa tiga tahun lalu tersebut selalu membuatnya tersenyum saat ia harus melalui segala ujian terberatnya dalam tiga tahun kepergiaanya dari kota tambang itu. Dan memang hanya itu yang sanggup ia lakukan untuk meringankan hati dan pikirannya jika sedang mengalami kebuntuan masalah. Memandangi langit, dan mengingat peristiwa yang membuatnya terkadang tersenyum sendiri. Atau jika memang ada kesempatan, setahun sekali ia akan mengunjungi kota yang sempat membuatnya bahagia dengan hamparan pasir putihnya itu, meskipun hanya sebatas satu jam berada di kota itu lalu kembali lagi ke kota tempat ia bertugas. Seperti yang sudah dilakukan dua tahun sebelumnya, ia relakan meski hanya satu jam berkunjung demi memastikan keberadaan akan sesuatu yang pernah ia torehkan di kota itu. Sebuah ukiran di batang pohon yang tumbuh di atas pulau karang, Pulau Tukung.

Pulau Tukung adalah salah satu pulau kecil yang hanya terdiri dari bongkahan batu karang terjal dan diatasnya ditumbuhi oleh semak dan tumbuhan khas perairan laut. Pulau yang hampir mirip dengan Tanah Lot di Pulau Dewata tersebut berada di sekitar tepian kawasan Melawai kota Balikpapan.

Keberadaan pulau nan mungil itu, sempat membuat hati Arditya melonjak kegirangan saat pertama kali ia datang ditugaskan di kota tersebut. Namun kesempatan untuk menginjak kan kaki ke pulau yang keberandaanya makin memperindah pemandangan sekitarnya itu seringkali tertunda karena tehalang oleh air laut yang lebih dulu beranjak pasang saat senja sepulang ia dari kantor nya. Tetapi akhirnya sore itu tepat tiga tahun yang lalu, ia berhasil menginjak kan kaki untuk pertama kali nya dan melintasi bongkahan – bongkahan karang batu hingga berhasil mendaki ke bagian puncak dari pulau tersebut. Dan kala tiga tahun yang lalu itu ia tidak sendiri.———***———

TIGA TAHUN SEBELUMNYA…….

Cerah senja mulai membayangi langit Kota Balikpapan sore itu. Arditya memacu dengan perlahan laju kendaraannya melintasi kawasan – kawasan area publik yang nampak mulai ramai dijadikan pusat aktifitas olahraga oleh warga sekitar. Hatinya nampak riang. Mungkin karena ia memutuskan untuk tidak kembali ke kantor tengah hari tadi kemudian memilih untuk menghabiskan waktunya bersama seorang wanita idaman. Atau mungkin justru karena kebersamaan dengan wanita tersebutlah yang akhirnya membuat laju kendaraanya terasa lambat. Sebuah kebiasaan simpel untuk mengulur waktu yang sering ia lakukan, melambatkan laju kendaraan sambil mendendangkan beberapa tembang. Atau sekedar bernyanyi bersama di atas laju kendaraan. Namun sore itu tidak ada satu pun tembang yang melantun, meskipun keriangan menyelimuti mereka.

Perlahan laju kendaraan mulai menikung, melintasi beberapa penjaja makanan disekitar wilayah bernama Melawai.

“Air nya masih surut gak ya mas..?”, suara lembut seorang wanita dibelakang nya mengejutkan lamunan Arditya di atas laju kendaraan. Pemilik suara tersebut adalah Dewi, yang tak lain adalah wanita ia cintai. Ia adalah seorang guru muda di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota itu. Sore itu, sengaja Arditya menemaninya seharian, karena dua hari kemudian mereka akan berpisah selama satu minggu. Sebuah tugas yang diberikan pihak sekolah kepadanya untuk study banding di kota apel, Malang.

Entry filed under: TENTANG HIDUP. Tags: .

My Essay for Study of the United States Institute Programs 2011 Buah Keikhlasan (copy from members of RINDU TANAH SUCI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



More clock widgets here

December 2010
M T W T F S S
    Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Recent Posts


%d bloggers like this: