Take Home Test (tugas makul Pengembangan Kurikulum dan Program Pengajaran)

March 11, 2011 at 3:15 pm 6 comments

TAKE HOME TEST

1. Dapatkah anda menjamin bahwa apabila siswa berhasil mencapai tujuan intruksional, maka dengan sendirinya juga mencapai tujuan kurikuler, Jelaskan !

Dapat, karena terlebih dahulu kita perlu mendefinisikan tujuan pembelajaran/ instruksional dan tujuan kurikuler sehingga kita bisa melihat hubungan yang sangat jelas antara tujuan instruksinal dan tujuan kurikuler.

Tujuan Pembelajarn/Instruksional
Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan tujuan yang paling khusus dan merupakan bagian dari tujuan kurikuler. Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.

Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu, tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Kita bisa melihat contoh tujuan kurikuler di bawah ini:
Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan , dan khusus pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas 5 Kelompok mata pelajaran, yaitu;
1) agama dan akhlak mulia
2) kewarganegaraan dan kepribadian.
3) Ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) estetika.
5) jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah tersebut, maka Badan Standar Nasional Pendidikan merumuskan tujuan setiap kelompok mata pelajaran sebagai berikut:
1) Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia bertujuan; membantu peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berahlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga dan kesehatan.
2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian bertujuan; membentuk peserta didik menjadi manusia menjadi memiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, ahlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
3) Kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik.
 Pada Satuan Pendidikan SD/MI/SD-LB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pemngetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMP/MTs/SMP-LB/Paket B, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan dan/teknologi informasi dan komunikasi serta muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMA/MA/SMA-LB/Paket C, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMK/MAK, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
4) Kelompok mata pelajaran estetika bertujuan membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.
5) Kelompok mata pelajaran Jasmani, olah raga dan kesehatan bertujuan membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, danmenumbuhkan rasa sportifitas. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olah raga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.

2. Anda renungkan, “ Nurturant Effects” mana saja yang menurut pendapat anda telah berhasil dimiliki siswa anda.
Nurturant effects atau efek pengiring merupakan fungsi pembentukan yang dimiliki siswa sebelum dan saat kegiatan belajar terjadi. Untuk merancang pembentukan dampak pengiring dapat dilakukan melalui pemanfaatan berbagai ragam format kegiatan seperti penugasan proyek yang memicu kerja kelompok sehingga berpeluang memberikan kontribusi dalam pembentukan kemampuan interpersonal serta kecerdasan emosional (Goleman, 1985), kepemimpinan dan kebiasaan bertanggung jawab serta keterandalan (Elias, W7, dkk, 1997), pengasahan ketrampilan menemukan, menilai serta memanfaatkan informasi termasuk dengan pemanfaatan teknotogi informasi, kemampuan berkomunikasi baik secara tertulis maupun lisan, yang kesemuanya itu merupakan bagian dan perangkat kecakapan hidup (soft skills, life skills)(Kendall dan Marzano, 1997; Raka Joni 2000).

“NURTURANT EFFECTS” yang berhasil dimiliki siswa adalah :
a. Sikap solidaritas antar teman baik teman sekelompok maupun terhadap kelompok lain dalam pelaksanaan pembelajaran melalui metode pengajaran diskusi kelompok.
b. Sikap menghargai pendapat teman satu kelompok maupun pendapat kelompok lain
c. Membangun etos kerja pada diri masing-masing siswa
d. Dapat bekerja secara mandiri dalam memecahkan masalah.
e. Menciptakan kesenangan dan membangun kejujuran dengan mencari informasi yang relevan
f. Motivasi tercipta secara harmonis antara siswa dan guru

3. Apa hakekat belajar menurut psikologi pendidikan dan apa hakekat belajar menurut kurikulum yang berkonsep idealis.
Hakekat belajar menurut psikologi pendidikan adalah Ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar.
“Hakekat belajar menurut kurikulum yang berkonsep idealis yaitu “ Belajar adalah proses untuk mengambil keputusan. Hakekat Belajar menurut Psikologi Pendidikan adalah proses untuk merubah tingkah laku seseorang.
Sedangkan Hakekat Belajar menurut Kurikulum yang berkonsep idealis adalah belajar merupakan proses untuk mengambil keputusan.

4. Dapatkan sebuah buku teks paket yang digunakan di SD, SMP dan SMA. Silahkan diidentifikasi organisasi kurikulum mana yang di gunakan untuk menyusun materi kurikulum di dalam buku itu.
 Buku teks paket di SD termasuk organisasi kurikulum Subject Matter Curriculum karena dalam penyajian materi pelajaran kepada siswa dalam bentuk beberapa mata pelajaran yang relevan berdiri sendiri, ruang lingkupnya luas menjadi satu kesatuan ( IPS, IPA dan PKN). Terutama yang menggunakan model pembelajaran yang merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna.
 Buku teks paket SMP memuat materi pembelajaran yang menghubungkan materi kurikulum dari suatu mata pelajaran dengan materi kurikulum pelajaran lainnya, Contoh: Mata pelajaran IPA materi yang ada dihubungkan dengan mata pelajaran lain yaitu Biologi, Fisika, Organisasi kurikulum yang digunakan untuk menyusun materi kurikulum dalam penyusunan buku tersebut adalah Correlated Curriculum.
 Buku teks paket SMA, disajikan dalam bentuk materi yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi dan mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir kritis, kreatif dan mandiri dalam memperoleh kompetensi lanjut. Organisasi kurikulum yang digunakan untuk menyusun buku paket tersebut adalah Organisasi Integrates Curriculum.

5. Pengembangan kurikulum pada hakekatnya adalah sebuah proses siklus yang tidak pernah berakhir, Jelaskan konsep pengembangan kurikulum seperti itu ! Mengapa diperlukan perencanaan untuk mengembangkan kurikulum itu ?
Sebelum menjelaskan tentang kurikulum yang merupakan sebuah proses pengembangan yang tidak pernah berakhir, terlebih dahulu akan kami ungkap pengertian kurikulum. Dalam pengertian luas, kurikulum adalah semua kegiatan yang dirancang untuk pengembanganan intelektual, kepribadian dan keterampilan. Dalam pengertian tersebut sudah jelas untuk mengembangkan Intelektual / Kecerdasan, Kepribadian dan keterampilan yang dalam pengembangannya menggunakan berbagai metode pembelajaran dan menjadi sasaran target perubahan kurikulum sendiri adalah adanya perubahan yang terjadi dalam diri manusia dalam hal ini pelaku pendidikan. Sementara semakin lama manusia/ pelaku pendidikan dan alat yang digunakan untuk mengembangkan kurikulumnya selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Belum lagi adanya perubahan yang terjadi pada berbagai komponen yang terkait, seperti sistem pendidikan.
Struktur kepemimpinan serta kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu semua, maka pengembangan kurikulum tak pernah berhenti.
Mengapa diperlukan perencanaan untuk mengembangkan kurikulum untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka untuk mengembangkan kurikulum perencanaan sangat diperlukan, tanpa perencanaan maka pengembangan kurikulum tidak akan membawa hasil yang maksimal, karena kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Berhasil tidaknya tujuan pendidikan bergantung pada keberhasilan pengembangan kurikulum tersebut. Oleh karena itu pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan perlu adanya perencanaan yang matang. Apabila perencanaan sebelum mengembangkan kurikulum tidak dilaksanakan dapatkan kurikulum tidak dilaksanakan dapat berakibat fatal terhadap keberhasilan pendidikan lebih jelasnya kurikulum sebagai alat dalam proses pencapaian tujuan pendidikan dalam pengembangan harus dilakukan perencanaan lebih dahulu secara jelas, tepat dan tegas sesuai dengan stakeholder agar dapat mencapai tujuan yang maksimal.

6. Deskripsikan pengaruh dan perubahan sistem nilai (Filsafat Pendidikan dan Filsafat Negara terhadap pengembangan kurikulum sekolah kita sejak masa ORLA, ORBA dan ORDE Reformasi sekarang ini.

Dalam sejarah penggunaan kurikulum di Indonesia setelah merdeka, ada sepuluh kurikulum yang pernah dipakai yaitu kurikulum pascakemerdekaan 1947, 1949, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK yang disempurnakan menjadi kurikulum KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Masing-masing kurikulum mempunyai ciri tersendiri berdasarkan periode (zaman) yang terbagi menjadi tiga kelompok yaitu zaman orde lama, orde baru, dan masa reformasi.
Dari kurikulum yang ada, sebenarnya Indonesia belum memiliki landasan filsafat secara jelas dalam kurikulum pembelajarannya, yang ada hanya filsafat dasar negara. Upaya merumuskan filsafat pendidikan di Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang sidang umum MPR (Kompas, 27 Nopember 1992) sebagai sumbangan untuk bahan sidang umum itu, tetapi GBHN1993 tidak mencantumkan perlunya perumusan filsafat dan teori pendidikan itu.

 Pengaruh dan perubahan sistem nilai (Filsafat Pendidikan dan Filsafat Negara terhadap pengembangan kurikulum sekolah.)
a. Masa Orde Lama
Pada masa ini, pendidikan Indonesia ditujukan untuk membina anak-anak dan pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha dan jiwa mereka. Selain masih bersifat kedaerahan juga dalam lingkup kecil. Tokoh-tokoh pendidikan saat itu adalah M.Syafei, Ki Hajar Dewantara, Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Kurikulum pertama di Indonesia ada sejak Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar pendidikan untuk pertama kalinya dengan asas taman siswanya. Asas guru sebagai insan yang bersifat pemberi contoh, motivator dan pengevaluasi memang sampai kini dituntut ada pada diri guru Indonesia.
Selain Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Ahmad Dahlan mendirikan pendidikan dengan asas Islam yang bernama Muhammadiyah dengan lima butir dasar pendidikannya yaitu perubahan cara berpikir, kemasyarakatan, aktivitas, kreativitas, dan optimisme.
Perjuangan bersifat kedaerahan berganti dengan bersifat kebangsaan, mulai ada sistem pendidikan mulai SD sampai SMA untuk warga Belanda dan kelas 3 untuk warga pribumi. Kurikulum yang ada dibuat oleh Belanda. Pada masa ini pendidikan sampai perguruan tinggi meskipun sangat sedikit orang Indonesia yang menikmatinya.
Pengembangan kurikulum pada masa orde lama mengalami dilema. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan negara pada waktu itu masih labil, kebebasan mendapat pendidikan yang layak belum terpenuhi meskipun pada waktu itu sekitar tahun 1965 negara telah merdeka, namum situasi dan kondisi belum merdeka sepenuhnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum yang ditandai dengan pelaksanaan pendidikan dan pengajakan masih bersifat sederhana dans angat memprihatinkan.

b. Masa Orde Baru
Masa pembangunan, prioritas di bidang ekonomi, pendidikan mengikuti kebijakan link dan match,dalam arti kata pendidikan memiliki kaitan kuat dengan kebutuhan pasar. Banyak kurikulum yang mengadopsi barat dan diterapkan di Indonesia contoh kurikulum KBK menunjukkan kegagalan karena berorientasi pada pasar dengan menyamakan antara sekolah umum yang orientasi akademik dengan sekolah kejuruan yang berorientasi pada kerja tetapi di lain pihak sekolah kejuruan sangat sedikit. Sekolah umum lebih banyak, akibatnya tujuan tidak tercapai. Nilai budaya dan agama hanya terintegrasi ke dalam mata pelajaran. Pancasila hanya sebatas menghapalkan dan doktrinasi, secara umum secara kuantitatif cukup berhasil tetapi kualitatif tertinggal.
Pengaruh pengembangan kurikulum pada masa ORDE BARU dapat dikatakan mengalami kemajuan melalui UU No. 2 Th.1989 tentang sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional merupakan bagian dari pengembangan kurikulum di sekolah lebih baik dari sebelumnya, dengan menitikberatkan pada pengembangan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan nasional, dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan dan kebutuhan pembangunan. Pengembangan kurikulum diutamakan pada pembangunan manusia seutuhnya.

c. Pengaruh pengembangan kurikulum pada Era Reformasi.
Di zaman Orde Lama kebanyakan orang mendidik sendiri atau bekerja di rumah. Sekolah-sekolah sudah ada tetapi tidak benyak. Di zaman Orde Baru untuk memenuhi standarisasi orang harus bersekolah dimana? Mereka dididik untuk mendapatkan keterampilan tertentu supaya siap bekerja di Era Reformasi sekarang ini atau disebut zaman internet kata bisa belajar dimana saja dan kapan saja tanpa ada batasan waktu dan ruang, meskipun demikian pengembangan kurikulum pada pendidikan formal dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan pendidikan nasional.
Masa reformasi membawa dampak pada pendidikan, kebebasan juga merambah dunia pendidikan, mulai berganti kurikulum .Yang paling baru ialah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang lebih bercorak daerah dengan perubahan paradigma pendidikan yang menganut asas desentralisasi. Dengan memasukkan muatan lokal dalam pelajaran tersendiri tidak terintegrasi, menerapkan karakter bangsa secara tertulis dan dituangkan dalam silabus tidak lagi secara tersirat dan mulok yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Aspek keseimbangan antara aspek material dan spiritual akan tercapai.
Jadi, pengembangan kurikulum pada masa orde lama bersifat kedaerahan dan agamis, mengutamakan pendidikan mandiri dan nasionalisme untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Mengikuti falsafah esensialisme dan perenialisme. Berpusat pada kebenaran dan guru. Kurikulum masa orde baru,dominan, bersifat sentralistik, kegunaan dan fungsi. Peranan penguasa sangat dominan menentukan pendidikan. Kurikulum banyak mengadopsi dari negara luar.Filsafat pendidikan Indonesia yang berlandaskan Pancasila sebatas slogan dan doktrin dengan tidak adanya nilai afektif yang jelas untuk pelajaran agama dan kewarganegaraan. Akibatnya banyak terjadi perilaku menyimpang yang terjadi karena pendidikan hanya menekankan aspek kognitif. Sementara itu, kurikulum masa reformasi ditandai dengan munculnya KTSP yang meskipun bersifat desentralistik tetapi lebih memperhatikan tidak hanya keilmuan tetapi juga aspek kerohanian. Dengan kewenangan pada sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya, diharapkan sekolah tidak menjadi menara gading yang tidak menyentuh lingkungan sekitar dengan adanya pelajaran PKLH dan Mulok yang mengharuskan ada muatan budaya daerah setempat, memasukkan karakter kebangsaan kepada kurikulum dengan tujuan pembinaan watak kebangsaan sebagai warisan budaya luhur dapat diterapkan sehingga dapat menjadi penyaring generasi muda terhadap budaya luar yang merusak tidak hanya jiwanya tetapi juga keutuhan bangsanya.

7. Perkembangan Pola Pendidikan adalah pendiidkan tradisional, Pendidikan Progresif dan Pendidikan Modern. Jelaskan masing-masing pola pendidikan tersebut serta Implikasinya terhadap kurikulum progresif.

a) Pola Pendidikan tradisional adalah pola pendidikan yang dirancang berorientasi pada masa lalu. Yang menekankan pada keabadian, keidealan , kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pola pendidikan ini banyak diterapkan di pondok Pesantren Salafiyah.
Pendidikan Tradisional :
 Guru berbicara murid menyimak.
 One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan.
 Tatanan bangku berurut
 Masih diberlakukan bentuk hukuman bagi siswa yang tidak taat

b) Pola Pengembangan pola pendidikan progresif adalah pola pendidikan yang mengacu pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
Pendidikan Progresif (John Dewey)
 Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara perorangan (individually learning)
 Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing)
 Guru memberi dorongan semangat dan motivasi bukan hanya pemerintah . Artinya bahwa gurunmemberikan penjelasan tentang arah kegiatan pembelajaran yang merupakan kebutuhan siswa.
 Guru mengjaksertakan siswa dalam berbagai aktifitas kehidupan belajar di sekolah yg mencakup pengajaran,admnistrasi dan bimbingan.
 Guru member arahan dan bimbingan sepenuhnya agar siswa menyadari bahwa hidup itu dinamis dan mengalami perubahan yang begitu cepat.
c) Pola Pendidikan Modern
Adalah pola pendidikan yang dirancang untuk menciptakan generasi yang berorientasi pada masa depan. Pola pendidikan ini menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis ya, ini lebih menekankan pada hasil belajar pada proses, atau melalui pengalaman dengan lingkungan. Selain itu pola pendidikan modern menekankan pada pengajaran dan ketuntasan belajar serta tanggap terhadap perkembangan modern siap menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan Modern :
 Guru sebagai fasilitator
 Peserta didik juga pelaku pendidikan
 Memanfaatkan perkembangan media pembelajaran
 Tidak melakukan hukuman fisik
 Tempat pembelajaran bisa dimana saja.

8. Proses kurikulum memiliki 4 unsur, yaitu :
1) Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan
2) Keputusan tentang metode mengajar
3) Keputusan tentang materi pembelajaran
4) Keputusan tentang evaluasi pendidikan
Jelaskan masing-masing unsur tersebut !


1. Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan
Unsur Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan dalam proses kurikulum terkait dengan visi misi dalam proses kurikulum terkait dengan visi misi yang ditetapkan oleh sekolah.instasi, dalam bentuk apa visi ditentukan dan bagaimana cara supaya sekolah dalam melaksanakan visi itu sendiri, dengan tidak mengabaikan stakeholder. Dalam menjalankan visi hal ini akan berkaitan dengan misi sesuai yang dibutuhkan yaitu melengkapi sarana dan prsarana yang dibutuhkan yang berupa sarana fisik maupun non fisik.
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”..
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran.
Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan

2. Keputusan tentang metode mengajar
Unsur keputusan tentang metode mengajar dalam proses kurikulum erat kaitannya dengan misi sekolah, dimana sekolah dalam hal ini lebih khusus lagi guru sebagai pelaksana dan pengembang kurikulum harus mampu memutuskan metode mengajar yang bagaimana yang sesuai dengan materi ajar dan disesuaikan pula keadaan siswa. Termasuk mendesain intruksional atau memutuskan untuk menentukan model-model pembelajaran yang tepat, sehingga visi dan misi sekolah dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran, hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual,–sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian, maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok.
Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.
Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.
Selanjutnya, dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik, tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru, seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning, yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya.

3. Keputusan tentang materi pembelajaran
Unsur keputusan tentang isi/ materi pembelajaran dalam proses kurikulum untuk melaksanakan keputusan tentang isi/materi pembelajaran di sekolah adalah dengan memahami tujuan instruksi /visi misi sekolah. Status sekolah standarisasi sekolah, sehingga kurikulum sebagai acuan dalam sebagaimana mestinya. Artinya materi /isi pembelajaran di sekolah yang berstandar lokal atau yang berstandar nasional tentu berbeda dengan sekolah yang berstandar internasional. Dan isi/materi pembelajaran yang akan diterapkan di sekolah pedalaman tentu tidak sama dengan sekolah pinggiran. Itu sebabnya dalam proses kurikulum keputusan tentang materi/isi pembelajaran perlu adanya perencanaan yang matang yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang merancang kurikulum, sehingga sekolah sebagai pihak pengembang kurikulum dapat melaksankan dengan semestinya.
Materi pembelajaran lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif.
Dengan melihat pemaparan di atas, tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran,. Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu., maka dalam prakteknya cenderung digunakan secara eklektik dan fleksibel.
Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :.
1) Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan.
2) Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
3) Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
4) Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
5) Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.

4. Keputusan tentang evaluasi pendidikan
Unsur keputusan tentang evaluasi dalam proses kurikulum adalah unsur keputusan tentang evaluasi dalam pendidikan tidak kalah pentingnya dengan unsur-unsur yang lain. Hal ini diperlukan sebagai alat ukur berhasil tidaknya pengembangan kurikulum yang telah dilaksankan disekolah, sehingga dapat diketahui apakah kurikulum yang sudah dirancang dan dilaksankan dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Evaluasi dalam pendidikan juga bertujuan untuk menilai sejauh mana ketepatan kurikulum dengan keadaan dan perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi infomasi dan komunikasi seperti sekarang ini, sehingga apabila terdapat hal-hal yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan perubahan zaman, maka di masa yang akan datang kurikulum dapat dirubah atau dikembangkan dan tentunya disesuaikan dengan keadaan sekarang.
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum”
Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.”
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll, dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness, continuity, diagnostics worth and validity and integration.”
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan anekdot dan sebagainya
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata, 1997)
Selanjutnya, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum, yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif); (2) pendekatan obyektif; dan (3) pendekatan campuran multivariasi.

9. Dalam penggembangan kurikulum tentu harus dilakukan dengan cermat artinya, tahapan atau prosedur harus diikuti dengan benar. Diskripsikan tahapan dalam pengembangan kurikulum.

Ada bebarapa tahapan/ prosedur yang harus di ikuti dalam pengembangan kurikulum, tahapan tersebut antara lain :
I. Tahap Perencanaan
“Perencanaan “ Dalam hal ini pengembangan kurikulum (sekolah) haruslah penyusun rencana yang matang. Mulai dari menentukan materi metode yang akan digunakan, alat/bahan sebagai sumber yang akan digunakan dalam pengembangan kurikulum sampai pada masalah mentoring dan evaluasi yang akan diterapkannya termasuk menentukan visi misi yang akan dijadikan keluar dalam pengembangan kurikulum. Perencanaan ini di maksudkan untuk mengetahui langkah apa yang dapat dalam melaksankan kurikulum. Oleh karena itu tahap perencanaan antara dalam pengembangan kurikulum ini sangat penting artinya bagi kelanjutan kurikulum, tanpa perencanaan yang matang dapat berakibat fatal, sehingga keberhasilan dan pencapaian tujuan akan mengalami hambatan. Berhasil tidaknya pengembangan kurikulum bergantung pada bagaimana perencanaan dilakukan. Bisa jadi kurikulum yang akan dilaksanakan tidak sesuai dengan stakeholder atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada. Itu sebabnya perencanaan penting untuk dilakukan.

II. Tahap Pelaksanaan
Seusai fungsinya kurikulum merupakan sarana untuk mencapai tujuan intruksional, menuju pembentukkan cita-cita yang diharapkan sebagai alat pendidikan serta sebagai perangkat bagi siswa dan guru, maka dalam pelaksanaanya pengembangan kurikulum harus dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan sasarannya seperti yang tertuang dalam undang-undang SISDIKNAS BAB X PASAL 3C yang berbunyi :
a. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar pendidikan nasional pendidikan untuk menwujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Kurikulum pada semua jenjang dan jensi pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
c. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka negara kesatuan republik indonesia dengan memperhatikan :
a) Meningkatkan Iman dan Taqwa
b) Peningkatan anak murid
c) Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik
d) Keragaman potensi daerah dan lingkungan
e) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f) Tuntutan dunia kerja
g) Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni
h) Agama
i) Dinamika perkembangan sosial
j) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Berkaitan yang tertulis di atas, maka dalam pelaksaan pengembangan kurikulum harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab dan sasaran.

III. Tahap Mentoring dan Evaluasi
Dalam proses pengembangan kurikulum di samping perlu adanya persiapan penyusunan, perencanaan, pelaksanaan pengembangannya, diperlukan juga monitoring untuk mengetahui sejauh mana kurikulum telah dilaksanakan dan perlu juga dilaksanakan evaluasi atau disebut juga adanya penilaian terhadap pengembangan kurikulum.
Penilaian sebagai komponen terakhir dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum berfungsi untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai sesuai dengan harapan. Penilaian dilakukan melalui mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar siswa sesuai dengan penilaian dalam hal ini merupakan proses pengimpulan dari pengolahan informasi untuk mengukur hasil dari proses pengembangan kurikulum yang telah dilaksanakan.

IV. Undang-undang SISDIKNAD BAB I Pasal 1
Secara garis besar proses pengembangan kurikulum melalui beberapa tahap antara lain:
Dimulai dari menentukan tujuan di kurikulum. Kemudian dikembangkan menjadi pedoman pembelajaran lalu diimplementasikan dalam proses pembelajaran sampai akhirnya melakukan evaluasi yang hasilnya akan dijadikan bahan untuk menentukan orientasi dalam pengembangan kurikulum yang akan datang.

10. Analisilah kurikulum kita selama ini dikaitkan dengan model-model kurikulum. Kurikulum yang selama ini diterapkan antara lain :

A. Kurikulum 1994 → Model Wheeler
Pada awalnya kurikulum yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum 1994, yang menggunakan model kurikulum “WHEELER “ yaitu dari atas ke bawah atau dengan kata lain dari pusat ke daerah. Dalam hal ini guru menginduk pada GBPD yang sudah ditentukan oleh pusat, sehingga guru berperan sebagai pelaksana di sekolah. Pada model Wheeler pengembang GBPP dijabarkan menjadi tujuan umu dan tujuan khusus di mana dalam hal ini guru berpedoman pada GBPP

B. Kurikulum 2004 / Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum 2004 dirancang sebagai pengembangan dari kurikulum 1994 yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Tetapi dalam hal ini ada melainkan 1 memperbaiki kurikulum dan disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum 2004 ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1994 yang berlaku sampai tahun 2006 dan dikenal sebagai kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Ella Yulaewati memaparkan psikologi yang mendasari KBK, dengan mengutip pemikiran Spencer, yaitu kopentensi merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kreteria yang efektif dan penampilan yang terbaik dalam pekerjaan dalam suatu situasi “Tipe Kompetensi yang dimaksud adalah : Motif, bawaan, konsep diri, Penghutanan dan Ketrampilan.
Berkaitan dengan pelaksanaan KBK, Dirjen Diknasmen menerbitkan Buku Pedoman Pengembangan Silabus sebagai acuan yang mencakup standar kompetensi, Materi pokok standar penilaian serta sumber bahan pelajaran. Dari cita-cita tersebut kurikulum 2004/2006/KBK dalam pengembangannya menggunakan model HILDA TABA yang mengedepankan pengalaman belajar sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa.

C. Kurikulum KTSP / Kurikulum 2006
Kurikulum KTSP atau yang disebut kurikulum 2006 adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mempunyai visi mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Kurikulum KTSP bersifat desentralistik dalam pengembangannya kurikulum KTSP ini menuntut Guru sebagai pelaksana dan pengembang kurikulum harus mempersiapkan empat (4) perangkat awal, yaitu :
i. Program Tahunan
ii. Program Semester
iii. Silabus dan
iv. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam pengembangan KTSP dama dengaan konseptual, yaitu mengkaitkan materi dengan kondisi nyata di masyarakat (melalui Pengamatan) serta cenderung lebih banyak menggunakan media sebagai sumber belajar. Menteri Pendidikan Nasional No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menegah dan peraturan menteri No. 22/2006. Tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. KTSP sebagai kurikulum penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. KTSP menganut sistem Fleksibilitas
Yakni sekolah diberi kebebasan merubah UJP dalam seminggu untuk di isi dengan muatan lokal sesuai situasi dan kondisi sekolah
2. Mengubah kebiasaan lama kebergantungan pada birokrat dengan mengurus diri sendiri rutinnya akademis.
3. Guru Kreatif dan Siswa aktif
4. Dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi (memasukkan muatan lokal sesuai kebutuhan daerah/sekolah)
5. Bersifat desentralisasi
6. Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan Seni
7. Beragam dan Terpadu
8. Belajar sepanjang hayat
9. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Dilihat dari pengertian, konsep dan ciri-ciri KTSP, dalam pengembangan menggunakan model pengembangan yang sama dengan KBK yaitu HILDA TABA.

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial. Berikut ini akan dibicarakan beberapa macam model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli.
 Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang berikutnya, sebenrnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapun model-model tersebut (ada empat model) dapat dikemukakan sebagai berikut :
 Model I. Model yang paling sederhana yang menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi, model tersebut merupakan model tradisional yang masih dipergunakan. Model I ini mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan urutan atau organisasi bahwa pelajaran secara sistematis, suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan juga.
 Model II. Model ini dilakukan dengan menyempurnakan model I dengan menambahkan kedua jawaban pada pertanyaan (3 dan 4) tersebut, yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran.
Dalam pengembangan kurikulum pada Model II di atas, sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya proses pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga sudah disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, Model II belum memperhatikan masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan yang dimaksud adalah berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan :
Buku-buku pelajaran apakah yang harus dipegrunakan dalam suatu mata pelajaran?
Alat atau media pengakaran apa yang dapat dipergunakan dalam mata pelajaran tertentu.
 Model III. Pengembangan kurikulum ini merupakan penyempurnaan Model II yang belum dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan 5 dan 6, yaitu dengan memasukkan unsur teknologi pendidikan ke dalamnya.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada Model III. Padahal masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan dengan masalah tujuan.
 Model IV. Merupakan penyempurnaan Model III, yaitu dengan memasukkan tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, baik metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran maupun kegiatan penilaian yang dilakukan.

 Model Administratif
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Model administratif sering pula disebut sebagai model “garis staf” (line staff) atau “dari atas ke bawah” (top down), karena inisiatif dan gagasan dari pada administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (dirjen, direktur atau kakanwil pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum, yang anggotanya terdiri atas pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugasnya komisi atau tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyisin komisi atau tim kerja pengembangan kurikulum. Tugas tim kerja ini adalah untuk merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan umum, memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, memilih strategi pengajharan dan evaluasi serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi pengajar.
Setelah semua tugas ini dari tim kerja selesai, hasilnya dikai ulang oleh tim pengarah untuk mendapatkan penyempurnaan, dan jika dinilai telah cukup baik, administrator menetapkan berlakunya kurikulum tersebut dan memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Model kurikulum seperti ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah.

 Model dari Bawah (The Grass Roots Model)
Model dari bawah ini merupakan lawan dari model administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum berasal dari bawah, yaitu para pengajar yang merupakan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasar pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksananya diikutsertakan pada kegiatan pengembangan kurikulum.
Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis yaitu berasal dari bawah. Guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya, guru yang paling tahu kebutuhan kelasnya. Oleh karena itu, dialah yang kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
Keuntungan model ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana, mengikutsertakan berbagai pihak bawah khususnya para pengajar.
Pengembangan kurikulum model dari bawah ini menuntut adanya kerjasama antar guru, antar sekolah-sekolah, serta harus ada kerjasama antar pihak orang tua murid dan masyarakat. Model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi didalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan sehingga dapat melahirkan manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

 Model Beauchamp (Beauchamp’s System)
Sesuai dengan namanya, model ini diformulasikan oleh G.A. Beauchamp’s (1964), ia mengemukakan lima hal penting dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
 Menetapkan “arena atau lingkup wilayah” yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut,yaitu berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional atau nasional.
 Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu : (1) para ahli pendidikan/kurikulum dan para ahli bidang dari luar, (2) para ahli pendidikan dari perguruan tinggai atau sekolah dan guru-guru terpilih, (3) para profesional dalam sistem pendidikan, (4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
 Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini untuk merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, kegiatan evaluasi dan menentukan seluruh desain kurikulum. Beauchamp membagi kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu (1) membentuk tim pengembang kurikulum, (2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang digunakan, (3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan-penentuan kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
 Implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis di sekolah.
 Evaluasi kurikulum. Merupakan langkah terakhir yang mencakup empat hal, yaitu : (1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, (2) evaluasi desain kurikulum, (3) evaluasi hasil belajar siswa, (4) evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum serta prinsip pelaksanaannya.

 Model Terbaik Hilda Taba (Taba’s Inverted Model)
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Taba berbeda dengan cara lazim yang bersifat deduktif karena caranya yang bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “model terbalik”. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model taba ini, yaitu :
 Mengadakan unit-unit eksperimen kerjasama guru-guru. Didalam unit eksperimen ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan langkah kegiatan dalam unit eksperimen ini : (1) mendiagnosis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan khusus, (3) memilih isi, (4) mengorganisasi isi, (5) memilih pengalaman belajar, (6) mengorganisasi pengalaman belajar, (7) mengevaluasi, (8) melihat sekuens dan keseimbangan.
 Menguji unit eksperimen. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya untuk kelas-kelas atau tempat lain.
 Mengadakan revisi dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen
 Menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional.
 Menyusun kurikulum, yang dikembangkan secara menyeluruh dan mendiseminasikan (menerapkan kurikulum pada daerah atau sekolah yang lebih luas).
Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.

 The Systemic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulu merupakan perubahan sosial. Hal ini mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut, model ini menekankan pada tiga hal, yaitu : hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat serta wibawa dari pengetahuan profesional. Penyusunan kurikulum dengan memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action-research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Dari hasil kajian itu, disusun rencana menyeluruh tentang cara-cara mengatasi masalah dan tindakan apa yang harus diambil.
Langkah kedua, mengimplementasi dari keputusan yang diambil dengan kegiatan mengumpulkan data dan fakta. Kegiatan ini mempunyai beberapa fungsi yaitu : (1) menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, (2) sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, (3) sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi, (4) sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.

 Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan seerta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :
 The Behavioral Analysis Model. Menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku / kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku yang sederhana yang tersusun secara hirarkis.
 The System Analysis Model. Berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga mengidentifikasi tahap-tahap hasil yang dicapai serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
 The Computer-Based Model. Suatu pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit kurikulum tersebut. Stelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil belajar siswa disimpan dalam komputer.
 Banyak model dari pengembangan kurikulum yang dapat digunakan. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya, serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model kosep pendidikan mana yang digunakan.

Entry filed under: IDE & PEMIKIRAN. Tags: .

article of education(tugas makul Pengembangan Kurikulum dan Program Pengajaran) Sistem Pembelajaran Tuntas (Tugas makul Orientasi Baru dalam Psikologi Belajar)

6 Comments Add your own

  • 1. Ahmad  |  April 30, 2011 at 12:46 am

    numpang copas untuk tugas yg sama buuuuuu

    Reply
    • 2. dee  |  May 4, 2011 at 1:54 pm

      silahkan… ^_^

      Reply
  • 3. diyan  |  May 16, 2011 at 3:24 pm

    Izin copy untuk bahan rujukan ya mbak …..

    Reply
    • 4. dee  |  May 18, 2011 at 9:23 am

      Silahkan jika ini sangat membantu.. ^_^

      Reply
  • 5. indramulyadi  |  May 6, 2012 at 9:54 pm

    makasih untuk referensi nya bu

    Reply
  • 6. siti  |  June 6, 2013 at 2:56 pm

    numpang copy y bu… coz ada tugas….
    mksh atas bahannya bu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



More clock widgets here

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: