Archive for March, 2011

10 Phenomenon of Natural Wonders (Subhanallah)

RED TIDES

Sebuah fenomena alam yang terjadi karena berkumpulnya mikroorganisme di pesisir tempat bergabungnya air dari muara, laut atau air sungai dan membuat air menjadi berwarna ungu dan merah.
Red Tides merupakan sebuah fenomena alam air laut yang berubah warna menjadi merah yang disebabkan oleh fitoplankton. Red Tides dapat menyebabkan kematian massal biota laut, perubahan struktur komunitas ekosistem perairan, keracunan dan juga bisa menyebabkan kematian pada manusia. Ini terjadi dikarenakan fitoplankton tersebut mengeluarkan racun.
Faktor yang mempengaruhi fenomena Red Tides yaitu termasuk suhu permukaan laut yang hangat, salinitas rendah, kandungan gizi yang tinggi, dan laut yang tenang. Selain itu, fitoplankton tersebut dapat menyebar dengan jauh oleh angin, arus, dan badai.

What is Red Tide?
Red tide is a phenomenon caused by algal blooms (Wikipedia definition) during which algae become so numerous that they discolor coastal waters (hence the name “red tide”). The algal bloom may also deplete oxygen in the waters and/or release toxins that may cause illness in humans and other animals. Species in the United States that release these harmful toxins include:

* Alexandrium fundyense—found along the Atlantic coast from the Canadian Maritimes to southern New England
* Alexandrium catenella—found along the Pacific coast from California to Alaska
* Karenia brevis—found in the Gulf of Mexico along the west coast of Florida

What Causes Red Tide?
Major factors influencing red tide events include warm ocean surface temperatures, low salinity, high nutrient content, calm seas, and rain followed by sunny days during the summer months. In addition, algae related to red tide can spread or be carried long distances by winds, currents, storms, or ships.

Where Are Red Tides Found?
Red tide is a global phenomenon. However, since the 1980s harmful red tide events have become more frequent and widespread. Detection of a spread is thought to be influenced by higher awareness of red tide, better equipment for detecting and analyzing red tide, and nutrient loading from farming and industrial runoff. Countries affected by red tide events include: Argentina, Australia, Brazil, Canada, Chile, Denmark, England, France, Guatemala, Hong Kong, India, Ireland, Italy, Japan, the Netherlands, New Zealand, Norway, New Guinea, Peru, the Philippines, Romania, Russia, Scotland, Spain, Sweden, Thailand, the United States, and Venezuela.

How Are Red Tides Harmful?
Red tide algae make potent natural toxins. It is unknown why these toxins are created, but some can be hazardous to larger organisms throught the processes of biomagnification and bioaccumulation. Grazers such as fish and krill are unaffected by the toxins, so as they eat the algae the toxins are concentrated and accumulate to a level that is poisonous eat to organisms that feed on them. Large fish kills and several mammalian diseases and deaths have been attributed to consumption of shellfish during red tide algal blooms. Diseases that may affect humans include:
* Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)—This disease is caused by the production of saxitoxin by the Alexandrium species. It is common along the Atlantic and Pacific coasts in the US and Canada. Poisoning occurs when one ingests shellfish contaminated with PSP toxins causing disruption of nerve function and paralysis. Extreme cases may result in death by asphyxiation by respiratory paralysis.
* Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP)—This disease is caused by the Dinophysis species. It generally occurs in Japan and Europe, but it has also been found in other countries such as Canada, the US, Chile, New Zealand, and Thailand. Symptoms of DSP include diarrhea, nausea, vomiting, abdominal pain, and cramps. DSP is generally not lethal.
* Amnesic Shellfish Poisoning (ASP)—This disease, which has been found along the eastern Canadian coast, is caused by domoic acid producing planktonic and benthic algae, including Pseudo-nitzschia pungens forma. Pseudo-nitzschia multiseries and Amphora coffaeformis. It can also be found in soft shell clams and blue mussels infected by Pseudo-nitzschia delicatissima. Gastric and neurological symptoms include dizziness, disorientation and memory loss.

What is Being Done About Red Tide?
Technological advancements such as satellite imagery have allowed scientists to better track and monitor harmful algal blooms. Tracking and monitoring red tide algae helps reduce harmful effects of the algae by providing warnings against eating infected shellfish and against swimming in infected waters. For example, the Sarasota Operations Coastal Oceans Observation Lab (SO COOL) has developed instruments that can test for red tide algae in coastal waters. Finally, researchers are attempting to develop an antidote to the red tide toxins. Interestingly, while developing such anti-toxins, researchers have found a possible cystic fibrosis treatment.

LIGHT PILLARS

Light pillar terlihat seperti tiang penyanggah langit yang bersinar keatas tanpa asal yang jelas. Fenomena ini terlihat saat cahaya dipantulkan oleh kristal es baik dari bawah maupun dari atas.Fenomena visual yg tercipta krn pantulan cahaya dari kristal es dekat permukaan planar sejajar horisontal. Cahaya dapat berasal dari matahari, biasanya pada saat matahari mau terbenam, dalam hal ini fenomena ini disebut pilar matahari. Dapat juga datang dari bulan atau dari sumber-sumber terestrial seperti lampu jalan.
Light Pillars penuh warna sering muncul di musim dingin saat salju atau es kristal memantulkan cahaya dari sumber yang kuat seperti matahari atau bulan. Dibantu oleh suhu yg dingin, pilar cahaya muncul ketika cahaya memantul dari permukaan datar mengambang kristal es yang relatif dekat dengan tanah. Pilar tampak seperti bulu cahaya yang memperpanjang secara vertikal di atas atau di bawah sumber cahaya, atau keduanya.pilar cahaya juga di bentuk dari sumber cahaya buatan seperti lampu jalanan, lampu mobil atau sumber cahaya yang kuat dari arena ice skating seperti pada gambar di atas dari Fairbanks, Alaska. Meskipun mereka merupakan fenomena lokal, pilar cahaya dapat melihat jauh seperti sebuah aurora. Semakin dekat seseorang melihat sumber pilar cahaya, semakin besar tampaknya.

A light pillar can sometimes be seen above the sun when it is setting or rising. It is caused by reflection of light off the base of horizontally aligned plate ice crystals in the atmosphere. The extend of the pillar is usually only a few degrees. More rarely, it is as much as 20 degrees or more. Light pillars are possible above and below the sun or moon; however, for earth-bound observers, the upper light pillar is most common, while the lower pillar is more likely when you are in an airplane flying above a cloud of ice crystals. The upper and lower light pillars at the sun can be present together with the parhelic circle and then form a giant cross in the sky, which was considered an omen in ancient and medieval folklore.
Light pillars are a kind of optical phenomenon which is formed by the reflection of sunlight or moonlight by ice crystals that are present in the Earth’s atmosphere. Owing to such optical phenomenon the sky sometimes seems like a natural kaleidoscope. Though light pillars seem like weather illusion , they are natural phenomena.
The light pillar looks like thin columns that that are sometimes extend vertically below or above the source of light. The Light Pillars are prominently visible when the sun is low or lies below the horizon. Normally these Light Pillars form arcs that extend from five to ten degrees just beyond the solar disc. Sometimes similar reflection of moonlight by varied forms of ice crystals may also take place thus resulting in the form of light pillars. Light Pillars are particularly formed due to the reflection of column or flat shaped ice crystals that are present in the ice or cirrus clouds, hence the name light pillars.
Colourful light pillars often appear in winter when snow or ice crystals reflect light from a strong source like the sun or moon. Aided by extreme cold, light pillars appear when light bounces off the surface of flat ice crystals floating relatively close to the ground. The pillars look like feathers of light that extend vertically either above or below the light source, or both. Light pillars also form from strong artificial light sources like street lamps, car headlights or the strong light sources of an ice-skating rink as in the picture above of Fairbanks, Alaska. Though they are local phenomena, light pillars can look distant like an aurora. The closer an observer is to the source of the light pillar, the larger it seems.

MOERAKI BOULDERS

Moeraki Boulders sepanjang hampir sempurna batu dengan keliling hingga 4meters. Mereka berada di Pulau Selatan Selandia Baru Selandia Baru dekat kota Moeraki, sekitar 35 km sebelah selatan Oamaru Oamaru. Moeraki Boulders muncul di dasar laut sekitar 60 juta tahun yang lalu oleh lapisan bertahap dari garam kalsium sekitar inti keras. Ini batu abu-abu yang tersebar di hampir 50 meter bagian panjang. Menurut legenda Moeraki Boulders Maori adalah makanan keranjang dari perahu Araiteura, yang rusak, dan keranjang berubah menjadi batu halus.
The Boulders Moeraki adalah bola batu yang menakjubkan dan mereka mengingatkan saya banyak di lingkungan orang-orang misterius yang dapat ditemukan di Amerika Selatan atau beberapa negara Eropa.Berbeda dengan bola misterius dari Amerika Selatan yang arkeolog tidak memiliki penjelasan yang masuk akal, yaitu sesuatu yang berbeda. Mereka terbentuk batu-batu bulat di sedimen dasar laut dalam proses yang mirip dengan proses penciptaan mutiara. Mereka telah membentuk bola selama ribuan tahun dan itu adalah luar biasa bagaimana bentuknya hampir sempurna seperti mereka yang dibuat oleh manusia bukan oleh alam. Beberapa dari mereka cukup besar dan sekitar 3 meter dengan diameter. Mereka dapat ditemukan batu-batu besar di Pantai Koekohe di Selandia Baru.

Scattered along the beach at Moeraki which is some 40 kilometers south of Oamaru, the boulders are a popular visitor attraction. The soft mudstone containing the boulders was raised from the sea bed around 15 million years ago and sea erosion of the cliff is exposing the erosion-resistant boulders. Emerging from the cliff, as if being born from the earth, the World famous Moeraki Boulders are septerian concretions formed some 65 million years ago. Crystallization of calcium and carbonates around charged particles in muddy undersea sediments gradually formed the boulders in a process taking as long as four million years. The soft mudstone containing the boulders was raised from the sea bed around 15 million years ago and sea erosion is exposing the erosion-resistant boulders. According to Maori tradition, the boulders are gourds and calabashes, which is traditional maori food, washed from the great voyaging canoe Araiteuru when it was wrecked upon landfall in New Zealand some 1000 years ago. Almost Unique in the world, the Moeraki Boulders are situated about 25 mins south from Oamaru along Sh1.Tthey can be seen emerging from the cliffs and slowly disappearing into the sand and the sea.Visitors can walk along the beach to visit the boulders, best seen at low tides, but visible most of the time.
The Moeraki Boulders are a number of huge spherical stones, found strewn along a stretch of Koekohe Beach near Moeraki, a small settlement just south of Hampden on New Zealand’s Otago coast. These boulders are grey-coloured septarian concretions which have been exposed through shoreline erosion from black mudstone coastal cliffs that back the beach. They originally formed in ancient sea floor sediments during the early Paleocene some 60 million years ago. The boulders weigh several tons and are up to three metres in diameter. Maori legend tells that the boulders are remains of calabashes, kumaras and eel baskets that washed ashore after the legendary canoe, the Araiteuru was wrecked at nearby Shag Point (Matakaea). In 1848 W.B.D. Mantell sketched the beach and its boulders, more numerous then than now.

ICE CIRCLES

Seperti halnya crop circle, ice circle merupakan fenomena aneh yang menyebabkan terbentuknya pola lingkaran aneh di permukaan air. Ice circle bisa terjadi dimana saja, jadi jika anda melihat pola lingkaran dipermukaan sungai atau danau, mungkin saja itu adalah ice circle yang baru terbentuk. Ice Circle atau lingkaran es adalah sebuah fenomena yang muncul pada air yang memiliki arus lambat di iklim dingin. Bentuknya menyerupai piringan raksasa yang terdiri dari es dan berotasi secara lambat di permukaan air. Misteri ini sesungguhnya sudah pernah disinggung pada abad ke-19. Sebuah gambar ilustrasi dari Ice Circle pernah dipublikasikan di majalah Scientific American pada tahun 1895. London News juga pernah melaporkan fenomena ini yang terjadi di Toronto tahun 1930.
Ice Circle umumnya muncul pada kelokan sungai dimana arus air yang berakselerasi menciptakan sebuah kekuatan yang disebut “rotational shear“, yang kemudian mematahkan bongkahan es dan memutarnya. Sejalan dengan perputaran piringan itu, ia menggiling es di sekelilingnya sehingga menjadi halus dan membentuk lingkaran sempurna. Fenomena ini walaupun sudah teridentifikasi penyebabnya, namun tetap merupakan kejadian yang langka.
Fenomena unik ini sering terlihat didaerah uk. Roy Jefferies, ketika sedang membawa anjingnya jalan di pinggiran sungai dia melihat terbentuknya pola lingkaran unik ini. Menurut dia diameter ice circle ini sekitar 10 kaki.

Ice circles are similar to crop circles only etched in thin ice on ponds and rivers rather than fields. Generally measuring between 15 to 20 feet in diameter, these ice circles have appeared in thin ice ponds, and water courses, in Canada and the US for many years.
An unusual rotating ice circle, normally found in the cooler rivers of Scandinavia or North America, has formed in the UK waterways.
The cause of the rare phenomenon is unclear, with very little scientific evidence available to explain the formation of the discs. UFO-enthusiasts claim that, like crop circles, the perfect discs are created by visiting aliens, but scientists believe the extreme cold weather combined with an unusual current is the more likely reason.

COLUMNAR BASALT

Formasi bebatuan yg terbentuk dikarenakan lava dari letusan gunung yg mendingin. karena magma mendingin dengan cepat, sehingga sebagian kecilnya membentuk kristal. Basalt yg terkenal di dunia terletak di Giant’s Causeway di Irlandia Utara.

Columnar Basalts are rock formations resulting from the quick cooling of lava flow. Fractures form in a random cellular network (similar to soap bubbles, organic cells, etc.), though the average distribution of sides is six, giving the hexagonal structures an eerie man-made appearance.
Giant lava flows covered much of Eastern Washington and parts of Idaho and Oregon 17 to 12 million years ago. Unlike volcanic eruptions such as Mt. St. Helens, lava erupted out of cracks in the earth’s crust and flowed for long distances. This type of volcano is called a basalt flood. It is estimated that around 300 floods occurred on the Columbia Plateau. The basalt cooled from the top of the lava flow, and also from the bottom up. As the basalt cooled it shrunk 5 to 10 percent and cracked, forming columns. As the basalt crystallized the cracks grew, but the bottom cracks did not match those at the top and created an area between the cooling layers that is chaotic compared to the uniform top and bottom layers. The in-between layer is called the entablature. The long columns that are obvious in the photo to the left is the lower portion of a basalt flow; the upper columns of this flow have been subjected to significant erosion, and only the entablature between the layers remains.
The shape, formation and texture of a basalt is usually determined by the way it erupted and also where it erupted in terms of if it erupted in the sea, in an volatile cinder eruption or as creeping pahoehoe lava flows, the standard image of Hawaiian basalt eruptions. The Columnar Basalt is produced during the period of the cooling of the thick lava flow, which forms contractional joints or fractures. The flow usually shrinks in the vertical measurement without fracturing, and cannot manage to sink in horizontal direction until the cracks are formed.
basalt (bəsôlt`, băs`ôlt), fine-grained rock, of volcanic origin, dark gray, dark green, brown, reddish, or black in color. Basalt is an igneous rock, i.e., one that has congealed from a molten state. Basaltic magma is derived by partial melting of the peridotite that is found in the asthenosphere which reaches the mid-ocean ridges, such as the Mid-Atlantic Ridge, and forms the new oceanic crust, the uppermost layer of the lithosphere. Because molten basalt is lighter than peridotite, it rises more rapidly. Basaltic magmas contain around 50% silica; they are the most common extrusive rocks and comprise more than 90% of all volcanic rock. It forms mostly lava flows, including present-day Hawaiian flows, and the ancient Columbia River plateau of the NW United States. Basalt dominates the mid-ocean islands and surrounding regions of the Hawaiian Islands and Iceland, as found by samples of lava flows found in drill cores recovered by vessels of the Deep Sea Drilling Project and the now defunct Project Mohole. Basalt contains a high percentage of iron and magnesium. Some basalts are porphyritic, i.e., they contain large crystalline structures called phenocrysts embedded in a matrix called a groundmass (see porphyry). Phenocrysts are usually formed in the molten lava before eruption and are often composed of the minerals olivine
and pyroxene. Where molten basalt cools rapidly, as at the earth’s surface, fine-grained rocks are formed. Basalt may be compact or vesicular, i.e., porous because of gas bubbles contained in the lava while it is solidifying. If the vesicles become subsequently filled with secondary minerals, e.g., quartz or calcite, the rock is called amygdaloidal basalt. Basalt may form as columns of rock, such as the Devil’s Tower in Wyoming; or it may form as twisted coils of rope, or cinders of jagged rock, called “pahoehoe” and “aa,” respectively. Gabbros are similar in composition to basalt, but gabbros are coarse-grained rocks formed by slow cooling in large underground masses, common in New York’s Adirondack Mts. When subjected to metamorphism, i.e., high temperatures and great pressures, basalt is transformed into various kinds of schists including hornblende schist. Fine and coarse-grained crystalline rocks returned from various regions of the moon by Apollo astronauts were similar in many respects to terrestrial basalts. Fine-grained basaltic lunar rocks are vesicular, with glass-lined pits on exposed surfaces that have been interpreted as micrometeorite impact scars. Lunar rocks differed from terrestrial basalts in lacking water and organic compounds, and were higher in titanium, magnesium, and iron.

CATATUMBO LIGHTNING

Catatumbo Lightning adalah sebuah fenomena aneh yang terjadi pada atmosfer bumi. Catatumbo Lightning adalah fenomena petir yang terus menyambar dengan intensitas yang tinggi. Bahkan bisa mencapai 400.000 lebih sambaran dalam setahun. Fenomena ini terdapat di negara Venezuela.
Setelah berabad – abad Catatumbo Lightning terus menerus muncul, pada Januari 2010 Catatumbo Lightning sempat tidak muncul. Banyak yang menyangka jika Catatumbo Lightning sudah tidak akan muncul – muncul kembali. Dan hingga pada April 2010, Catatumbo Lightning muncul kembali. Belakangan diketahui bahwa kekeringan lah yang menyebabkan Catatumbo Lightning sempat tidak muncul – muncul.
Catatumbo Lightning terletak di muara sungai Catatumbo, lebih tepatnya di Danau Maracaibo, Venezuela. Petir yang menyambar pun intensitasnya cukup membuat saya sempat menggelengkan kepala. Bayangkan saja, petir tersebut rata – rata menyambar selama 10 jam dalam sehari, dan dalam satu jam, petir tersebut dapat menyambar rata – rata sampai 280 kali sambaran dalam satu jam. Bisa anda bayangkan berapa kali petir Catatumbo menyambar dalam sehari !!
Dan yang lebih menakjubkannya lagi, dalam satu tahun, petir bisa menyambar sampai 140 sampai 160 hari dari 365 hari dalam setahun. Dan petir tersebut rata – rata menyambar dengan ketinggian 5 km. Sungguh luar biasa sekali bukan ?
Penelitian juga mengatakan bahwa Catatumbo Lightning adalah penghasil ozon dengan presentase tertinggi di dunia, dari seluruh tempat di dunia. Karena Catatumbo Lightning dapat menghasilkan sekitar 1.176.000 kW listrik di atmosfer.
Masyarakat kuno Yukpa di negeri tersebut mempercayai bahwa kilatan warna biru, putih, dan merah muda Catatumbo Lightning, terjadi saat kunang – kunang bertemu dengan roh para leluhur. Selama berabad – anad para pelaut pun menggunakan Catatumbo Lightning sebagai alat navigasi dari alam agar mereka tidak tersesat di lautan. Karena Catatumbo Lightning bisa terlihat dari jarak yang jauh, bahkan sampai ratusan mil jauh nya. Oleh karena itu Catatumbo Lightning juga sering disebut Lighthouse of Maracaibo atau dalam bahasa Indonesia nya Mercusuar Maracaibo.
Catatumbo Lightning konon telah ada sejak berabad – abad yang lalu. Catatan sejarah mengenai Catatumbo Lightning sendiri pertama kali tercatat pada tahun 1597 dalam sebuah puisi epik karangan Lope de Vega berjudul La Dragontea.
Alexander von Humboldt, seorang naturalis Prussia, pernah menggambarkan Catatumbo Lightning sebagai “ledakan listrik yang seperti sinar pendar”. Seorang Geografis dari Italia yang bernama Agustin Codazzi, pernah menggambarkan Catatumbo Lightning sebagai “kilat yang tampaknya muncul dari sungai Zulia lanjutan dan sekitarnya”.
Studi mengenai Catatumbo Lightning pertama kali dilakukan oleh Melchor Centeno. Kemudian pada tahun 1966 sampai 1970, ilmuwan Andrew Zavrostky melakukan tiga ekspedisi dengan bantuan dari University of Los Andes yang menyimpulkan bahwa areal tersebut akan memiliki episentris di rawa – rawa dari Swamp National Park Juan Manuel de Aguas, Claras Aguas Negras dan Danau Maracaibo bagian barat. Pada tahun 1991, ia juga mengatakan bahwa fenomena tersebut terjadi karena adanya pertemuan arus udara hangat dan dingin di daerah tersebut. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa penyebab untuk kilat terisolasi mungkin karena keberadaan uranium di dasar bebatuan.
Kemudian pada tahun 1997 sampai 2000, Nelson Falcon melakukan beberapa ekspedisi dan menghasilkan model mikrofisika dari Catatumbo Lightning yang mengidentifikasikan bahwa metana lah yang menyebabkan Catatumbo Lightning. Namun saat itu teori ini masih dianggap hanya sekedar spekulasi.
Tapi belakangan, penyebab fenomena tersebut adalah gas nontoksik metana yang menguap dari rawa dan endapan minyak.

The Catatumbo Lightning (Spanish Relámpago del Catatumbo) is an atmospheric phenomenon in Venezuela. It occurs strictly in an area located over the mouth of the Catatumbo River where it empties into Lake Maracaibo. The frequent, powerful flashes of lightning over this relatively small area are considered to be the world’s largest single generator of tropospheric ozone but not replenishing the ozone layer, as the latter is located in the stratosphere.
It originates from a mass of storm clouds that create a voltaic arc at more than 5 km of height, during 140 to 160 nights a year, 10 hours per day and up to 280 times per hour. It occurs over and around Lake Maracaibo, typically over a bog area that forms where the Catatumbo River flows into the Venezuelan lake.
After appearing continually for centuries, the lightning was not seen for several months between January and April 2010, apparently due to a drought, raising fears that it may have been extinguished permanently.
The Catatumbo lightning usually develops between the coordinates 8 ° 30 ‘and 9 º 45′ north latitude and 71 º and 73 º W.
The storms (and associated lightning) are likely the result of the winds blowing across the Maracaibo Lake and surrounding swampy plains. These air masses inevitably meet the high mountain ridges of the Andes, the Perijá Mountains (3,750m), and Mérida’s Cordillera, enclosing the plain from three sides. The heat and moisture collected across the plains creates electrical charges and, as the air masses are destabilized at the mountaiN ridges, resulting in almost continual thunderstorm activity.
The phenomenon is characterized by almost continuous lightning, mostly within the clouds, which is produced in a large vertical development of clouds that form large electric arcs between 2 and 10 km in height (or more). The lightning tends to start approximately one hour after dusk.
Among the major modern studies there is the one done by Melchor Centeno, who attributes the origin of the thunderstorms to closed wind circulation in the region.
Between 1966 and 1970 the scientist Andrew Zavrostky with assistance from the University of Los Andes made three expeditions which concluded that the area would have several epicentres in the marshes of the Swamp National Park Juan Manuel de Aguas, Claras Aguas Negras and west Lake Maracaibo, and in 1991 he suggested that the phenomenon occurred due to cold and warm air currents meeting around the area. The study also speculated that an isolated cause for the lightning might be the presence of uranium in the bedrock.
Between 1997 and 2000 Nelson Falcón conducted several expeditions and produced the first microphysics model of the Catatumbo Lightning identifying the methane produced by the swamps and the oil deposits in the area as a major cause of the phenomenon. It has been noted to have little effects on local flora such as ferns, despite concerns.
Historically the first written mention of the Catatumbo lightning was in the epic poem “La Dragontea” by Lope de Vega (1597) where the defeat of the English pirate or privateer Sir Francis Drake is narrated. The Prussian naturalist and explorer Alexander von Humboldt once described it as “electrical explosions that are like phosphorescent gleam”. Italian geographer Agustin Codazzi described it as a “lightning that seems to arise from the continued Zulia river and its surroundings”. The phenomenon became so celebrated that it was depicted in the flag and coat of arms of the state of Zulia, which contains Lake Maracaibo, and mentioned in the state’s anthem. This phenomenon, for century popularly known as the Lighthouse of Maracaibo since its lights are visible for miles out at sea[10] and the boats that sail the area navigate at night without any problems, e.g. from the lake (where no clouds usually occur at night).

CAVE OF THE CRYSTALS

Cueva de los Cristales (Cave of the Crystals) atau gua kristal, adalah sebuah gua yang terdapat di daerah Naica Mine, Chihuahua, Meksiko. Gua tersebut mengandung kristal selenit raksasa, dan beberapa merupakan kristal alami terbesar di dunia.
Kristal terbesar berukuran 11 m (36 feet), diameter 4 m (13 feet) dan beratnya 55 ton. Ukuran guanya sendiri sekitar 30 m panjangnya, lebar 10 m dan berada di kedalaman 300 m di bawah tanah. Gua ini ditemukan pada tahun 2000 oleh para penambang yang menggali terowongan baru bagi perusahaan pertambangan Industrias Peñoles yang terletak di Naica, Meksiko.
Suhu dalam gua panas, 43 °C (109 °F) dengan kelembabpan 90-100%. Suhu yang panas ini dikarenakan posisi gua yang dekat dengan saluran magma. Gua ini sendiri relatif tidak dapat dikunjungi, karena tanpa peralatan khusus, manusia hanya bisa hidup 10 menit di kondisi ini dan 45 menit dengan menggunakan peralatan khusus. Selain suhu, bahaya yang mengancam adalah apabila kita salah jatuh dan terpeleset maka bisa saja tertusuk oleh kristal yang tajam dan mati.
Kristal gua terbentuk karena ada dapur magma bawah tanah di bawah gua. Magma yang memanaskan air tanah dan menjadi jenuh dengan mineral, termasuk sejumlah besar gips. Ruang rongga gua itu diisi dengan air panas mineral yang kaya dan tetap penuh selama sekitar 500.000 tahun. Selama waktu ini, suhu air tetap sangat stabil di atas 50 ° C. Hal ini memungkinkan kristal mikroskopis untuk terbentuk dan tumbuh. Mereka terus tumbuh sampai ukuran besar.

Cave of the Crystals or Giant Crystal Cave (Spanish: Cueva de los Cristales) is a cave connected to the Naica Mine 300 metres (980 ft) below the surface in Naica, Chihuahua, Mexico. The main chamber contains giant selenite crystals, some of the largest natural crystals ever found. The cave’s largest crystal found to date is 11 m (36 ft) in length, 4 m (13 ft) in diameter and 55 tons in weight. The cave is extremely hot with air temperatures reaching up to 58 °C (136 °F). The cave is relatively unexplored due to the extreme temperatures and high humidity. Without proper protection people can only endure approximately ten minutes of exposure at a time. A group of scientists known as the Naica Project have been heavily involved in researching these caverns.
Naica lies on an ancient fault and there is an underground magma chamber below the cave. The magma heated the ground water and it became saturated with minerals, including large quantities of gypsum. The hollow space of the cave was filled with this mineral rich hot water and remained filled for about 500,000 years. During this time, the temperature of the water remained very stable at over 50°C. This allowed crystals to form and grow to immense sizes.
In 1910 miners discovered a cavern beneath the Naica mine workings, the Cave of Swords (Spanish: Cueva de las Espadas). It is located at a depth of 120 m, above the Cave of Crystals, and contains spectacular, smaller (1 m long) crystals. It is speculated that at this level, transition temperatures may have fallen much more rapidly, leading to an end in the growth of the crystals.
The Giant Crystal cave was discovered in 2000 by miners excavating a new tunnel for the Industrias Peñoles mining company located in Naica, Mexico, while drilling through the Naica fault, which they were concerned would flood the mine. The mining complex in Naica contains substantial deposits of silver, zinc, and lead.
The Cave of Crystals is a horseshoe-shaped cavity in limestone rock. Its floor is covered with perfectly-faceted crystalline blocks. Huge crystal beams jut out from both the blocks and the floor. The caves are accessible today because the mining company’s pumping operations keep them clear of water. If the pumping were stopped, the caves would again be submerged. The crystals deteriorate in air, so the Naica Project is attempting to visually document the crystals before they deteriorate further.
A further chamber was found in a drilling project in 2009. The new cave, named the Ice Palace, is 150 m deep and is not flooded, but its crystal formations are much smaller, with small ‘cauliflower’ formations and fine, threadlike crystals.
Crystals thrived in the cave’s extremely rare and stable natural environment. Temperatures hovered consistently around a steamy 136 degrees Fahrenheit (58 degrees Celsius), and the cave was filled with mineral-rich water that drove the crystals’ growth. Modern-day mining operations exposed the natural wonder by pumping water out of the 30-by-90-foot (10-by-30-meter) cave, which was found in 2000 near the town of Delicias (Chihuahua state map). Now García-Ruiz is advising the mining company to preserve the caves.

PENITENTES

Penitentes, atau penitentes Nieves (“salju penitente berbentuk”, dalam bahasa Spanyol), adalah pembentukan salju yang ditemukan di ketinggian. Mereka mengambil bentuk bilah tipis tinggi salju mengeras atau es berjarak dekat dengan pisau berorientasi pada arah umum dari matahari. Pinakel salju ini atau es tumbuh diatas semua area yang tercakup glaciated dan salju di Andes Kering di atas 4.000 m (Lliboutry 1954a, 1954b Lliboutry, Lliboutry 1965). Mereka berbagai ukuran dari beberapa cm hingga lebih dari lima meter. (Lliboutry 1965, Naruse dan Leiva 1997). Louis Lliboutry (Spanyol: Luis Lliboutry) adalah seorang glaciologist Perancis-Chili awal, geografi dan pendaki gunung Andes. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah perjanjian luas Nieves y Glaciares de Chile: Fundamentos de glaciología diterbitkan pada tahun 1956. Lliboutry-karya terkonsentrasi ke glasiologi dari Andes Kering dan Basah Andes, khususnya di sekitar Santiago. Salah satu kontribusinya paling menonjol adalah tentang pembentukan penitentes.
Lliboutry mencatat bahwa kondisi iklim kunci untuk ablasi diferensial yang mengarah pada pembentukan penitentes adalah titik embun selalu di bawah titik beku.Dengan demikian, salju akan menghaluskan, karena sublimasi memerlukan masukan energi yang lebih tinggi daripada mencair. Setelah proses dimulai ablasi diferensial, geometri permukaan penitente berkembang menghasilkan suatu mekanisme umpan balik positif, dan radiasi yang terperangkap oleh beberapa refleksi antara dinding. Cekungan menjadi hampir setiap benda hitam untuk radiasi, sementara angin menurun mengarah ke udara kejenuhan, peningkatan suhu titik embun dan awal mencair. Dalam puncak cara, di mana massa yang hilang hanya karena sublimasi, akan tetap, serta dinding yang curam, yang hanya mencegat minimal radiasi matahari. Dalam ablasi palung ditingkatkan, mengarah ke pertumbuhan ke bawah penitentes. Sebuah model matematis dari proses tersebut telah dikembangkan oleh Betterton (2001), meskipun proses fisik pada tahap awal pertumbuhan penitente, dari butiran salju micropenitentes, masih tetap tidak jelas. Pengaruh penitentes terhadap keseimbangan energi permukaan salju, dan karena itu efeknya pada salju mencair dan sumber daya air telah dijelaskan oleh Corripio (2003) dan Corripio dan Purves (2005). Penitentes pertama kali diuraikan dalam literatur oleh Darwin pada tahun 1839. Pada tanggal 22 Maret 1835, ia harus menekan jalan melalui salju tercakup dalam penitentes dekat Pass Piuquenes, dalam perjalanan dari Santiago de Chile ke kota Mendoza Argentina, dan melaporkan kepercayaan lokal (terus hari ini) bahwa mereka dibentuk oleh angin kuat dari Andes.
Mekanisme ‘kelahiran mereka (The Penitentes)’ agak sedikit rumit, dan hal itu bergantung pada ablasi diferensial. Pada dasarnya, untuk penitentes untuk membentuk, titik embun harus di bawah titik beku. Akibatnya, salju akan menghaluskan, yang membutuhkan energi lebih dari mencair. Geometri dari permukaan menyediakan mekanisme umpan balik positif bagi radiasi, yang terjebak oleh beberapa refleksi, membuat cekungan. Cekungan ini, dikombinasikan dengan angin yang meningkatkan suhu titik embun menyediakan kondisi yang tepat untuk sublimasi untuk menciptakan dinding curam dan puncak.

Penitentes, or nieves penitentes (“penitente-shaped snows”, in Spanish), are a snow formation found at high altitudes. They take the form of tall thin blades of hardened snow or ice closely spaced with the blades oriented towards the general direction of the sun. Penitentes can be as tall as a person. These pinnacles of snow or ice grow over all glaciated and snow covered areas in the Dry Andes above 4,000 m (Lliboutry 1954a, Lliboutry 1954b, Lliboutry 1965). They range in size from a few cm to over five metres. (Lliboutry 1965, Naruse and Leiva 1997).
Penitentes were first described in the literature by Darwin in 1839. On March 22, 1835, he had to squeeze his way through snowfields covered in penitentes near the Piuquenes Pass, on the way from Santiago de Chile to the Argentinian city of Mendoza, and reported the local belief (continuing to the present day) that they were formed by the strong winds of the Andes.
Lliboutry noted that the key climatic condition for the differential ablation that leads to the formation of penitentes is that dew point is always below freezing. Thus, snow will sublimate, because sublimation requires a higher energy input than melting. Once the process of differential ablation starts, the surface geometry of the evolving penitente produces a positive feedback mechanism, and radiation is trapped by multiple reflections between the walls. The hollows become almost a black body for radiation, while decreased wind leads to air saturation, increasing dew point temperature and the onset of melting. In this way peaks, where mass loss is only due to sublimation, will remain, as well as the steep walls, which intercept only a minimum of solar radiation. In the troughs ablation is enhanced, leading to a downward growth of penitentes. A mathematical model of the process has been developed by Betterton (2001), although the physical processes at the initial stage of penitente growth, from granular snow to micropenitentes, still remain unclear. The effect of penitentes on the energy balance of the snow surface, and therefore their effect on snow melt and water resources have been described by Corripio (2003) and Corripio and Purves (2005).

PINK AND WHITE TERRACES

Keajaiban alam yang tinggal kenangan karena dihancurkan oleh letusan gunung berapi tarawera pada tahun 1886, Fenomena alam air hangat ini terbentuk dari semburan geyser yang melintas menuruni lereng bukit meninggalkan ketebalan es. Kolam air hangat terbesar ini tercatat 3 hektar, sebelum kehancuranya fenomena ini masuk kedalam “The Eighth Wonder of the World”.

New Zealand’s Pink and White Terraces, or Otukapuarangi (“fountain of the clouded sky”) and Te Tarata (“the tattooed rock”) in Māori, were considered a natural wonder. They were thought to have been completely destroyed by a violent volcanic eruption in 1886, but researchers discovered portions of the Pink Terraces on the bottom of Lake Rotomahana in 2011. The Pink and White terraces have been dubbed by a number of people as “The Eighth Wonder of the World”.
The terraces, located on the edges of Lake Rotomahana near Rotorua, were New Zealand’s most famous tourist attraction. They were attracting tourists from Europe in the early 1880s, when New Zealand was still relatively inaccessible and when passage took several months by sailing ship.
The Pink and White Terraces were the only New Zealand example of travertine terrace formations; they were formed by geothermally heated water containing large amounts of siliceous sinter regularly spouting from two geysers located beside Lake Rotomahana and cascading down a hill slope, leaving thick pink and white silica deposits that formed terraces enclosing pools of water. The White Terraces were the larger and more beautiful formation, covering 3 hectares and descending 30 metres, while the Pink Terraces were where people went to bathe.
The terraces were thought to have been destroyed around 3 am on 10 June 1886 as Mount Tarawera’s eruption spread from the summit, five kilometres to the north, down to Lake Rotomahana. The volcano belched out hot mud, red hot boulders and immense clouds of black ash from a 17 kilometre rift that crossed the mountain, passed through the lake, and extended beyond into the Waimangu valley. The eruption also buried several villages including the Māori and European settlement of Te Wairoa, killing approximately 120 people. After the eruption, a crater over 100 metres deep encompassed the former site of the terraces. After some years this filled with water to form a new Lake Rotomahana, 30 metres higher and much larger than the old lake.
A team including researchers from GNS Science, Woods Hole Oceanographic Institution, Lamont-Doherty Earth Observatory, and Waikato University were mapping the lake floor when they discovered a portion of the Pink Terraces in early 2011. The lower two tiers of the terraces were found in their original location at a depth of 60 metres (200 ft). It is unclear whether other tiers may have survived but been buried by ash or sediments.
The world famous Pink and White Terraces were considered to be the eighth wonder of the natural world and were New Zealand’s most famous tourist attraction. Unfortunately they were completely destroyed by a volcanic eruption on the 10th June 1886, at 3:00 am by Mt Tarawera, which violently erupted, belching out hot mud, red hot boulders and immense clouds of black ash. Several hours later, the bed of Lake Rotomahana blew out, burying the Maori villages of Moura and Te Ariki under a deep layer of liquid mud, stones and ash. The Mount Tarawera eruption was New Zealand’s most violent and destructive volcanic eruption in recent history. Mount Tarawera is 30 kilometres from Rotorua amidst the North Island’s volcanic- thermal region. This eruption caused approximately 153 deaths. The explosions were heard as far away as Auckland to the North and Christchurch to the South, and were thought to come from a ship in distress, whilst many in the Manawatu believed that the visiting Russian man-of-war, Vestnick was bombarding Wanganui. In Rotorua, no one was in any doubt as to what was happening.
Scientists are to use unmanned submarines to search a Rotorua lake for traces of the famed Pink and White Terraces, which were promoted as a tourism wonder before vanishing during the 1886 eruption of Mt Tarawera. Two torpedo-like unmanned underwater vehicles will be used to map the bottom of Lake Rotomahana as New Zealand and American researchers map hydrothermal vents on the lake bed, about 22km southeast of Rotorua. The lake was enlarged to its present 3km-by-6km size during the Tarawera eruption, from the Rotomahana and Rotomakariri lakes. The pink terraces were originally on the west bank of Lake Rotomahana and the white ones were on the north side, and researchers said there was a possibility parts survived the eruption, particularly the white terraces, which were protected from the explosion by a ridge. At the time, they were the largest silica terraces in the world and represented an enormous flow of geothermal fluid into the lake from vents on land. Now they are thought to be covered by at least 50m of lake water plus an additional sediment layer of unknown thickness.

SUN DOGS

March 18, 2011 at 4:32 am Leave a comment

Pusing euy jadinya…

Writing A Thesis or Paper – “Food For Thought”

I am frequently asked for assistance with references and information from university students and this I accept as one of the ways that students are utilizing the new technologies and I am pleased that they are searching for information using all available resources.

However, a major concern of mine for several years (till today) is that many university students are “asking me about how to write a thesis”, and of even greater concern, is that “many also ask for suggestions for a thesis topic” Ehh…..

See (Mohon baca) PojokGuru.Com http://pojokguru.com/skripsi.html

I think it may be helpful at this time to raise some issues and possible thesis topics that I would chose if I was going to write a thesis about Education Technology in Indonesia. (If anyone would like to use them they are certainly welcome – need refining)

DRAFT August 22, 2009

Accepted Conditions – “Not under debate.”

- The learning of ICT is an urgent national priority and the current plans to achieve a 1:20 computer / student ratio (or better) by year 2015 must be fully supported.

- A 1:20 ratio is a minimum for conducting an effective ICT learning program, but certainly insufficient to consider e-learning as a effective national educational option.

Hypothesis 1

“The high priority given to e-learning in the public k-12 education sector in Indonesia is “currently” counter-productive, and the focus of our teaching institutions upon computerised learning as a solution for improving education quality in schools is inapproriate and unsupported.”

Major Issues:

– It will be at least another 10 years before there are sufficient computers in our public schools to even consider commencing a minimal national e-learning program.

- With current computer/ student ratiois 1:2,000 any real developments that may be achieved will only further widen the gap for the majority of students who don’t have access or facilities.

- A clasroom Contextual learning environment is still recognized as the best form of education
http://teknologipendidikan.com/kbm.html

- Because of the high profile given to issues like e-learning by government bodies and media, the majority of teachers in the field, who don’t have access to these facilities may believe that they are dis-advantaged and limited educationally.

- Frequently students who achieve national acclaim in contests, for example Olympiads, are for small towns and villages, and not from large high-tech cities or schools.
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=14&artid=1074

- We must question whether technology and all the trappings and distractions (entertainment, chatting, etc.) and time-wasting options are actually reducing the quality of learning in our communities. This is a global issue, not just an issue for Indonesia. http://E-Pendidikan.Com

- High-tech developed countries are frequently questioning the quality of their education systems and how effectively they are preparing their students academically and for their real-world needs.
http://teknologipendidikan.com

- The development of “quality” e-learning materials is extremly difficult and well beyond the abilities of most teachers in the field.

- Insufficient research has been conducted in Indonesia to support the notion that e-learning will improve education quality.
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Hypothesis 2

“Institutions teaching education technology courses are not adequately preparing their students for the real-world (Appropriate Technology) needs of our learning communities.”

Accepted Conditions – “Not under debate.”

1) There is a role for E-Learning in External Studies for university students residing at great distances from their campus, and for people in the workforce who need to study at times that they have available.

2) There is a very large role and market for E-Learning in the corporate sector for staff training. Many staff can not make themslves available (and it is also costly) to attend classes. For instance, Field Technical Staff, Pilots, Nurses, etc….

- But not in schools?

Major issues: (Note: Many of the issues above also relate to this topic)

Basic Reading: Do we need high-technology to achieve quality learning – certainly not!

“Indeed, I can answer “No” without any hesitation to your basic question ‘do we need education technology to achieve quality teaching/learning?'” (Totok Amin Soefijanto, 31-8-2008) Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta. He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University.
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

– Appropriate education technologies are not currently being maximized in our schools.

- Insufficient emphasis upon training for education technology students in the application of appropriate technologies.

Why is the major thrust of our teaching institutions hi-tech based?

- What are the educational implications for a technology-driven society?

- Classroom of the future – What Future?
http://teknologipendidikan.com/backpack.html

- Are we really enhancing our students education or de-skilling our students?
http://educationtechnology.us/savestime.html

– There is a lack of evidence to support the notion that e-learning in Indonesia improves learning performance.

- There are insufficient materials available currently to support e-learning programs.

- The production of quality effective learning materials is extremely difficult.

Issues for thought:

Welcome to the world of Education Technology. One of the greatest challenges for the educator (who really cares about education), is wading through all the hype (rhetoric) and finding truths.

Who is the real driving force behind technology in education?

March 12, 2011 at 1:27 pm Leave a comment

CURHAT tentang TP? Woow…

March 12, 2011 at 1:23 pm Leave a comment

Contoh penelitian pendekatan sistem (tugas makul Metodologi Penelitian)

Judul Penelitian : Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Oleh Siswa Program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan.

A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran, maka keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak hanya ditentukan oleh faktor pengajar/guru, melainkan sangat dipengaruhi oleh keaktifan siswa. Kurikulum baru tahun 2004 mempertegas bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta belajar, pengajar bukan sebagai satu-satunya sumber belajar atau sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator dalam pembelajaran.
Selain sumber belajar berupa perpustakaan yang tersedia di sekolah, sekarang ini berkembang teknologi internet yang memberikan kemudahan dan keleluasaan dalam menggali ilmu pengetahuan. Melalui internet siswa dapat mengakses berbagai literatur dan referensi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dengan cepat, sehingga dapat mempermudah proses studinya.
Seperti yang kita ketahui sebagai salah satu sumber belajar tercanggih, internet tengah dimanfaatkan oleh banyak orang. Menurut Roy Suryo, pakar telematika berdasarkan statistik Indonesia terdapat 11, 5 juta jiwa orang yang melakukan akses internet atau 5,2 %dari total pengguna internet di seluruh Indonesia, berkembang dengan sangat pesat dan sudah menjadi kebutuhan utama bagi setiap orang. Penyebabnya dikarenakan oleh jaringan internet yang telah mengglobal ini memungkinkan seseorang mengakses sumber informasi di seluruh dunia dengan mudah, termasuk informasi dalam bidang pendidikan. Adapun manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan on-line, sumber literatur, akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi-materi belajar , akses kepada narasumber bisa dilakukan tanpa harus bertemu secara fisik, dan sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian bersama atau membuat semacam makalah bersama.
Penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan telah memanfaatkan teknologi internet sebagai sumber belajar yang mendukung proses belajarnya di bangku sekolah.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber belajar, antara lain : optimalisasi pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar, pemenuhan koleksi buku-buku yang tersedia di perpustakaan, pemanfaatan internet sebagai sumber belajar, serta pemanfaatan sumber daya lingkungan sebagai sumber belajar.

C. Batasan Masalah
Meskipun banyak permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran, namun dalam penelitian ini hanya membatasi pada masalah pemanfaatan internet sebagai sumber belajar oleh siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan.

D. Rumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan telah memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ?
2. Alasan apa yang memotivasi siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ?
3. Faktor apa sajakah yang mendukung dan menghambat siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan untuk memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Jumlah siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan yang telah memanfaatkan internet sebagai sumber belajar.
2. Alasan yang memotivasi mahasiswa siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar.
3. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi siswa, untuk lebih meningkatkan pemanfaatan teknologi internet sebagai sumber belajar, sehingga mempercepat masa studinya.
2. Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan dan program kerja yang berkaitan dengan fasilitas sumber belajar.
3. Bagi peneliti, sebagai dorongan untuk lebih meningkatkan penguasaan teknologi informasi sehingga dapat memperbaiki kemampuan dalam mengajar.

G. Definisi Operasional
1. Internet
Adalah jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat diakses dari berbagai belahan dunia secara cepat.
2. Sumber Belajar
Segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.

H. Kajian Pustaka
a. Pengertian Internet
Internet adalah kependekan dari inter-network. Secara harfiah mengandung pengertian sebagai jaringan komputer yang menghubungkan beberapa rangkaian (www.wikipedia.com). Jaringan internet juga didefinisikan sebagai jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dikomunikasikan antar belahan dunia secara instan dan global (www.jurnal-kopertis4.org). Selain kedua pengertian di atas, internet juga disebut sebagai sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan situs akademik, pemerintahan, komersial, organisasi, maupun perorangan. Internet menyediakan akses untuk layanan telekomunikasi dari sumber daya informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan internet meliputi komunikasi langsung (e-mail, chat), diskusi (usenet news, milis, bulletin board), sumber daya informasi yang terdistribusi (World Wide Web, Ghoper), remote login dan lalu lintas file (Telnet, FTP), serta berbagai layanan lainnya (www.andhika.com).
Sejalan dengan perkembangan internet, telah banyak aktivitas yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, seperti e-Commerce, e-Banking, e-Government, e-Learning dan lainnya. Salah satu aktivitas yang berkaitan dengan proses pembelajaran adalah e-Learning. E-Learning adalah wujud penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dalam bentuk sekolah maya. E-Learning merupakan usaha untuk membuat sebuah transformasi proses belajar mengajar di sekolah dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet.
b. Internet dalam Kegiatan Belajar
Fred S Keller, teknolog pendidikan era tahun 1960-an mengkritik penerapan metode-metode pembelajaran konvensional yang kurang menarik perhatian peserta didik. Menurut dia, peserta didik harus diberi akses yang lebih luas dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuannya. Dikatakannya pula bahwa guru bukanlah satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas. Siswa harus diberi kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar (www.kompas.com).
Kekayaan informasi yang sekarang tersedia di internet telah lebih mencapai harapan dan bahkan imajinasi para penemu sistemnya. Melalui internet dapat diakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan aktual dengan sangat cepat. Adanya internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat dalam bentuk Digital Library. Sudah banyak pengalaman tentang kemanfaatan internet dalam penelitian dan penyelesaian tugas siswa. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat juga dilakukan melalui internet. Tanpa teknologi internet banyak tugas akhir dan thesis atau bahkan desertasi yang mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikannya (www.jurnal-kopertis4.org).
Para akademisi merupakan salah satu pihak yang paling diuntungkan dengan kemunculan internet. Berbagai referensi, jurnal, maupun hasil penelitian yang dipublikasikan melalui internet tersedia dalam jumlah yang berlimpah. Para siswa tidak lagi harus mengaduk-aduk buku di perpustakaan sebagai bahan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Cukup memanfaatkan search engine, materi-materi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan cepat. Selain menghemat tenaga dan biaya dalam mencarinya, materi-materi yang dapat ditemui di internet cenderung lebih up to date.
Bagi para pengajar, internet bermanfaat dalam mengembangkan profesinya, karena dengan internet dapat : (a) meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber diantara rekan sejawat, (c) bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, (d) kesempatan mempublikasikan informasi secara langsung, (e) mengatur komunikasi secara teratur, dan (f) berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun internasional. Di samping itu para pengajar juga dapat memanfaatkan internet sebagai sumber bahan mengajar dengan mengakses rencana pembelajaran atau silabus online dengan metodologi baru, mengakses materi pembelajaran yang cocok untuk siswanya, serta dapat menyampaikan ide-idenya.
Sementara itu siswa juga dapat menggunakan internet untuk belajar sendiri secara cepat, sehingga akan meningkatkan dan memeperluas pengetahuan, belajar berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian (www.pendidikan.net).
Dalam http://www.jurnal-kopertis4.org disebutkan beberapa manfaat internet bagi pendidikan di Indonesia, yaitu : akses ke perpustakaan, akses ke pakar, perkuliahan online, layanan informasi akademik, menyediakan fasilitas mesin pencari data, menyediakan fasilitas diskusi, dan fasilitas kerjasama.

c. Pengertian Sumber Belajar
Menurut Association for Educational Communications and Technology sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu :
1) Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources by design), yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal; dan
2) Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by utilization), yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didisain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar-salah satunya adalah media massa.
Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pengertian “dapat” di sini menekankan pada pengertian, bahwa jumlah sebenarnya penerima pesan informasi melalui media massa pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang penting ialah “The communicator is a social organization capable or reproducing the message and sending it simultaneously to large number of people who are spartially separated”. Adapun bentuk media massa, secara garis besar, ada dua jenis, yaitu : media cetak (surat kabar dan majalah, termasuk buku-buku) dan media elektronik (televisi dan radio, termasuk internet) (http://artikel.us/mangkoes6-04-2.html).
Berdasarkan kajian pustaka di atas menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain : peningkatan kompetensi guru, peningkatan muatan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan penilaian hasil belajar, peningkatan bekal ketrampilan siswa, penyediaan bahan ajar yang memadai, dan penyediaan sarana belajar. Ketersediaan bahan ajar dan sarana belajar merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Namun demikian sering kali bahan ajar yang ada di perpustakaan tidak mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa, sehingga perlu memanfaatkan sumber belajar yang lain. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan oleh siswa secara mandiri adalah jaringan internet. Untuk itu, bekal ketrampilan siswa khususnya dalam memanfaatkan teknologi internet sangat diperlukan.
Melalui internet, siswa dapat mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan yang relevan dengan subjek mata kuliah. Sehingga pemanfaatan jaringan internet sebagai sumber belajar, akan membantu mempermudah dan mempercepat penyelesaian tugas-tugas perkuliahan, termasuk penyelesaian tuga akhir.
Oleh karena itu, guru sebagai motivator dan dinamisator dalam pembelajaran hendaknya memberi dorongan serta menciptakan kondisi agar siswa dapat secara aktif menemukan ilmu pengetahuan baru melalui pemanfaatan teknologi internet.

I. Metode Penelitian
a. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian survei, yang dipakai untuk tujuan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang pemanfaatan internet sebagai sumber belajar oleh siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan.
b. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dan wilayah generalisasi penelitian ini adalah siswa program XI IPA SMA Negeri 9 Balikpapan yang terdiri dari 2 kelas yaitu XI IPA 1 dan XI IPA 2. Sampel penelitian diambil secara proporsional random sampling.
c. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
d. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi dan persentase.

March 11, 2011 at 3:29 pm Leave a comment

Sistem Pembelajaran Tuntas (Tugas makul Orientasi Baru dalam Psikologi Belajar)

SISTEM PEMBELAJARAN TUNTAS

LATAR BELAKANG
Tiap guru yang menghadapi kelas baru, lebih dulu sudah menerima, berdasarkan pengalamannya bahwa murid-murid dalam kelas itu tidak sama pandainya. Seperempat atau sepertiga akan termasuk golongan anak pandai, sepertiga sampai setengah termasuk golongan golongan sedang, dan seperempat sampai sepertiga termasuk golongan anak yang bodoh.
Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual.
Fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah suatu tujuan yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada tujuan itu. Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak. Hasil mengajar menurut kurva normal sesungguhnya menunjukkan suatu kegagalan, karena sebagian besar anak-anak tidak mengerti dengan benar apa yang diajarkan. Guru yang baik harus meninggalkan dan menanggalkan kurva normal sebagai ukuran keberhasilan proses mengajar-belajar. Meninggalkan patokan itu akan membuka jalan baru untuk ke arah prestasi yang lebih tinggi yang mendorong guru untu mencari macam-macam usaha-usaha untuk membantu murid secara individual. Murid-murid berbeda secara individual dalam caranya belajar. Perbedaan individual ini harus dipertimbangkan dalam strategi mengajar agar tiap anak dapat berkembang sepenuhnya serta menguasai bahan pelajaran secara tuntas.
Tujuan proses mengajar-belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid. Ini disebut “mastery learning” atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh atau pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual.. Bila kita ingin agar seseorang mau belajar terus sepanjang hidupnya, maka pelajaran di sekolah harus merupakan pengalaman yang menyenangkan baginya. Murid yang sering frustasi karena mendapat angka yang rendah di samping teguran, kekejaman, dan celaan akan benci terhadap segala bentuk pelajaran formal dan tidak mempunyai cukup motivasi untuk melanjutkan pelajarannya.
Menurut penelitian, bila semua anak-anak yang bermacam-macam bakatnya diberi pengajaran yang sama, maka hasilnya akan berbeda menurut bakat mereka. Ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil belajar. Akan tetapi jika diberi metode pengajaran yang lebih bermutu yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak serta waktu belajar yang lebih banyak, maka dapat dicapai keberhasilan penuh bagi setiap anak dalam tiap bidang studi. Maka korelasi antara bakat dengan tingkat keberhasilan anak dalam pelajaran dapat dilenyapkan.
Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan, di antaranya:
potensi peserta didik berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya tepat;
mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta kecakapan hidup (life skill);
persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan berhasil;
persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga pendidikan;
persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan.
Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten, serta model sosialisasi, lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang terjadi saat ini. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUASAAN PENUH
Bakat untuk mempelajari sesuatu
Bakat, misalnya inteligensi, mempengaruhi prestasi belajar. Bakat tinggi menyebabkan prestasi tinggi, sedangkan prestasi yang rendah dicari sebabnya pada bakat yang rendah. Pendirian serupa ini membebaskan guru dari segala tanggung jawab atas prestasi yang rendah oleh sebab bakat itu dibawa lahir dan diturunkan dari nenek moyang, yang tak dapat diubah oleh guru.
John Carrol mengemukakan pendirian yang radikal. Ia mengakui adanya perbedaan bakat, akan tetapi ia mengandung bakat sebagai perbedaan waktu yang diperlukan untuk menguasai sesuatu. Jadi setiap orang dapat mempelajari bidang studi apa pun hingga batas yang tinggi asal diberi waktu yang cukup di samping syarat-syarat lain. Da kemungkinan seorang murid menguasainya dalam beberapa tahun, namun tingkat penguasaannya dapat sama. Yang menjadi persoalan di sini adalah, apakah seseorang rela untuk mengorbankan waktu yang begitu banyak agar mencapai tingkat penguasaan tertentu.

Mutu Pengajaran
Pada dasarnya anak-anak tidak belajar secara kelompok, akan tetapi secara individual, menurut cara-caranya masing-masing sekalipun ia berada dalam kelompok. Caranya belajar lain dari orang lain untuk menguasai bahan tertentu. Itu sebabnya setiap anak memerlukan bantuan individual. Tidak ada satu metode tersendiri yang sesuai bagi semua anak. Tiap anak memerlukan metode tersendiri yang sesuai baginya.

USAHA – USAHA DALAM PENGAJARAN INDIVIDUAL
Berbagai macam usaha yang telah dijalankan untuk memenuhi perbedaan individual dalam proses belajar mengajar, antara lain: belajar berprogram (programmed instruction), belajar dengan bantuan komputer (computer-assisted instruction and management), sistem perolehan informasi (information retrivel systems), dan bentuk pengajaran individual lainnya.
Sistem individual itu kebanyakan mempunyai ciri yang sama, yakni perhatian akan perbedaan individual di kalangan para pelajar dan usaha untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan itu, dengan (1) lebih mengutamakan proses belajar dari pada mengajar, (2) merumuskan tujuan yang jelas, (3) mengusahakan partisipasi aktif dari pihak murid, (4) menggunakan banyak feedback atau balikan dan evaluasi, dan (5) memberi kesempatan kepada murid untuk maju dengan kecepatan masing-masing.
Pengajaran Berprogram
Pengajaran berprogram adalah salah satu sistem penyampaian pengajaran dengan media cetak yang memungkinkan siswa belajar secara individual sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya serta memperoleh hasil sesuai dengan kemampuannya juga. Menurut jenisnya, pengajaran berprogram dibedakan atas dua, yaitu program linier (Skinner) dan program bercabang (Crowder). Dalam program linier (Skinner), kegiatan dibagi menurut langkah-langkah, dan pada setiap halaman terdiri dari beberapa langkah. Pada setiap langkah ada bagian yang harus diisi oleh siswa sebagai tes. Penjelasan dan pertanyaan yang terdapat pada setiap langkah dibuat sedemikian rupa sehingga memberi peluang kepada siswa untuk menjawab secara benar. Di akhir program diadakan tes untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan program. Program bercabang (Crowder) juga dibagi-bagi menjadi langkah-langkah tertentu, tetapi tiap halaman hanya mengandung satu langkah baik penjelasan maupun pertanyaan. Pada bagian bawah halaman diberikan satu pertanyaan yang telah disediakan kemungkinan jawaban. Bila siswa memilih kemungkinan jawaban benar, ia tunjukkan untuk membuka halaman tertentu yang berisi kata-kata pujian bahwa jawabannya tepat dan memberi peluang melanjutkan ke langkah berikutnya. Tetapi jika jawaban masih kurang tepat, ia harus kembali ke halaman pertama. Sama halnya dengan program linier, pada akhir program bercabang juga diberikan tes.
Pengajaran Dengan Bantuan Komputer
Menyimpan bahan pelajaran yang dapat dimanfaatkan kapan saja diperlukan.
Memberi informasi tentang berbagai referensi dan sumber-sumber serta alat audio-visual yang tersedia.
Memberi informasi tentang ruangan belajar, murid-murid dan tenaga pengajar.
Memberi informasi tentang hasil belajar murid.
Menyarankan kegiatan-kegiatan belajar yang diperlukan oleh seorang murid serta menilai kembali pekerjaan murid pada waktunya serta memberi tugas-tugas baru untuk dikerjakan selanjutnya.

Komputer untuk manajemen pengajaran
Komputer digunakan sekaligus oleh sejumlah besar pelajar, masing-masing dengan tugas tersendiri, maju menurut kecepatan masing-masing, pada saat yang bersamaan mengambil test diagnostik yang berbeda-beda.
Pendekatan audio-tutorial
Pendekatan ini juga berdasarkan belajar secara individual. Anak-anak dapat belajar menurut kecepatan masing-masing degan bahan pelajaran yang tidak seragam dengan yang lain dan memungkinkan pendalaman bagi individu menurut tujuan masing-masing.
Inti pendekatan ini adalah belajar sendiri oleh murid dalam booth, semacam bilik yang kecil (audio-tutorial booth atau self-instruction learning carrel), yang dilengkapi dengan audio-tape yang mengarahkan siswa kepada berbagai kegiatan-kegiatan belajar, alat audio-visual, mungkin juga eksperimen yang harus dilakukan. Melakukan berbagai percobaan, atau melihat film. Kamar belajar ini biasanya terbuka hampir sepanjang hari, sehingga dapat digunakan oleh siswa menurut waktu yang sesuai dengan jadwal masing-masing. Di samping alat dan bahan audio itu selalu sedia seorang tenaga pengajar untuk memberikan bantuan sebagai tutor.
Pengajaran Modul
Pengajaran modul termasuk salah satu sistem individual yang paling baru dan menggabungkan keuntungan dari berbagai metode pengajaran individual lainnya. Suatu modul ialah suatu kesatuan yang bulat dan lengkap yang terdiri atas serangkaian kegiatan belajar yang secara empiri telah terbukti memberi hasil belajar yang efektif, untuk mencapai tujuan yang dirumuskan secara jelas dan spesifik. Pengajaran modul adalah pengajaran yang sebagian atau seluruhnya terdiri atas modul.

Keuntungan-keuntungan pengajaran modul ini antara lain:
Memberikan feedback atau balikan yang segera dan terus-menerus. Balikan ini perlu bagi murid agar ia mengetahui beberapa banyak dan hingga mana ia telah menguasai bahan pelajaran, dan bagi guru untuk mengetahui hingga manakah sebenarnya efektivitas modul itu.
Dapat disesuaikan dengan kemampuan anak secara individual dengan memberikan keluwesan tentang kecepatan mempelajarinya, bentuk maupun bahan pelajaran.
Memberikan secara khusus pelajaran ramedial untuk membantu anak dalam mengatasi kekurangannya. Berkat penilaian yang kontinu maka kekurangan-kekurangan segera dapat ditemukan. Yang diulangi hanya bagian-bagian yang belum di kuasainya dan tidak perlu seluruh pelajaran itu, yang tentu akan banyak menghamburkan waktu dan tenaga murid, selain memupuk rasa kejengkelan pada murid itu.
Membuka kemungkinan untuk melakukan test formatif. Pelajaran yang tradisional, misalnya dalam bentuk buku pelajaran, memberikan bahan pelajaran yang banyak serta panjang, dan baru dinilai pada akhir pelajaran itu. Sering pula pertanyaan dan tugas-tugas serupa itu tidak dilaksanakan, sehingga tidak ada feedback untuk mengetahui kekurangan murid dan memperbaikinya sambil mengembangkan pengetahuan anak selanjutnya secara bertahap. Pengajaran modul memberikan bahan yang sedikit sekaligus dan langsung diberi penilaian.
Minicourses
Minicourses sebenarnya tak dapat dibedakan dari modul. Seperti modul, minicourses ini merupakan kesatuan bulat yang lengkap, yang disusun untuk dipelajari secara individual. Minicourses dapat disusun berbagai macam tujuan, seperti tentanga “Metode pelajaran berprogram”, “Bermain Peranan,” dan lain-lain untuk tiap bidang studi atau topik.

Sistem Kontrak
Dasar sistem ini ialah bahwa angka-angka merupakan motivasi utama bagi murid untuk belajar. Murid-murid biasanya hanya belajar bila menghadapi test, ulangan atau ujian.
Sistem Keller
Sistem Keller termasuk Personalized System of Instruction atau sistem pengajaran individual. Prinsip dasar bagi bentuk pengajaran ini ialah kita harus mengetahui persis:
Apa yang ingin kita ajarkan kepada murid.
Bilamana ia telah menguasainya.
Apa yang telah diketahui murid tentang bahan yang akan diberikan.
Apa yang masih harus dipelajari oleh murid.
Untuk itu harus ada:
Alat yang menentukan bahan yang sesuai dengan taraf perkembangan murid.
Pre-test yang diberikan sebelum memulai suatu satuan pelajaran.
Post-test untuk mengetahui tingkat penguasaan murid.
Test berdasarkan kurikulum untuk mengukur kemajuan murid.
Menentukan taraf kemampuan permulaan siswa disangsikan bahwa tiap siswa memang mendapat tugas yang sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Hanya memberi kesempatan belajar sendiri menurut kecepatan masing-masing, akan tetapi itu pun harus dibatasi demi efektivitas metode ini.

PROSES BELAJAR MENGAJAR MENURUT PILIHAN SISWA
Pendekatan yang berbeda dengan apa yang telah dikemukakan di atas ialah penyediaan berbagai kemungkinan metode belajar seperti metode kuliah, diskusi, kelompok kecil, seminar, belajar sendiri, kuliah dan diskusi, atau kombinasi antara dua metode. Kepada murid-murid diberi kesempatan untuk memilih metode yang tradisional, ada yang modern, ada metode lain atau kombinasi dua metode, dan sebagainya.
Menurut hasil percobaan dengan memberikan pilihan kepada siswa atas metode yang paling serasi bagi mereka, ternyata:
Semangat belajar dalam tiap metode belajar tinggi, mungkin karena sendiri memilihnya dan karena pilihan itu memang sesuai dengan pribadi mereka.
Siswa yang belajar dalam kelompok kecil mencapai angka yang paling tinggi pada test berbentuk essay yang diberikan secara tiba-tiba tanpa diberitahukan lebih dahulu.
Evaluasi sendiri dan oleh teman lebih banyak terdapat dikalangan mereka yang belajar dalam kelompok kecil
Tidak terdapat perbedaan hasil test akhir murid-murid yang mengikuti metode belajar yang berbdeda-beda menurut pilihan masing-masing.
Jadi hasil belajar tidak ditentukan oleh metode belajar yang digunakan. Maka karena itu, mengatakan bahwa satu metode lebih baik daripada metode lainnya, sukar dipertahankan, bila tidak turut dipertimbangkan pribadi dan keinginan murid-murid sendiri. Metode apa pun mungkin baik, asal sesuai dengan pribadi dan keinginan murid.
Menurut pengamatan, sering murid lebih mampu mengajar temannya sekelas daripada guru karena telah menyelami kesukaran-kesukaran yang dihadapi murid lainnya. Guru dapat belajar dari murid tentang cara-cara mengatasi kesulitan belajar.

BELAJAR BEBAS
Psiko-terapi Sebagai Dasar Belajar. Carl R. Rogers seorang ahli psiko-terapi mengemukakan suatu cara pendidik yang perlu mendapatkan perhatian kita sebagai guru dan pendidik. Namun Carl R. Rogers tak dapat menerima manusia itu sebagai hasil conditioning semata-mata. Sekalipun seorang dipenjarakan atau hidup dalam negara yang diktatorial, namun manusia masih mempunyai suatu kebebasan, yaitu kebebasan batin.
Teori Rogers ini dapat diterapkan dalam pendidikan untuk mengembangkan individu yang merdeka yang dapat memilih dengan bebas atas tanggung jawab penuh, manusia yang kreatif yang dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.
Syarat-Syarat Untuk Belajar Bebas
Belajar bebas berbeda sama sekali dengan belajar yang “terikat” oleh peraturan dan pengawasan yang ketat. Belajar yang “terikat” jauh lebih mudah dilaksanakan dan dapat dilakukan oleh setiap guru karena banyak sedikit dapat dijalankan secara maksimal.
Adanya Masalah
Syarat pertama ialah adanya suatu masalah yang menarik dan bermakna bagi murid. Masalah itu harus riil yang ada kaitannya dengan kehidupan murid, sehingga ada hasrat dan kesediaan untuk memecahkannya. Anak – anak di sekolah sering dihadapkan dengan bahan pelajaran yang tidak disadari maknanya bagi dirinya. Ia mempelajari dengan terpaksa, karena takut akan kegagalan dan hukuman, karena diharapkan oleh guru atau orang tua. Nampaknya memberi kesempatan bagi murid untuk menghadapi masalah nyata merupakan suatu syarat yang penting dalam belajar bebas.
Kepercayaan Akan Kesanggupan Manusia
Syarat ini mengenai diri guru, karena cara belajar ini hanya mungkin berdasarkan keyakinan penuh dari pihak guru akan kemampuan murid untuk berbuat yang baik, untuk belajar sendiri, untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Keterbukaan Guru
Maksudnya guru jangan berkedok dan menutupi kepribadiannya yang sesungguhnya harus jujur menampakkan perasaanya seperti benci atau suka, senang dan sedih, marah, jengkel atau gembira.
Menghadapi Murid
Guru harus menerima pribadi masing – masing murid dan dapat menghargai sifat – sifat mereka walaupun menyimpang dari apa yang umumnya dianggap baik.

Empathy (empati)
Seperti telah dikemukakan empathy adalah kemampuan untuk memandang sesuatu dari segi pandangan orang lain. Guru dengan cara belajar berdasarkan kebebasan bukanlah guru yang menyampaikan pelajaran akan tetapi yang menyediakan sebanyak mungkin sumber-sumber yang dapat digunakan oleh murid-murid untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajarinya.Tugas guru adalah menciptakan suasana dan fasilitas yang sebaik-baiknya agar belajar bebas ini dapat dilaksanakan.

Proses Belajar Bebas
Belajar bebas berarti belajar untuk menjadi bebas, manusia merdeka yang turut menentukan arah hidupnya serta pribadinya, bebas memilih dengan bertanggung jawab penuh atas pilihannya itu.
Proses mencapai kebebasan itu melalui fase-fase tertentu yakni:
Frustasi pada taraf permulaan
Inisiatif dan kerja individual
Keakraban pribadi
Perubahan individual
Pengaruh atas pengajar

GAYA BELAJAR
Penelitian tentang metode mengajar yang paling sesuai ternyata semuanya gagal, karena setiap metode mengajar bergantung pada cara atau gaya siswa belajar, pribadinya serta kesanggupannya.Para peneliti menemukan adanya berbagai gaya belajar pada siswa yang dapat digolongkan menurut kategori-kategori tertentu. Mereka berkesimpulan, bahwa:
Tiap murid belajar menurut cara sendiri yang kita sebut gaya belajar. Juga guru mempunyai gaya mengajar masing-masing.
Kita dapat menemukan gaya belajar itu dengan instrumen tertentu.
Kesesuaian gaya mengajar dengan gaya belajar mempertinggi efektivitas belajar.

Untuk mempertinggi efektivitas proses belajar-mengajar perlu diadakan penelitian yang mendalam tentang gaya belajar siswa. Penelitian diadakan dalam tiga bidang yakni,
Gaya kognitif siswa (Cognitive Style Mapping (CSM))
CSM ini dikembangkan oleh Joseph E. Hill, Michigan dan bertujuan untuk “memetakan” gaya kognitif atau gaya belajar seseorang dalam usaha untuk mengembangkan suatu educational science atau ilmu kependidikan, yang didasarkannya atas prinsip, bahwa pendidikan itu adalah suatu proses untuk mencari makna, bahwa manusia itu suatu makhluk sosial yang mempunyai kemampuan yang unik untuk menemukan makna dari lingkungan dan pengalaman pribadinya dengan menciptakan dan menggunakan lambang-lambang.
Gaya respons siswa terhadap stimulus
Impulsif – Reflektif
Tipe orang yang impusif atau refleksif dapat diselidiki dengan test antara lain dengan memperlihatkan suatu gambar, misalnya bentuk geometris, disain rumah, mobil dan sebagainya.
Perspektif – Reseptif; Sistematis – Inovatif
Precept artinya aturan. Orang yang preseptif dalam mengumpulkan informasi mencoba mengadakan organisasi dalam hal-hal yang diterimanya, ia menyeting informasi yang masuk dan memperhatikan hubungan-hubungan di antaranya.
Sistematis – Intuitif
Orang yang sistematis mencoba melihat struktur suatu masalah dan bekerja sistematis dengan data atau informasi untuk memecahkan suatu persoalan.
Orang yan Intuitif langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan informasi secara sistematis.

Model-Model Gaya Respons
Siswa penurut
Siswa ini termasuk siswa yang “baik” karena mengikuti apa yang disuruh lakukan, patuh kepada aturan, tunduk kepada otoritas, menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan, memandang guru sebagai orang yang memberikan pujian dan penghargaan.
Siswa yang tak dapat berdiri sendiri
Siswa ini sangat bergantung kepada guru untuk membantu mereka dalam pelajaran.
Siswa yang patah semangat
Mereka ini tidak puas dengan dirinya. Dalam dirinya berbaur rasa-harga diri dengan rasa-bersalah dan kemuraman.
Siswa yang dapat berdiri sendiri
Siswa ini sangat inteligen mereka percaya akan dirinya, merasa dirinya aman.

Siswa “pahlawan”
Mereka ini senantiasa terlibat dalam tiap “pemberontakan” dalam lingkungan sekolah.
Siswa “penembak tersembunyi”
Seperti siswa “pahlawan” mereka ini mempunyai jiwa pemberontak, akan tetapi perlawanan mereka tidak diperlihatkannya dengan nyata.
Siswa penarik perhatian
Mereka ini sangat berorientasi pada hubungan sosial.
Siswa pendiam
Sebagian besar dari siswa termasuk golongan ini. Mereka ini merasa dirinya tak mampu dan tak berkuasa.

Model belajar.
Model Grasha – Riechmann
Siswa berdikari
Siswa yang tak dapat berdiri sendiri
Siswa yang kooperatif
Siswa yang suka bersaing, yang kompetatif
Siswa yang suka berpartisipasi
Siswa yang mengelakkan pelajaran
Model Stern
Authoritarians
Anti-authoritarians
Rationalis

Model Kolb
Model ini juga didasarkan atas psikologi Jung. Menurut model ini belajar berlangsung melalui 4 fase atau tahap, yaitu:
Individu memperoleh pengalaman langsung yang konkrit
Kemudian ia mengembangkan onservasinya dan memikirkan atau merefleksikannya.
Dari itu dibentuknya generalisasi dan abstraksi
Implikasi yang diambilnya dari konsep – konsep itu dijadikannya sebagai pegangannya dalam menghadapi pengalaman-pengalaman baru.

Impelementasi Gaya Belajar Sebagai Inovasi Pendidikan.
Bagaimanakah gaya belajar dapat dimanfaatkan oleh siswa sendiri.
Bagaimanakah guru dapat memanfaatkannya dalam proses belajar-mengajar

Manfaat Gaya Belajar
Dengan mengetahui gaya belajar siswa guru dapat menyesuaikan gaya mengajarnya dengan kebutuhan siswa, misalnya dengan menggunakan berbagai gaya mengajar sehingga murid-murid semuanya dapat memperoleh cara yang efektif baginya. Memanfaatkan gaya belajar siswa bagi seluruh lembaga pendidikan sekolah atau universitas, jauh lebih sukar dan kompleks dari pada pelaksanaannya oleh seorang guru dalam kelasnya dalam bidang studi yang diajarkannya.

Berbagai Masalah Yang Dihadapi
Bagaimana mengadakan perencanaan mengenai proses pembaharuan itu dan yang bertalian dengan itu antara lain.
Menyusun program, tujuannya, proses belajar dengan mempertimbangkan gaya belajar siswa, penilaiannya, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk belajar-mengajar seperti perkuliahan, kegiatan kelompok, pelajaran individual menurut kecepatan masing-masing dengan penilaian sendiri oleh para siswa dengan menyediakan hardware serta softwarenya.
Mengatur tempat belajar untuk kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, untuk belajar individual, seminar, dan testing.
Mereorganisasi jadwal waktu, menentukan waktu untuk tiap program/dengan tingkat keberhasilan tertentu, mengubah sistem semester untuk menyesuaikannya dengan kecepatan belajar individual.
Mempersiapkan dan menyediakan penasehat akademis yang membimbing siswa dalam cara belajar yang efektif menurut gaya belajar masing-masing, menyusun silabus dan pertunjukan belajar.
Menentukan sistem insentif untuk mereka yang memberi waktu dan tenaga khusus bagi pembaharuan, karena biasanya kebanyakan staf pengajar tidak berminat dan tidak turut aktif dalam pembaharuan.
Menyempurnakan dan melengkapi tenaga administratif yang serasi bagi pembaharuan.
Memperbaharui management untuk mempelancar pembaharuan, melatih staf pengajar dan administrasi.
Koordinasi program mengenai bidang akademis, pembaharuan, melatih staf pengajar, administrasi, fasilitas dan lain-lain.
Mengatur sistem komunikasi antara berbagai unit, antara kepala lembaga dengan administrasi, staf para siswa, tenaga pengajar dengan para siswa, unit fasilitas dengan staf pengajar, dan sebagainya.

SIKAP GURU
Sikap Otoriter
Bila guru mengajarkan suatu mata pelajaran, ia tidak hanya mengutamakan mata pelajaran akan tetapi harus juga memperhatikan anak itu sendiri sebagai manusia yang harus dikembangkan pribadinya.
Macam-macam cara akan digunakan oleh guru untuk mengharuskan anak itu belajar, di sekolah maupun di rumah. Dengan hukuman dan ancaman anak itu dipaksa untuk menguasai bahan pelajaran yang dianggap perlu untuk ujian dan masa depannya. Tak jarang guru menjadi otoriter dan menggunakan kekuasaannya untuk mencapai tujuannya tanpa lebih jauh mempertimbangkan akibatnya bagi anak, khususnya bagi perkembangan pribadinya.
Sikap “permissive”
Sebagai reaksi terhadap pengajaran yang otoriter timbul aliran yang menonjolkan anak sebagai manusia antara lain atas pengaruh “progressive education” dan aliran psikologi seperti psikoanalisis, yakni yang menginginkan sikap yang “permissive” terhadap anak. Sikap ini membiarkan anak berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan frustasi, larangan, perintah, atau paksaan. Pelajaran hendaknya menyenangkan. Guru tidak menonjolkan dirinya dan berada di latar belakang untuk memberi bantuan bila diperlukan. Yang diutamakan adalah perkembangan pribadi anak khususnya dalam aspek emosional agar ia bebas dari kegoncangan jiwa dan menjadi manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sikap Rill
Baik sikap otoriter maupun sikap “permissive” mendapat kecaman. Sikap otoriter yang mengatur setiap perbuatan anak, bila perlu dengan paksaan dan hukuman, tidak mendidik anak menjadi manusia merdeka yang demokratis yang sanggup berdiri sendiri, sanggup memilih atas tanggung jawab sendiri.
Sikap “permissive” yang dicap sebagai sikap “lunak” terlampau “permissive” akan tetapi harus realitis. Pendidikan memerlukan kebebasan akan tetapi juga pengendalian. Dalam kehidupan yang riil manusia lebih banyak menghadapi tugas yang berat, membosankan dan menimbulkan konflik dan frustasi daripada kegiatan bebas yang menyenangkan, dengan tuntutan atau keinginan orang lain, dengan adat kebiasaan serta norma-norma dunia sekitarnya.

PERAN GURU
Pekerjaan guru terutama dalam menghadapi anak-anak banyak menimbulkan ketegangan dan frustasi. Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar.
Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut:
Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya.
Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD.
Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi
Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik
Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif)
Menggunakan teknik diagnostik
Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan

Ada pula kemungkinan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tertentu memilih jabatan sebagai guru, yaitu:
Anak atau bahan pelajaran
Tujuan yang ingin kita capai adalah agar anak-anak lulus dalam ujian dan kelak mendapat tempat di perguruan tinggi yang baik. Perkembangan pribadi anak, misalnya dalam bidang sosial, emosional dan moral kurang mendapat perhatian dibandingkan dnegan perkembangan intelektual. Bahan pelajaran (perkembangan intelektual) dan anak (perkembangan anak sebagai pribadi yang bulat). Merupakan makhluk hidup yang dapat bereaksi positif maupun negatif terhadap perangsang-perangsang yang diterimanya. Agar pelajaran berhasil baik tiap anak harus mendapat perhatian dan bantuan. Guru tidak cukup hanya menguasai bahan pelajaran akan tetapi harus pula mampu melibatkan pribadi anak dalam pelajaran untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Guru sebagai model
Guru-guru yang membiarkan anak-anak melakukan apa yang mereka inginkan tidak memberi bimbingan dan juga tidak mengajar mereka. Diduga bahwa anak-anak justru mengalami gangguan mental karena tidak mempunyai pegangan yang tegas dalam hidupnya akibat kebebasan yang berlebihan pada masa kecilnya. Mereka tidak diberikan norma-norma yang menjadi ukuran bagi kelakuan mereka.

Kesulitan dalam belajar
Tak ada salahnya bila pelajaran dapat dilakukan dalam suasana gembira, namun ini tidak berarti bahwa anak-anak harus dijauhi dari kesukaran. Setiap pelajaran mengandung unsur kesukaran. Mungkin makin berharga pelajaran itu, makin banyak kesulitan yang harus dilalui untuk menguasainya. Ini tidak berarti bahwa pelajaran harus dibuat sulit agar ada nilainya. Akan tetapi kesulitan tidak dapat dielakkan untuk mempelajari banyak hal. Dalam hidupnya kini dan kelak setiap anak menghadapi kesukaran dan ia harus belajar untuk mengatasi sehingga kelakuannya berubah dan lebih mampu untuk menghadapi kesukaran-kesukaran baru.
Cara penyampaian
Kecepatan antara lain ditentukan oleh taraf kesulitan mata pelajaran dan bahan yang disampaikan. Sebaiknya kecepatan disesuaikan dengan taraf kesulitan itu. Pemahaman pokok-pokok yang penting dalam kuliah dihalangi pula oleh keharusan membuat catatan, seperti telah dikemukakan lebih dahulu. Yang tidak baik, karena kurang cermat dipersiapkan, kurang sistematis dalam organisasinya, kurang jelas uraiannya, kurang jelas kedengaran bagi seluruh siswa, sedangkan pengajar itu seakan-akan bicara kepada papan tulis atau kepada kertas catatannya. Ada pula yang mengeluh karena kuliah itu terlampau cepat diberikan sehingga tak dapat diikuti, terrmasuk hal-hal yang pelik sekali yang hanya dapat dipahami oleh siswa yang paling inteligen saja. Pengajaran itu harus menguasai betul bahan yang diberikannya, harus sanggup mengemukakannya dengan jelas, mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, memberikan kerangka yang jelas dan bersedia untuk memberi respons kepada pernyataan mereka.
Kepribadian siswa tampaknya juga berpengaruh terhadap keberhasilan pelajaran. Hasilnya adalah sebagai berikut:
Menyajikan bahan dengan jelas dan logis.
Memungkinkan siswa untuk memahami prinsip-prinsip pokoknya.
Dapat didengar dengan jelas oleh semua.
Dapat membuat agar bahannya mengandung makna secara intelektual.
Dapat menyelesaikan seluruh bahkan untuk sekolahnya.
Memelihara kontinuitas pertemuan pelajarannya.
Konstruktif dan bersifat membantu dalam kritiknya.
Memperlihatkan keahliannya dalam bidangnya.
Menjaga kecepatan yang serasi selama pertemuan pelajarannya.
Memasukkan dalam perkuliahannya hal-hal yang tidak dimuat dalam buku pelajaran.

PERTUMBUHAN DAN BELAJAR
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.
Manusia tumbuh dan berkembang dari bayi yang tak berdaya dan dalam segala kebutuhannya bergantung pada orang lain menjadi manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai corak raga, masyarakat, dari yang sederhana dampai yang modern dan kompleks. Hidup manusia dari bayi sampai dewasa ia mengalami berbagai perubahan. Di antaranya ada yang disebabkan oleh pertumbuhan. Pertumbuhan ini tak seberapa dapat dipengaruhi. Akan tetapi ia banyak berubah berkat belajar sebagai akibat pengaruh lingkungannya terhadap mana ia senantiasa berinteraksi.
Setiap manusia akan belajar, namun kondisi-kondisi belajar dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuannya, atau mengubah kelakuannya. Manusia berpikir lebih dahulu tentang akibat apa yang akan dilakukannya dan menyampingkan alternatif yang tidak akan memberi hasil. Cara belajar memecahkan masalah yang digunakan oleh binatang tidak begitu saja dapat diterapkan pada manusia.
Mengenal (recognition), yang kedua mengingat kembali informasi verbal, atau “recall of verbal information” dan yang ketiga yang mengenai keterampilan intelektual disebut :reinstatement” atau merumuskan kembali atau menggunakannya dalam situasi yang baru.
Yang menjadi stimulus ialah sebenarnya suatu kumpulan stimuli yang terdiri atas penglihatan, perasaan dari otot-otot tangan dan lengan anak yang dihubungkan dengan respons untuk memegang botol itu dalam posisi yang tepat, sehingga ia dapat meminum minuman itu.
Cara pertama ialah mulai mengajarkan langkah terakhir, kemudian setiap langkah sebelumnya diikuti oleh langkah berikutnya. Cara kedua ialah mulai dengan langkah pertama dan seterusnya langkah-langkah berikutnya sampai langkah terakhir. Cara mana yang lebih efisien belum cukup bahan untuk membuktikannya.
Kesiapan belajar adalah kondisi-kondisi yang mendahului kegiatan belajar itu sendiri. Tanpa kesiapan atau kesediaan ini proses belajar tidak akan terjadi. Pra-kondisi belajar ini terdiri atas: perhatian, motivasi, dan perkembangan kesiapan.
Untuk mengamati sesuatu diperlukan perhatian. Namun lebih penting ialah memupuk “attentional set” sikap memperhatikan pada anak, sehingga perhatian juga diatur secara intern oleh anak itu, sehingga anak itu dapat memberi perhatiannya, walaupun ada hal-hal lain yang menarik perhatiannya. Untuk memupuk perhatian pada anak-anak kecil ada yang menganjurkan digunakan reinforcement berupakan misalnya gula-gula, kemudian dapat diberikan ganjaran simbolis seperti pujian, angka yang baik.
Motivasi kelakuan manusia merupakan topik yang sangat luas. Banyak macam motivasi dan para ahli meneliti tentang bagaimana asal dan perkembangannya dan menjadi suatu “daya” dalam mengarahkan kelakuan seseorang. Adapun beberapa tokoh yang meneliti soal motivasi belajar ini. Hewitt (1968) mengemukakan bahwa “attentional set” merupakan dasar bagi perkembangan motivasi yakni yang bersifat sosial, artinya anak itu suka bekerja sama dengan anak-anak lain dan dengan guru, ia mengharapkan penghargaan dari teman-temannya dan mencegah celaan mereka, dan ingin mendapatkan harga-dirinya di kalangan kawan sekelasnya.
Ausubel (1968) berpendapat bahwa motivasi yang dikaitakan dengan motivasi sosial tidak begitu penting dibandingkan dengan motivasi yang bertalian dengan penguasaan tugas dan keberhasilan. Ausubel selanjutnya mengatakan adanya hubungan antara motivasi dan belajar. Motivasi bukan merupakan syarat mutlak untuk belajar.
Menurut Skinner (1968) maslaah motivasi bukan soal memberikan motivasi, akan tetapi mengatur kondisi belajar sehingga memberikan reinforcement.

SISTEM TUTORIAL
Sistem tutorial memberikan keleluasaan pada siswa untuk mengaplikasikan ketrampilannya dengan melaksanakan tugas atau mengerjakan latihan-latihan pada pelajaran tertentu secara interaktif. Salah satu keunggulan sistem tutor cerdas adalah mampu menilai tingkat kemampuan kognitif siswa dengan cara “mengamati” maupun memberikan respon berupa rekomendasi materi yang harus dipelajari siswa di dalam suatu domain. Dalam sistem ini siswa harus lebih dahulu mengadakan bacaan atau belajar sendiri. Kemudian tutor mengajukan pertanyaan berdasarkan bacaan itu, dan dengan demikian membimbing jalan pikiran siswa. Jadi di sini tutor itu bertindak sebagai manajer belajar dengan mengarahkan jalan pikiran siswa, dan menugaskan siswa untuk mengadakan bacaan selanjutnya, jadi tutor itu tidak memberi pelajaran.
Agar sistem tutorial itu berhasil siswa harus sanggup belajar sendiri dengan penuh disiplin dan harus mampu untuk mengambil isi dan inti apa yang dibacanya dari buku.

METODE PEMBELAJARAN
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). Dengan demikian makin baik metode, akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad, 1982). Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama, yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik.
Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. Block (1971) menyatakan tingkat penguasaan kompetensi peserta didik sebagai berikut :
Degree of learning=f((time actually spent)/(time needed))
Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu.
Harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. Dari konsep tersebut, dapat dikemukakan prinsip-prinsip utama pembelajaran tuntas adalah:
Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis,
Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback,
Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan,
Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal. (Gentile & Lalley: 2003)
Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.
Adapun langkah-langkahnya adalah :
mengidentifikasi prasyarat (prerequisite),
membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.
Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok.
Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996)

EVALUASI
Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar.
Asumsi dasarnya adalah:
bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda,
standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003)
Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciri-cirinya adalah:
Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar
Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD)
Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan.
Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor
Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb.
Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk instrumen/soal. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah.
Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama, maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai, dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi. Sementara pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh kompetensi dasar secara perorangan. Implikasi dari prinsip tersebut mengharuskan dilaksanakannya program-program remedial dan pengayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari penerapan sistem pembelajaran tuntas.

March 11, 2011 at 3:23 pm Leave a comment

Take Home Test (tugas makul Pengembangan Kurikulum dan Program Pengajaran)

TAKE HOME TEST

1. Dapatkah anda menjamin bahwa apabila siswa berhasil mencapai tujuan intruksional, maka dengan sendirinya juga mencapai tujuan kurikuler, Jelaskan !

Dapat, karena terlebih dahulu kita perlu mendefinisikan tujuan pembelajaran/ instruksional dan tujuan kurikuler sehingga kita bisa melihat hubungan yang sangat jelas antara tujuan instruksinal dan tujuan kurikuler.

Tujuan Pembelajarn/Instruksional
Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan tujuan yang paling khusus dan merupakan bagian dari tujuan kurikuler. Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan Sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dikuasai oleh anak didik setelah mereka selesai mengikuti pelajaran.

Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Oleh sebab itu, tujuan kurikuler dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Kita bisa melihat contoh tujuan kurikuler di bawah ini:
Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan , dan khusus pada jenjang pendidikan dan menengah terdiri atas 5 Kelompok mata pelajaran, yaitu;
1) agama dan akhlak mulia
2) kewarganegaraan dan kepribadian.
3) Ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) estetika.
5) jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah tersebut, maka Badan Standar Nasional Pendidikan merumuskan tujuan setiap kelompok mata pelajaran sebagai berikut:
1) Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia bertujuan; membantu peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berahlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga dan kesehatan.
2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian bertujuan; membentuk peserta didik menjadi manusia menjadi memiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, ahlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
3) Kelompok mata pelajaran Ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik.
 Pada Satuan Pendidikan SD/MI/SD-LB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pemngetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMP/MTs/SMP-LB/Paket B, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan dan/teknologi informasi dan komunikasi serta muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMA/MA/SMA-LB/Paket C, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
 Pada Satuan Pendidikan SMK/MAK, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
4) Kelompok mata pelajaran estetika bertujuan membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.
5) Kelompok mata pelajaran Jasmani, olah raga dan kesehatan bertujuan membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, danmenumbuhkan rasa sportifitas. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olah raga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.

2. Anda renungkan, “ Nurturant Effects” mana saja yang menurut pendapat anda telah berhasil dimiliki siswa anda.
Nurturant effects atau efek pengiring merupakan fungsi pembentukan yang dimiliki siswa sebelum dan saat kegiatan belajar terjadi. Untuk merancang pembentukan dampak pengiring dapat dilakukan melalui pemanfaatan berbagai ragam format kegiatan seperti penugasan proyek yang memicu kerja kelompok sehingga berpeluang memberikan kontribusi dalam pembentukan kemampuan interpersonal serta kecerdasan emosional (Goleman, 1985), kepemimpinan dan kebiasaan bertanggung jawab serta keterandalan (Elias, W7, dkk, 1997), pengasahan ketrampilan menemukan, menilai serta memanfaatkan informasi termasuk dengan pemanfaatan teknotogi informasi, kemampuan berkomunikasi baik secara tertulis maupun lisan, yang kesemuanya itu merupakan bagian dan perangkat kecakapan hidup (soft skills, life skills)(Kendall dan Marzano, 1997; Raka Joni 2000).

“NURTURANT EFFECTS” yang berhasil dimiliki siswa adalah :
a. Sikap solidaritas antar teman baik teman sekelompok maupun terhadap kelompok lain dalam pelaksanaan pembelajaran melalui metode pengajaran diskusi kelompok.
b. Sikap menghargai pendapat teman satu kelompok maupun pendapat kelompok lain
c. Membangun etos kerja pada diri masing-masing siswa
d. Dapat bekerja secara mandiri dalam memecahkan masalah.
e. Menciptakan kesenangan dan membangun kejujuran dengan mencari informasi yang relevan
f. Motivasi tercipta secara harmonis antara siswa dan guru

3. Apa hakekat belajar menurut psikologi pendidikan dan apa hakekat belajar menurut kurikulum yang berkonsep idealis.
Hakekat belajar menurut psikologi pendidikan adalah Ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar.
“Hakekat belajar menurut kurikulum yang berkonsep idealis yaitu “ Belajar adalah proses untuk mengambil keputusan. Hakekat Belajar menurut Psikologi Pendidikan adalah proses untuk merubah tingkah laku seseorang.
Sedangkan Hakekat Belajar menurut Kurikulum yang berkonsep idealis adalah belajar merupakan proses untuk mengambil keputusan.

4. Dapatkan sebuah buku teks paket yang digunakan di SD, SMP dan SMA. Silahkan diidentifikasi organisasi kurikulum mana yang di gunakan untuk menyusun materi kurikulum di dalam buku itu.
 Buku teks paket di SD termasuk organisasi kurikulum Subject Matter Curriculum karena dalam penyajian materi pelajaran kepada siswa dalam bentuk beberapa mata pelajaran yang relevan berdiri sendiri, ruang lingkupnya luas menjadi satu kesatuan ( IPS, IPA dan PKN). Terutama yang menggunakan model pembelajaran yang merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna.
 Buku teks paket SMP memuat materi pembelajaran yang menghubungkan materi kurikulum dari suatu mata pelajaran dengan materi kurikulum pelajaran lainnya, Contoh: Mata pelajaran IPA materi yang ada dihubungkan dengan mata pelajaran lain yaitu Biologi, Fisika, Organisasi kurikulum yang digunakan untuk menyusun materi kurikulum dalam penyusunan buku tersebut adalah Correlated Curriculum.
 Buku teks paket SMA, disajikan dalam bentuk materi yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi dan mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir kritis, kreatif dan mandiri dalam memperoleh kompetensi lanjut. Organisasi kurikulum yang digunakan untuk menyusun buku paket tersebut adalah Organisasi Integrates Curriculum.

5. Pengembangan kurikulum pada hakekatnya adalah sebuah proses siklus yang tidak pernah berakhir, Jelaskan konsep pengembangan kurikulum seperti itu ! Mengapa diperlukan perencanaan untuk mengembangkan kurikulum itu ?
Sebelum menjelaskan tentang kurikulum yang merupakan sebuah proses pengembangan yang tidak pernah berakhir, terlebih dahulu akan kami ungkap pengertian kurikulum. Dalam pengertian luas, kurikulum adalah semua kegiatan yang dirancang untuk pengembanganan intelektual, kepribadian dan keterampilan. Dalam pengertian tersebut sudah jelas untuk mengembangkan Intelektual / Kecerdasan, Kepribadian dan keterampilan yang dalam pengembangannya menggunakan berbagai metode pembelajaran dan menjadi sasaran target perubahan kurikulum sendiri adalah adanya perubahan yang terjadi dalam diri manusia dalam hal ini pelaku pendidikan. Sementara semakin lama manusia/ pelaku pendidikan dan alat yang digunakan untuk mengembangkan kurikulumnya selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Belum lagi adanya perubahan yang terjadi pada berbagai komponen yang terkait, seperti sistem pendidikan.
Struktur kepemimpinan serta kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu semua, maka pengembangan kurikulum tak pernah berhenti.
Mengapa diperlukan perencanaan untuk mengembangkan kurikulum untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka untuk mengembangkan kurikulum perencanaan sangat diperlukan, tanpa perencanaan maka pengembangan kurikulum tidak akan membawa hasil yang maksimal, karena kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Berhasil tidaknya tujuan pendidikan bergantung pada keberhasilan pengembangan kurikulum tersebut. Oleh karena itu pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan perlu adanya perencanaan yang matang. Apabila perencanaan sebelum mengembangkan kurikulum tidak dilaksanakan dapatkan kurikulum tidak dilaksanakan dapat berakibat fatal terhadap keberhasilan pendidikan lebih jelasnya kurikulum sebagai alat dalam proses pencapaian tujuan pendidikan dalam pengembangan harus dilakukan perencanaan lebih dahulu secara jelas, tepat dan tegas sesuai dengan stakeholder agar dapat mencapai tujuan yang maksimal.

6. Deskripsikan pengaruh dan perubahan sistem nilai (Filsafat Pendidikan dan Filsafat Negara terhadap pengembangan kurikulum sekolah kita sejak masa ORLA, ORBA dan ORDE Reformasi sekarang ini.

Dalam sejarah penggunaan kurikulum di Indonesia setelah merdeka, ada sepuluh kurikulum yang pernah dipakai yaitu kurikulum pascakemerdekaan 1947, 1949, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan KBK yang disempurnakan menjadi kurikulum KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Masing-masing kurikulum mempunyai ciri tersendiri berdasarkan periode (zaman) yang terbagi menjadi tiga kelompok yaitu zaman orde lama, orde baru, dan masa reformasi.
Dari kurikulum yang ada, sebenarnya Indonesia belum memiliki landasan filsafat secara jelas dalam kurikulum pembelajarannya, yang ada hanya filsafat dasar negara. Upaya merumuskan filsafat pendidikan di Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang sidang umum MPR (Kompas, 27 Nopember 1992) sebagai sumbangan untuk bahan sidang umum itu, tetapi GBHN1993 tidak mencantumkan perlunya perumusan filsafat dan teori pendidikan itu.

 Pengaruh dan perubahan sistem nilai (Filsafat Pendidikan dan Filsafat Negara terhadap pengembangan kurikulum sekolah.)
a. Masa Orde Lama
Pada masa ini, pendidikan Indonesia ditujukan untuk membina anak-anak dan pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha dan jiwa mereka. Selain masih bersifat kedaerahan juga dalam lingkup kecil. Tokoh-tokoh pendidikan saat itu adalah M.Syafei, Ki Hajar Dewantara, Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Kurikulum pertama di Indonesia ada sejak Ki Hajar Dewantara meletakkan dasar pendidikan untuk pertama kalinya dengan asas taman siswanya. Asas guru sebagai insan yang bersifat pemberi contoh, motivator dan pengevaluasi memang sampai kini dituntut ada pada diri guru Indonesia.
Selain Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Ahmad Dahlan mendirikan pendidikan dengan asas Islam yang bernama Muhammadiyah dengan lima butir dasar pendidikannya yaitu perubahan cara berpikir, kemasyarakatan, aktivitas, kreativitas, dan optimisme.
Perjuangan bersifat kedaerahan berganti dengan bersifat kebangsaan, mulai ada sistem pendidikan mulai SD sampai SMA untuk warga Belanda dan kelas 3 untuk warga pribumi. Kurikulum yang ada dibuat oleh Belanda. Pada masa ini pendidikan sampai perguruan tinggi meskipun sangat sedikit orang Indonesia yang menikmatinya.
Pengembangan kurikulum pada masa orde lama mengalami dilema. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan negara pada waktu itu masih labil, kebebasan mendapat pendidikan yang layak belum terpenuhi meskipun pada waktu itu sekitar tahun 1965 negara telah merdeka, namum situasi dan kondisi belum merdeka sepenuhnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum yang ditandai dengan pelaksanaan pendidikan dan pengajakan masih bersifat sederhana dans angat memprihatinkan.

b. Masa Orde Baru
Masa pembangunan, prioritas di bidang ekonomi, pendidikan mengikuti kebijakan link dan match,dalam arti kata pendidikan memiliki kaitan kuat dengan kebutuhan pasar. Banyak kurikulum yang mengadopsi barat dan diterapkan di Indonesia contoh kurikulum KBK menunjukkan kegagalan karena berorientasi pada pasar dengan menyamakan antara sekolah umum yang orientasi akademik dengan sekolah kejuruan yang berorientasi pada kerja tetapi di lain pihak sekolah kejuruan sangat sedikit. Sekolah umum lebih banyak, akibatnya tujuan tidak tercapai. Nilai budaya dan agama hanya terintegrasi ke dalam mata pelajaran. Pancasila hanya sebatas menghapalkan dan doktrinasi, secara umum secara kuantitatif cukup berhasil tetapi kualitatif tertinggal.
Pengaruh pengembangan kurikulum pada masa ORDE BARU dapat dikatakan mengalami kemajuan melalui UU No. 2 Th.1989 tentang sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional merupakan bagian dari pengembangan kurikulum di sekolah lebih baik dari sebelumnya, dengan menitikberatkan pada pengembangan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan nasional, dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan dan kebutuhan pembangunan. Pengembangan kurikulum diutamakan pada pembangunan manusia seutuhnya.

c. Pengaruh pengembangan kurikulum pada Era Reformasi.
Di zaman Orde Lama kebanyakan orang mendidik sendiri atau bekerja di rumah. Sekolah-sekolah sudah ada tetapi tidak benyak. Di zaman Orde Baru untuk memenuhi standarisasi orang harus bersekolah dimana? Mereka dididik untuk mendapatkan keterampilan tertentu supaya siap bekerja di Era Reformasi sekarang ini atau disebut zaman internet kata bisa belajar dimana saja dan kapan saja tanpa ada batasan waktu dan ruang, meskipun demikian pengembangan kurikulum pada pendidikan formal dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan pendidikan nasional.
Masa reformasi membawa dampak pada pendidikan, kebebasan juga merambah dunia pendidikan, mulai berganti kurikulum .Yang paling baru ialah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang lebih bercorak daerah dengan perubahan paradigma pendidikan yang menganut asas desentralisasi. Dengan memasukkan muatan lokal dalam pelajaran tersendiri tidak terintegrasi, menerapkan karakter bangsa secara tertulis dan dituangkan dalam silabus tidak lagi secara tersirat dan mulok yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Aspek keseimbangan antara aspek material dan spiritual akan tercapai.
Jadi, pengembangan kurikulum pada masa orde lama bersifat kedaerahan dan agamis, mengutamakan pendidikan mandiri dan nasionalisme untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Mengikuti falsafah esensialisme dan perenialisme. Berpusat pada kebenaran dan guru. Kurikulum masa orde baru,dominan, bersifat sentralistik, kegunaan dan fungsi. Peranan penguasa sangat dominan menentukan pendidikan. Kurikulum banyak mengadopsi dari negara luar.Filsafat pendidikan Indonesia yang berlandaskan Pancasila sebatas slogan dan doktrin dengan tidak adanya nilai afektif yang jelas untuk pelajaran agama dan kewarganegaraan. Akibatnya banyak terjadi perilaku menyimpang yang terjadi karena pendidikan hanya menekankan aspek kognitif. Sementara itu, kurikulum masa reformasi ditandai dengan munculnya KTSP yang meskipun bersifat desentralistik tetapi lebih memperhatikan tidak hanya keilmuan tetapi juga aspek kerohanian. Dengan kewenangan pada sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya, diharapkan sekolah tidak menjadi menara gading yang tidak menyentuh lingkungan sekitar dengan adanya pelajaran PKLH dan Mulok yang mengharuskan ada muatan budaya daerah setempat, memasukkan karakter kebangsaan kepada kurikulum dengan tujuan pembinaan watak kebangsaan sebagai warisan budaya luhur dapat diterapkan sehingga dapat menjadi penyaring generasi muda terhadap budaya luar yang merusak tidak hanya jiwanya tetapi juga keutuhan bangsanya.

7. Perkembangan Pola Pendidikan adalah pendiidkan tradisional, Pendidikan Progresif dan Pendidikan Modern. Jelaskan masing-masing pola pendidikan tersebut serta Implikasinya terhadap kurikulum progresif.

a) Pola Pendidikan tradisional adalah pola pendidikan yang dirancang berorientasi pada masa lalu. Yang menekankan pada keabadian, keidealan , kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pola pendidikan ini banyak diterapkan di pondok Pesantren Salafiyah.
Pendidikan Tradisional :
 Guru berbicara murid menyimak.
 One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan.
 Tatanan bangku berurut
 Masih diberlakukan bentuk hukuman bagi siswa yang tidak taat

b) Pola Pengembangan pola pendidikan progresif adalah pola pendidikan yang mengacu pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
Pendidikan Progresif (John Dewey)
 Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara perorangan (individually learning)
 Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman (learning experiencing)
 Guru memberi dorongan semangat dan motivasi bukan hanya pemerintah . Artinya bahwa gurunmemberikan penjelasan tentang arah kegiatan pembelajaran yang merupakan kebutuhan siswa.
 Guru mengjaksertakan siswa dalam berbagai aktifitas kehidupan belajar di sekolah yg mencakup pengajaran,admnistrasi dan bimbingan.
 Guru member arahan dan bimbingan sepenuhnya agar siswa menyadari bahwa hidup itu dinamis dan mengalami perubahan yang begitu cepat.
c) Pola Pendidikan Modern
Adalah pola pendidikan yang dirancang untuk menciptakan generasi yang berorientasi pada masa depan. Pola pendidikan ini menekankan pada pemecahan masalah, berfikir kritis ya, ini lebih menekankan pada hasil belajar pada proses, atau melalui pengalaman dengan lingkungan. Selain itu pola pendidikan modern menekankan pada pengajaran dan ketuntasan belajar serta tanggap terhadap perkembangan modern siap menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan Modern :
 Guru sebagai fasilitator
 Peserta didik juga pelaku pendidikan
 Memanfaatkan perkembangan media pembelajaran
 Tidak melakukan hukuman fisik
 Tempat pembelajaran bisa dimana saja.

8. Proses kurikulum memiliki 4 unsur, yaitu :
1) Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan
2) Keputusan tentang metode mengajar
3) Keputusan tentang materi pembelajaran
4) Keputusan tentang evaluasi pendidikan
Jelaskan masing-masing unsur tersebut !


1. Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan
Unsur Keputusan tentang tujuan institusi pendidikan dalam proses kurikulum terkait dengan visi misi dalam proses kurikulum terkait dengan visi misi yang ditetapkan oleh sekolah.instasi, dalam bentuk apa visi ditentukan dan bagaimana cara supaya sekolah dalam melaksanakan visi itu sendiri, dengan tidak mengabaikan stakeholder. Dalam menjalankan visi hal ini akan berkaitan dengan misi sesuai yang dibutuhkan yaitu melengkapi sarana dan prsarana yang dibutuhkan yang berupa sarana fisik maupun non fisik.
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”..
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual, oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran.
Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Dengan kata lain, tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan

2. Keputusan tentang metode mengajar
Unsur keputusan tentang metode mengajar dalam proses kurikulum erat kaitannya dengan misi sekolah, dimana sekolah dalam hal ini lebih khusus lagi guru sebagai pelaksana dan pengembang kurikulum harus mampu memutuskan metode mengajar yang bagaimana yang sesuai dengan materi ajar dan disesuaikan pula keadaan siswa. Termasuk mendesain intruksional atau memutuskan untuk menentukan model-model pembelajaran yang tepat, sehingga visi dan misi sekolah dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran, hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual,–sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian, maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. Menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya, sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok.
Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.
Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.
Selanjutnya, dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik, tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru, seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning, yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya.

3. Keputusan tentang materi pembelajaran
Unsur keputusan tentang isi/ materi pembelajaran dalam proses kurikulum untuk melaksanakan keputusan tentang isi/materi pembelajaran di sekolah adalah dengan memahami tujuan instruksi /visi misi sekolah. Status sekolah standarisasi sekolah, sehingga kurikulum sebagai acuan dalam sebagaimana mestinya. Artinya materi /isi pembelajaran di sekolah yang berstandar lokal atau yang berstandar nasional tentu berbeda dengan sekolah yang berstandar internasional. Dan isi/materi pembelajaran yang akan diterapkan di sekolah pedalaman tentu tidak sama dengan sekolah pinggiran. Itu sebabnya dalam proses kurikulum keputusan tentang materi/isi pembelajaran perlu adanya perencanaan yang matang yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang merancang kurikulum, sehingga sekolah sebagai pihak pengembang kurikulum dapat melaksankan dengan semestinya.
Materi pembelajaran lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif.
Dengan melihat pemaparan di atas, tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran,. Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu., maka dalam prakteknya cenderung digunakan secara eklektik dan fleksibel.
Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :.
1) Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Di samping itu, juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman, dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan.
2) Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
3) Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
4) Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
5) Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.

4. Keputusan tentang evaluasi pendidikan
Unsur keputusan tentang evaluasi dalam proses kurikulum adalah unsur keputusan tentang evaluasi dalam pendidikan tidak kalah pentingnya dengan unsur-unsur yang lain. Hal ini diperlukan sebagai alat ukur berhasil tidaknya pengembangan kurikulum yang telah dilaksankan disekolah, sehingga dapat diketahui apakah kurikulum yang sudah dirancang dan dilaksankan dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Evaluasi dalam pendidikan juga bertujuan untuk menilai sejauh mana ketepatan kurikulum dengan keadaan dan perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi infomasi dan komunikasi seperti sekarang ini, sehingga apabila terdapat hal-hal yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan perubahan zaman, maka di masa yang akan datang kurikulum dapat dirubah atau dikembangkan dan tentunya disesuaikan dengan keadaan sekarang.
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum”
Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.”
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Dengan mengutip pemikian Doll, dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing, orientation to goals, comprehensiveness, continuity, diagnostics worth and validity and integration.”
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan, questionnare, inventori, interview, catatan anekdot dan sebagainya
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata, 1997)
Selanjutnya, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum, yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif); (2) pendekatan obyektif; dan (3) pendekatan campuran multivariasi.

9. Dalam penggembangan kurikulum tentu harus dilakukan dengan cermat artinya, tahapan atau prosedur harus diikuti dengan benar. Diskripsikan tahapan dalam pengembangan kurikulum.

Ada bebarapa tahapan/ prosedur yang harus di ikuti dalam pengembangan kurikulum, tahapan tersebut antara lain :
I. Tahap Perencanaan
“Perencanaan “ Dalam hal ini pengembangan kurikulum (sekolah) haruslah penyusun rencana yang matang. Mulai dari menentukan materi metode yang akan digunakan, alat/bahan sebagai sumber yang akan digunakan dalam pengembangan kurikulum sampai pada masalah mentoring dan evaluasi yang akan diterapkannya termasuk menentukan visi misi yang akan dijadikan keluar dalam pengembangan kurikulum. Perencanaan ini di maksudkan untuk mengetahui langkah apa yang dapat dalam melaksankan kurikulum. Oleh karena itu tahap perencanaan antara dalam pengembangan kurikulum ini sangat penting artinya bagi kelanjutan kurikulum, tanpa perencanaan yang matang dapat berakibat fatal, sehingga keberhasilan dan pencapaian tujuan akan mengalami hambatan. Berhasil tidaknya pengembangan kurikulum bergantung pada bagaimana perencanaan dilakukan. Bisa jadi kurikulum yang akan dilaksanakan tidak sesuai dengan stakeholder atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada. Itu sebabnya perencanaan penting untuk dilakukan.

II. Tahap Pelaksanaan
Seusai fungsinya kurikulum merupakan sarana untuk mencapai tujuan intruksional, menuju pembentukkan cita-cita yang diharapkan sebagai alat pendidikan serta sebagai perangkat bagi siswa dan guru, maka dalam pelaksanaanya pengembangan kurikulum harus dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan sasarannya seperti yang tertuang dalam undang-undang SISDIKNAS BAB X PASAL 3C yang berbunyi :
a. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar pendidikan nasional pendidikan untuk menwujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Kurikulum pada semua jenjang dan jensi pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
c. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka negara kesatuan republik indonesia dengan memperhatikan :
a) Meningkatkan Iman dan Taqwa
b) Peningkatan anak murid
c) Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik
d) Keragaman potensi daerah dan lingkungan
e) Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f) Tuntutan dunia kerja
g) Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni
h) Agama
i) Dinamika perkembangan sosial
j) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Berkaitan yang tertulis di atas, maka dalam pelaksaan pengembangan kurikulum harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab dan sasaran.

III. Tahap Mentoring dan Evaluasi
Dalam proses pengembangan kurikulum di samping perlu adanya persiapan penyusunan, perencanaan, pelaksanaan pengembangannya, diperlukan juga monitoring untuk mengetahui sejauh mana kurikulum telah dilaksanakan dan perlu juga dilaksanakan evaluasi atau disebut juga adanya penilaian terhadap pengembangan kurikulum.
Penilaian sebagai komponen terakhir dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum berfungsi untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai sesuai dengan harapan. Penilaian dilakukan melalui mekanisme, prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar siswa sesuai dengan penilaian dalam hal ini merupakan proses pengimpulan dari pengolahan informasi untuk mengukur hasil dari proses pengembangan kurikulum yang telah dilaksanakan.

IV. Undang-undang SISDIKNAD BAB I Pasal 1
Secara garis besar proses pengembangan kurikulum melalui beberapa tahap antara lain:
Dimulai dari menentukan tujuan di kurikulum. Kemudian dikembangkan menjadi pedoman pembelajaran lalu diimplementasikan dalam proses pembelajaran sampai akhirnya melakukan evaluasi yang hasilnya akan dijadikan bahan untuk menentukan orientasi dalam pengembangan kurikulum yang akan datang.

10. Analisilah kurikulum kita selama ini dikaitkan dengan model-model kurikulum. Kurikulum yang selama ini diterapkan antara lain :

A. Kurikulum 1994 → Model Wheeler
Pada awalnya kurikulum yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum 1994, yang menggunakan model kurikulum “WHEELER “ yaitu dari atas ke bawah atau dengan kata lain dari pusat ke daerah. Dalam hal ini guru menginduk pada GBPD yang sudah ditentukan oleh pusat, sehingga guru berperan sebagai pelaksana di sekolah. Pada model Wheeler pengembang GBPP dijabarkan menjadi tujuan umu dan tujuan khusus di mana dalam hal ini guru berpedoman pada GBPP

B. Kurikulum 2004 / Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum 2004 dirancang sebagai pengembangan dari kurikulum 1994 yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Tetapi dalam hal ini ada melainkan 1 memperbaiki kurikulum dan disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum 2004 ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1994 yang berlaku sampai tahun 2006 dan dikenal sebagai kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Ella Yulaewati memaparkan psikologi yang mendasari KBK, dengan mengutip pemikiran Spencer, yaitu kopentensi merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kreteria yang efektif dan penampilan yang terbaik dalam pekerjaan dalam suatu situasi “Tipe Kompetensi yang dimaksud adalah : Motif, bawaan, konsep diri, Penghutanan dan Ketrampilan.
Berkaitan dengan pelaksanaan KBK, Dirjen Diknasmen menerbitkan Buku Pedoman Pengembangan Silabus sebagai acuan yang mencakup standar kompetensi, Materi pokok standar penilaian serta sumber bahan pelajaran. Dari cita-cita tersebut kurikulum 2004/2006/KBK dalam pengembangannya menggunakan model HILDA TABA yang mengedepankan pengalaman belajar sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa.

C. Kurikulum KTSP / Kurikulum 2006
Kurikulum KTSP atau yang disebut kurikulum 2006 adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mempunyai visi mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah tertentu. Kurikulum KTSP bersifat desentralistik dalam pengembangannya kurikulum KTSP ini menuntut Guru sebagai pelaksana dan pengembang kurikulum harus mempersiapkan empat (4) perangkat awal, yaitu :
i. Program Tahunan
ii. Program Semester
iii. Silabus dan
iv. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam pengembangan KTSP dama dengaan konseptual, yaitu mengkaitkan materi dengan kondisi nyata di masyarakat (melalui Pengamatan) serta cenderung lebih banyak menggunakan media sebagai sumber belajar. Menteri Pendidikan Nasional No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menegah dan peraturan menteri No. 22/2006. Tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. KTSP sebagai kurikulum penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. KTSP menganut sistem Fleksibilitas
Yakni sekolah diberi kebebasan merubah UJP dalam seminggu untuk di isi dengan muatan lokal sesuai situasi dan kondisi sekolah
2. Mengubah kebiasaan lama kebergantungan pada birokrat dengan mengurus diri sendiri rutinnya akademis.
3. Guru Kreatif dan Siswa aktif
4. Dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi (memasukkan muatan lokal sesuai kebutuhan daerah/sekolah)
5. Bersifat desentralisasi
6. Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan Seni
7. Beragam dan Terpadu
8. Belajar sepanjang hayat
9. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Dilihat dari pengertian, konsep dan ciri-ciri KTSP, dalam pengembangan menggunakan model pengembangan yang sama dengan KBK yaitu HILDA TABA.

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial. Berikut ini akan dibicarakan beberapa macam model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli.
 Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang berikutnya, sebenrnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapun model-model tersebut (ada empat model) dapat dikemukakan sebagai berikut :
 Model I. Model yang paling sederhana yang menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi, model tersebut merupakan model tradisional yang masih dipergunakan. Model I ini mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan urutan atau organisasi bahwa pelajaran secara sistematis, suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan juga.
 Model II. Model ini dilakukan dengan menyempurnakan model I dengan menambahkan kedua jawaban pada pertanyaan (3 dan 4) tersebut, yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran.
Dalam pengembangan kurikulum pada Model II di atas, sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya proses pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga sudah disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, Model II belum memperhatikan masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan yang dimaksud adalah berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan :
Buku-buku pelajaran apakah yang harus dipegrunakan dalam suatu mata pelajaran?
Alat atau media pengakaran apa yang dapat dipergunakan dalam mata pelajaran tertentu.
 Model III. Pengembangan kurikulum ini merupakan penyempurnaan Model II yang belum dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan 5 dan 6, yaitu dengan memasukkan unsur teknologi pendidikan ke dalamnya.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada Model III. Padahal masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan dengan masalah tujuan.
 Model IV. Merupakan penyempurnaan Model III, yaitu dengan memasukkan tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, baik metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran maupun kegiatan penilaian yang dilakukan.

 Model Administratif
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal. Model administratif sering pula disebut sebagai model “garis staf” (line staff) atau “dari atas ke bawah” (top down), karena inisiatif dan gagasan dari pada administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (dirjen, direktur atau kakanwil pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum, yang anggotanya terdiri atas pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugasnya komisi atau tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal mendasar ini terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyisin komisi atau tim kerja pengembangan kurikulum. Tugas tim kerja ini adalah untuk merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan umum, memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, memilih strategi pengajharan dan evaluasi serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi pengajar.
Setelah semua tugas ini dari tim kerja selesai, hasilnya dikai ulang oleh tim pengarah untuk mendapatkan penyempurnaan, dan jika dinilai telah cukup baik, administrator menetapkan berlakunya kurikulum tersebut dan memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Model kurikulum seperti ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah.

 Model dari Bawah (The Grass Roots Model)
Model dari bawah ini merupakan lawan dari model administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum berasal dari bawah, yaitu para pengajar yang merupakan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasar pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksananya diikutsertakan pada kegiatan pengembangan kurikulum.
Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis yaitu berasal dari bawah. Guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya, guru yang paling tahu kebutuhan kelasnya. Oleh karena itu, dialah yang kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
Keuntungan model ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana, mengikutsertakan berbagai pihak bawah khususnya para pengajar.
Pengembangan kurikulum model dari bawah ini menuntut adanya kerjasama antar guru, antar sekolah-sekolah, serta harus ada kerjasama antar pihak orang tua murid dan masyarakat. Model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi didalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan sehingga dapat melahirkan manusia yang lebih mandiri dan kreatif.

 Model Beauchamp (Beauchamp’s System)
Sesuai dengan namanya, model ini diformulasikan oleh G.A. Beauchamp’s (1964), ia mengemukakan lima hal penting dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
 Menetapkan “arena atau lingkup wilayah” yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut,yaitu berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional atau nasional.
 Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu : (1) para ahli pendidikan/kurikulum dan para ahli bidang dari luar, (2) para ahli pendidikan dari perguruan tinggai atau sekolah dan guru-guru terpilih, (3) para profesional dalam sistem pendidikan, (4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
 Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini untuk merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, kegiatan evaluasi dan menentukan seluruh desain kurikulum. Beauchamp membagi kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu (1) membentuk tim pengembang kurikulum, (2) mengadakan penilaian atau penelitian terhadap kurikulum yang digunakan, (3) studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan-penentuan kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
 Implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis di sekolah.
 Evaluasi kurikulum. Merupakan langkah terakhir yang mencakup empat hal, yaitu : (1) evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, (2) evaluasi desain kurikulum, (3) evaluasi hasil belajar siswa, (4) evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum serta prinsip pelaksanaannya.

 Model Terbaik Hilda Taba (Taba’s Inverted Model)
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Taba berbeda dengan cara lazim yang bersifat deduktif karena caranya yang bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “model terbalik”. Ada lima langkah pengembangan kurikulum model taba ini, yaitu :
 Mengadakan unit-unit eksperimen kerjasama guru-guru. Didalam unit eksperimen ini diadakan studi yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan langkah kegiatan dalam unit eksperimen ini : (1) mendiagnosis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan khusus, (3) memilih isi, (4) mengorganisasi isi, (5) memilih pengalaman belajar, (6) mengorganisasi pengalaman belajar, (7) mengevaluasi, (8) melihat sekuens dan keseimbangan.
 Menguji unit eksperimen. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan kepraktisannya untuk kelas-kelas atau tempat lain.
 Mengadakan revisi dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen
 Menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual dan emosional.
 Menyusun kurikulum, yang dikembangkan secara menyeluruh dan mendiseminasikan (menerapkan kurikulum pada daerah atau sekolah yang lebih luas).
Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.

 The Systemic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulu merupakan perubahan sosial. Hal ini mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekolah, pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut, model ini menekankan pada tiga hal, yaitu : hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat serta wibawa dari pengetahuan profesional. Penyusunan kurikulum dengan memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action-research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. Dari hasil kajian itu, disusun rencana menyeluruh tentang cara-cara mengatasi masalah dan tindakan apa yang harus diambil.
Langkah kedua, mengimplementasi dari keputusan yang diambil dengan kegiatan mengumpulkan data dan fakta. Kegiatan ini mempunyai beberapa fungsi yaitu : (1) menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, (2) sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, (3) sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi, (4) sebagai bahan untuk menentukan tindakan lebih lanjut.

 Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan seerta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya :
 The Behavioral Analysis Model. Menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku / kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku yang sederhana yang tersusun secara hirarkis.
 The System Analysis Model. Berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga mengidentifikasi tahap-tahap hasil yang dicapai serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
 The Computer-Based Model. Suatu pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit kurikulum tersebut. Stelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil belajar siswa disimpan dalam komputer.
 Banyak model dari pengembangan kurikulum yang dapat digunakan. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya, serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model kosep pendidikan mana yang digunakan.

March 11, 2011 at 3:15 pm 6 comments

article of education(tugas makul Pengembangan Kurikulum dan Program Pengajaran)

INDONESIAN BASIC EDUCATION CURRICULUM
CURRENT CONTENT AND REFORM*

Agus Dharma, PhD
Board Member from Indonesia

Background

1. The vision of Indonesian education is the realization of educational system as a solid and authoritative social institution to empower Indonesian citizen to become intelligent persons that are able and proactive to stand facing the ever changing challenges of the era. They are bright (spiritually, emotionally, socially, intellectually, and kinesthetically) and competitive citizens. The educational system encompasses all form, type, and level of education: formal, non-formal, and in-formal.
2. Basic education in Indonesia provides nine years learning experience in both formal and non-formal education for 7- 15 school age children. The goal of basic education is to develop learners’ basic intelligence, knowledge, personality, noble character, as well as skills to live independently and to continue their education.
3. Basic education is conducted in elementary school and junior high school (both public and religious type of schooling called madrasah = madrasah ibtidaiyah for elementary school and madrasah tsanawiyah for junior high school). While public elementary and junior high scholl are managed based on the policies established by the Ministry of National Education (MONE) and operationally controlled by otonomous local/district/town administration, the madrasahs are managed by the Ministry of Religious Affairs through its local (district/town) offices troughout Indonesia.
4. The nine years basic education is compulsory. At present the number of student attending elementary and junior high school is 7.864.650 and 3.839.023 consecutively and the number of elementary school is 44.154 and junior high school is 12.932 (public and private). Net participation rate at elementary school is about 95% and gross participation rate at junior high is 92%. This include students attending the madrasah. The total number of teachers at elementary and junior high scholl (public and private) is 1.531.193.
5. The successful implementation of basic education program is, among other things, relied heavily on qualified teachers in managing their students learning experience based on well developed curriculum.
6. Traditionally the MONE played a central role of curriculum development in Indonesia. Schools (teachers) involvement played only small operational portion of the role. The teachers were supposed to go along with all instructions neatly prepared guidance of curriculum implementation by the MONE. The main task specified to teachers in curriculum planning was to merely prepare lesson plan of a subject based on implementation and technical instruction. The old curriculum is subject (materials) and teacher oriented regardless learners potential, development stage, needs, interest, and environment.
7. Since 2006 (in decentralization era) Indonesia has been implementing competency base school level curriculum based on national standard of education (content and competence standards in particular) considering the goal of a certain level of education, learning experiences that should be provided to achieve the goal, the methods used to manage the learning experiences, and methods of evaluation to measure the goal achievement. The new curriculum is learners’ and competency oriented and implemented by paying attention to learners potential, development stage, needs, interest, and environment.
8. The new policy on curriculum, among other things, is intended to empower teachers to develop down to earth learning activities relevant to the learners’ need, actual condition of the school, as well as the necessity to link it to the environment. Central Government provides guidance in developing competency base school level curriculum. The Curriculum Center at the Office of Educational Research and Development of the MONE helps the schools develop their own curriculum by providing curriculum models that can be implemented at school level. Training centers of the MONE have been conducting training sessions for school principals and teachers in developing competency base school level curriculum.

Legal Framework of School Curriculum

1. The National Education System Act (No 20/2003) provides legal framework of curriculum implemented in Indonesia. The Minister of National Education decrees No 22 and 23/2006 establish the content standard and graduate competences standard in developing curriculum. The standards are established by the Office of National Standard of Education.
2. The Act defines curriculum as a set of plan with regard to the objectives, content, and learning materials as well as the methods employed as guideline in conducting learning activities in order to achieve the goal of a certain education.
3. The curriculum of primary (basic) and secondary education must include religious education, citizenship, languages, mathematics, natural science, social science, art and culture, physical education and sport, skills/vocational education, and local content. The curriculum is basically developed based on diversified principles related to educational unit, regional potential, and the learners.
4. The curriculum is developed according to the level of education in the frame of the Unitary State of the Republic of Indonesia in the efforts to improve religious faith, character; learners’ potential, intelligence, and interest; the variety of regional potential and environment; the demand of regional and national development; the employment demand, the development of science, knowledge, technology, and art; religion, the dynamic of global development, national unity and values.
5. Basic framework and structure of primary and secondary education curriculum are established by the Central Government. Primary education curriculum is developed in accordance with its relevance by individual school (or alike)/madrasah committee (school level curriculum) coordinated and supervised by the district office of education (local government) and district office of the Ministry of Religious Affairs.

Basic Framework of Curriculum and Competency

1. Subject Cluster and Scope
a. Religion and noble character
This subject is intended to develop learners to become religiously devoted individuals who posses noble character. The noble characters consist of ethics, good conduct in life, or morality as the realization of religious education.
b. Citizenship and personality
This subject is intended to develop learners’ awareness and knowledge with regard to their status, rights, and obligations in community, state, and nation; as well as to improve their quality as human being. The awareness and knowledge include nationality, spirit and patriotism in defending their nation, appreciation of human rights, nation diversity, environment conservation, gender equality, democracy, social responsibility, as well as the promotion of behaviors against corruption, collusion, and nepotism.
c. Science and technology
Science and technology at elementary school is intended to introduce, react, and appreciate science and technology, as well as to instill habits of critical, creative, and independent scientific thinking and behavior. Science and technology at junior high school is intended to develop basic competency in knowledge and science as well as to enhance the learners’ habit of scientific thinking critically, creatively, and independently.
d. Aesthetics
This subject cluster is intended to develop learners’ sensitivity as well as ability to express and appreciate beauty and harmony. The ability to appreciate and express beauty and harmony consists of appreciation and expression, both in individual life that enable learners to enjoy and be grateful of life and in community that enable them to create togetherness and harmony.
e. Physical, sport, and health
This subject cluster at elementary school is intended to develop learners’ physical potential as well as to implant the spirit of sportsmanship and awareness of healthy life. This subject cluster at junior high school is intended to enhance the learners’ physical potential as well as to strengthen the habits of sportive and healthy life.

2. Competences standards for elementary school graduate:
a. To act on their religious teachings with regard to the stage of child development.
b. To know one’s weaknesses and strengths.
c. To obey social rules in their environment.
d. To appreciate religion, culture, ethnics, racial, and socio-economics differences in their environment.
e. To use information of their environment logically, critically, and creatively.
f. To demonstrate the ability to think logically, critically, and creatively with the guidance of their teachers.
g. To demonstrate high sense of inquiry and awareness of their potentials.
h. To demonstrate ability to solve simple problems in their daily life.
i. To demonstrate ability to identify natural and social phenomena in their environment.
j. To demonstrate affection and care about their environment.
k. To demonstrate affection and proud of their nation, state, and homeland.
l. To demonstrate ability in local art and cultural activities.
m. To demonstrate habits to live clean, healthy, fresh, and safe and to take advantage of spare time.
n. To communicate clearly and politely.
o. To work together in group, help each other, and protect themselves in their home and peer group.
p. To demonstrate eagerness to read and write.
q. To demonstrate skills in listening, speaking, reading, writing, and arithmetic.

3. Competences standards for junior high school graduate:
a. To act on their religious teachings according to their pre-adolesence stage of development.
b. To demonstrate self-confidence.
c. To obey social rules in their broader environment.
d. To appreciate religious, cultural, ethnics, racial, and socio-economics differences in national scope.
e. To search and implement information from their environment and other sources logically, critically, and creativelly.
f. To demonstrate the ability to think logically, critically, cratively, and innovatively.
g. To demonstrate the ability to learn independently on a par with their own potential.
h. To demonstrate the ability to analize and solve daily life problems.
i. To describe natural and social phenomena.
j. To responsibly take advantage of their environment.
k. To implement values of togetherness in social and national life in order to realize the unity in the Unitary State of the Republic of Indonesia.
l. To appreciate art works and national culture.
m. To appreciate job tasks and able to perform productively.
n. To live clean, healthy, fresh, and safe life and to take advantage of their spare time.
o. To communicate and interact effectively and politely.
p. To understand own and others’ right and obligation in her/his social interaction.
q. To appreciate differences in opinion.
r. To demonstrate eagerness to read and write short and simple article.
s. To demonstrate skills in listening, reading, speaking, and writing in simple Indonesian language and English.
t. To master the knowledge required to continue study in secondary education.

4. Curriculum Structure of Elementary and Junior High School

Curriculum structure of elementary school includes learning content learned in six years education started from Grade I until Grade VI and three years at junior high school started from Grade VII to Grade IX. The curriculum structure is developed based on graduate competency standard and subjects competency standard by considering the following guideline.

a. Elementary and junior school curriculum consists of 8 and 10 subjects consecutively, local content, and self development. Local content is curricular activities in order to develop competency adjusted with unique local characteristics and potential, including local advantages where the content cannot be clustered into the existing subjects. Local content is determined by individual educational unit (school or alike). Self development is not a subject that must be taught solely by teacher. Self development is intended to provide opportunity for learners to develop and express themselves corresponding to each learner’s need, talent, and interest. Self development activities could be facilitated by counselor, teacher, or other educational staffs that can be conducted in the forms of extra-curricular activities. Self development activities, among other things, can be performed through counseling services related to learners’ personal problems, social life, learning, and career development.
b. The content of natural and social science at elementary and junior high school is integrated natural and social science.
c. Learning process at Grade I, II, and III is conducted through thematic approach, while at Grade IV, V, and VI is carried out through subject approach.
d. Average learning hour for Grade I, II, and III is 27 and Grade IV, V, and VI is 32 a week, while average learning hour at junior high school is 32. Educational unit could add maximum 4 learning hours per week. The length of one learning hour is 35 minutes at elementary school and 40 minutes at junior high school.
f. Effective learning period in one year of schooling is 34-38 weeks for both elementary school and junior high school divided into two semesters.

General Principles of Curriculum Development

1. Focused on learners’ potential, development, needs, and interest; and their environment
Curriculum is developed based on the principle that learners have their own unique potential to develop their competence to become religiously devoted, bright, competitive, and responsible citizens. It is, therefore, the development of this potential is done based on the learners potentials and develomental needs. The learners are supposed to be the central attention of learning activities (learners oriented curriculum).

2. Varied and integrated
Curriculum is developed by keeping in mind the diversity of learners characteristic, geography condition, level and type of education, as well as appreciating differences in religion, ethnics, culture, tradition, socio-economics status, and gender. Curriculum must contain required subjects, local content, and integrated self development and is developed in a meaningful and right intersubjects integration.

3. Responsive to the development of science, knowledge, technology, and art
Curriculum is developed based on awareness that science, knowledge, technology, and art is developing dynamically. Therefore, the curriculum spirit and content are required to provide learners with learning experience that enable them to keep up with and utilize science, knowledge, technology, and art development.

4. Relevant to the need of life
Curriculum is developed by involving the stakeholders to ensure its relevance to the needs of life which include social life, business, and employment. It is, therefore, educational institutions have to include the development of personal, thinking, social, academic, and vocational skills.

5. Comprehensive and continued
Curriculum content includes the whole dimensions of competences and subjects that are planned and presented continously through all educational level. It means, therefore, that the same subject may be presented at different level, but with diverse depth and scope.

6. Life long learning
Curricullum is directed toward the process of learners’ development, aculturation, and empowerment in the frame of life long learning. The curricullum reflects the interrelation of formal, non-formal, and informal education by paying attention to the ever changing environment condition and demand.

7. Balancing national and regional interests
Curriculum is developed by paying attention to the national and regional interest in order to develop a well balanced life in community, nation, and state. National and regional interests must be kept in balance on a par with the motto of the Unitary State of the Republic of Indonesia: unity through diversity.

Principles of Curriculum Implementation

1. Curriculum implementation is based on the learners’ potential, development, and condition to master useful competency. Learners must have quality educational services and opportunity to freely, dynamically, and comfortably express themselves.
2. Curriculum is implemented by maintaining five learning pillars: (a) learning to be faithful and devoted to God, (b) learning to understand and fully comprehend, (c) learning to be able to perform effectively, (d) learning to live with and be useful for other people, and (e) learning to identify and develop own identity through active, creative, and contented learning process.
3. Curriculum implementation enables learners to have remedial, enriched, and/or accelerated educational program on a par with learners’ potential, developmental stage, and condition by paying attention to learners’ integrated personal development containing spirituality, individuality, community, and morality.
4. Curriculum is implemented in situations where there are mutually respectful, close, open, and warm relationship between learners and educators by keeping in mind the principles of good modeling, motivating, and empowering.
5. Curriculum is implemented by employing multi-strategy and multi-media approach, sufficient learning and technology sources, and by utilizing immediate environment as learning source.
6. Curriculum is implemented by utilizing natural, socio-cultural, and regional sources for successful educational programs containing useful subjects in optimal learning process.
7. Curriculum consisting of all components of subjects’ competency, local content, and self development is managed in appropriate and sufficient balance, interrelation, and continuity between grade, type, and level of education.

Closing Remark

1. The world is changing and so is educational endeavor to empower individuals to develop their potentials to live responsible and healthy life so as to be able to perform independently and cooperatively and help each other in harmony.
2. Curriculum serves as the substance that gives the soul to learning process. Curriculum should be primarily based on the consideration of promoting learners’ interest in identifying and developing their full potential.
3. Nationally established curriculum in Indonesia has experienced several changes. The new curriculum has been implemented nationally since 2006. The so called competency base school level curriculum is developed based on content and competency standards. It is in line with the implementation of educational policy regarding school base management.
4. The successful implementation of the new policy on curriculum depends on the readiness of all parties involved in learning process at operational level, especially the teachers.
5. Central government (Ministry of National Education) has been conducting various programs to assist schools in developing, implementing, and evaluating their own curriculum by taking advantage of advanced information and communication technology.
6. It is necessary to conduct evaluation research in order to see the effectiveness of the new curriculum related to the learners’ achievement measured through multi-dimensional approach.

KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR INDONESIA
LANCAR KONTEN DAN REFORMASI *
Agus Dharma, PhD
Anggota Dewan dari Indonesia

LATAR BELAKANG
1. Visi pendidikan Indonesia adalah realisasi dari sistem pendidikan sebagai lembaga yang solid dan berwibawa sosial untuk memberdayakan warga negara Indonesia untuk menjadi orang cerdas yang mampu dan proaktif untuk berdiri menghadapi tantangan yang terus berubah era. Mereka adalah terang (spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan kinesthetically) warga dan kompetitif. Sistem pendidikan yang mencakup semua bentuk, jenis, dan tingkat pendidikan: formal, non formal dan in-formal.
2. Pendidikan dasar di Indonesia menyediakan pengalaman belajar sembilan tahun baik dalam pendidikan formal dan non-formal selama 7 – 15 usia anak sekolah. Tujuan pendidikan dasar adalah untuk mengembangkan kecerdasan dasar peserta didik ‘, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan untuk melanjutkan pendidikan mereka.
3. Pendidikan dasar dilakukan di SD dan SMP (baik jenis umum dan agama madrasah = sekolah disebut madrasah ibtidaiyah untuk sekolah dasar dan madrasah tsanawiyah untuk SMP). Sementara disekolah menengah umum SD dan SMP dikelola berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan operasional dikendalikan oleh kabupaten otonom lokal / / kota administrasi, madrasah yang dikelola oleh Departemen Agama melalui lokal (kabupaten / kota) kantor Sepanjang Indonesia.
4. Sembilan tahun pendidikan dasar adalah wajib. Saat ini jumlah siswa sekolah SD dan SMP adalah 7.864.650 dan 3.839.023 berurutan dan jumlah SD 44,154 dan SMP adalah 12,932 (publik dan swasta). Tingkat partisipasi bersih di sekolah dasar adalah sekitar 95% dan tingkat partisipasi kotor di SMP adalah 92%. Ini termasuk siswa yang menghadiri madrasah. Jumlah guru di disekolah SD dan SMP (publik dan swasta) adalah 1.531.193.
5. Keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dasar, antara lain, sangat bergantung pada guru yang berkualitas dalam mengelola pengalaman belajar siswa berdasarkan kurikulum berkembang dengan baik.
6. Secara tradisional Depdiknas memainkan peran sentral pengembangan kurikulum di Indonesia. Sekolah (guru) keterlibatan diputar hanya bagian operasional kecil peran. Para guru seharusnya untuk pergi bersama dengan semua instruksi rapi dipersiapkan pedoman pelaksanaan kurikulum oleh Depdiknas. Tugas utama yang ditentukan untuk guru dalam perencanaan kurikulum adalah hanya menyiapkan rencana pelajaran dari subjek berdasarkan pelaksanaan dan instruksi teknis. Kurikulum tua adalah subyek (bahan) dan guru tanpa berorientasi potensi peserta didik, tahap pengembangan, kebutuhan, minat, dan lingkungan.
7. Sejak tahun 2006 (pada era desentralisasi) Indonesia telah menerapkan kompetensi dasar kurikulum tingkat sekolah berdasarkan standar nasional pendidikan (isi dan standar kompetensi tertentu) mempertimbangkan tujuan tingkat tertentu pendidikan, pengalaman belajar yang harus disediakan untuk mencapai tujuan , metode yang digunakan untuk mengelola pengalaman belajar, dan metode evaluasi untuk mengukur pencapaian tujuan. Kurikulum baru adalah ‘peserta didik dan kompetensi yang berorientasi dan dilaksanakan dengan memperhatikan potensi peserta didik, tahap pengembangan, kebutuhan, minat, dan lingkungan.
8. Kebijakan baru tentang kurikulum, antara lain, dimaksudkan untuk memberdayakan para guru untuk mengembangkan kegiatan belajar turun ke bumi yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, kondisi aktual sekolah, serta kebutuhan untuk menghubungkannya dengan lingkungan. Pemerintah Pusat memberikan panduan dalam mengembangkan kompetensi dasar kurikulum tingkat sekolah. Pusat Kurikulum di Dinas Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas membantu sekolah mengembangkan kurikulum sendiri dengan menyediakan model kurikulum yang dapat diterapkan di tingkat sekolah. Pusat-pusat Pelatihan Depdiknas telah melakukan sesi pelatihan untuk kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kompetensi dasar kurikulum tingkat sekolah.

Hukum Kerangka Kurikulum Sekolah
1. Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang (No 20/2003) menyediakan kerangka hukum kurikulum diimplementasikan di Indonesia. Menteri Pendidikan Nasional dekrit No 22 dan 23/2006 menetapkan standar isi dan kompetensi lulusan standard pengembangan kurikulum. Standar-standar yang ditetapkan oleh Kantor Standar Nasional Pendidikan.
2. Undang-undang mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana berkaitan dengan tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tertentu.
3. Kurikulum pendidikan dasar (dasar) dan sekunder harus termasuk pendidikan agama, kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu alam, ilmu sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan / pendidikan kejuruan, dan konten lokal. Kurikulum pada dasarnya dikembangkan berdasarkan prinsip diversifikasi yang terkait dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
4. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan tingkat pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam upaya untuk meningkatkan iman religius, karakter, potensi peserta didik ‘, kecerdasan, dan bunga; berbagai potensi daerah dan lingkungan; yang tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, pengetahuan, teknologi, dan seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai.
5. Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Pendidikan dasar kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh sekolah masing-masing (atau sama) / madrasah komite (sekolah kurikulum tingkat) dikoordinasikan dan diawasi oleh kantor pendidikan daerah (pemda) dan kantor kabupaten dari Departemen Agama.

Kerangka Dasar Kurikulum dan Kompetensi
1. Kelompok Mata pelajaran dan Ruang Lingkup
a. Agama dan akhlak mulia
Subjek ini bertujuan untuk mengembangkan peserta didik untuk menjadi agama orang setia yang dimiliki karakter mulia. Karakter mulia terdiri dari etika, perilaku yang baik dalam hidup, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
b. Kewarganegaraan dan kepribadian
Subjek ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran peserta didik dan pengetahuan yang berkaitan dengan status mereka, hak, dan kewajiban dalam masyarakat, negara, dan bangsa, serta meningkatkan kualitas mereka sebagai manusia. Kesadaran dan pengetahuan termasuk kebangsaan, semangat dan patriotisme dalam membela bangsa mereka, penghargaan hak asasi manusia, keragaman bangsa, pelestarian lingkungan, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, serta promosi perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme.
c. Ilmu dan teknologi
Ilmu dan teknologi di sekolah dasar ini dimaksudkan untuk memperkenalkan, bereaksi, dan menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri dan perilaku. Ilmu dan teknologi di sekolah SMP ini dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi dasar dalam pengetahuan dan ilmu serta meningkatkan kebiasaan peserta didik ‘berpikir ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri.
d. Estetika
Ini cluster subjek ini dimaksudkan untuk mengembangkan kepekaan peserta didik ‘serta kemampuan untuk mengekspresikan dan menghargai keindahan dan harmoni. Kemampuan untuk menghargai dan mengekspresikan keindahan dan harmoni terdiri dari apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individu yang memungkinkan peserta didik untuk menikmati dan bersyukur hidup dan dalam masyarakat yang memungkinkan mereka untuk menciptakan kebersamaan dan harmoni.
e. Fisik, olahraga, dan kesehatan
Cluster ini subjek di sekolah dasar ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi fisik peserta didik serta implan semangat sportivitas dan kesadaran hidup sehat. Cluster subjek ini di sekolah SMP ini dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik peserta didik serta memperkuat kebiasaan hidup yang sportif dan sehat.

2. Kompetensi standar untuk lulusan sekolah dasar:
a. Untuk bertindak atas ajaran agama mereka sehubungan dengan tahap perkembangan anak.
b. Untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan seseorang.
c. Untuk mematuhi aturan-aturan sosial di lingkungan mereka.
d. Untuk menghargai agama, budaya, etnis, ras, dan perbedaan sosial-ekonomi di lingkungan mereka.
e. Untuk menggunakan informasi lingkungan mereka secara logis, kritis, dan kreatif.
f. Untuk menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru mereka.
g. Untuk menunjukkan rasa tinggi penyelidikan dan kesadaran potensi mereka.
h. Untuk menunjukkan kemampuan untuk memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari mereka.
i. Untuk menunjukkan kemampuan untuk mengidentifikasi fenomena alam dan sosial di lingkungan mereka.
j. Untuk menunjukkan kasih sayang dan peduli terhadap lingkungan mereka.
k. Untuk menunjukkan kasih sayang dan bangga bangsa mereka, negara, dan tanah air.
l. Untuk menunjukkan kemampuan dalam seni lokal dan kegiatan budaya.
m. Untuk menunjukkan kebiasaan untuk hidup bersih, sehat, segar, dan aman serta untuk memanfaatkan waktu luang.
n. Untuk berkomunikasi dengan jelas dan sopan.
o. Untuk bekerja sama dalam kelompok, saling membantu, dan melindungi diri mereka di rumah mereka dan kelompok sebaya.
p. Untuk menunjukkan semangat untuk membaca dan menulis.
q. Untuk menunjukkan kemampuan dalam mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung

3. Standar kompetensi lulusan SMP:
a. Untuk bertindak atas ajaran agama mereka sesuai dengan tahap pra-remaja perkembangan mereka.
b. Untuk menunjukkan rasa percaya diri.
c. Untuk mematuhi aturan-aturan sosial di lingkungan mereka yang lebih luas.
d. Untuk menghargai agama, budaya, etnis, ras, dan perbedaan sosial-ekonomi dalam lingkup nasional.
e. Untuk mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan mereka dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.
f. Untuk menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, cratively, dan inovatif.
g. Untuk menunjukkan kemampuan belajar mandiri setara dengan potensi mereka sendiri.
h. Untuk menunjukkan kemampuan untuk menganalisa dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
i. Untuk menggambarkan fenomena alam dan sosial.
j. Untuk bertanggung jawab mengambil keuntungan dari lingkungan mereka.
k. Untuk menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial dan nasional dalam rangka mewujudkan persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
l. Untuk menghargai karya seni dan budaya nasional.
m. Untuk menghargai tugas pekerjaan dan mampu melakukan produktif.
n. Untuk hidup hidup bersih, sehat, segar, dan aman dan memanfaatkan waktu luang mereka.
o. Untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan sopan.
p. Untuk memahami sendiri dan hak orang lain dan kewajiban dalam / nya interaksi sosialnya.
q. Untuk menghargai perbedaan pendapat.
r. Untuk menunjukkan semangat untuk membaca dan menulis artikel singkat dan sederhana.
s. Untuk menunjukkan kemampuan dalam mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan Inggris.
t. Untuk menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk melanjutkan studi di pendidikan menengah.

4. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Dasar dan Junior

Struktur Kurikulum SD termasuk konten pembelajaran pelajari dalam enam tahun pendidikan dimulai dari kelas I sampai kelas VI dan tiga tahun di sekolah menengah pertama dimulai dari Kelas VII sampai kelas IX. Struktur Kurikulum dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan mempertimbangkan pedoman berikut.

a. SD dan SMP kurikulum sekolah terdiri dari 8 dan 10 mata pelajaran berurutan, konten lokal, dan pengembangan diri. Konten lokal adalah kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi disesuaikan dengan karakteristik lokal yang unik dan potensi, termasuk keunggulan lokal dimana isinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan individu (sekolah atau sama). Pengembangan Diri bukan merupakan subyek yang harus diajarkan semata-mata oleh guru. Pengembangan diri adalah dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan setiap pelajar, bakat, dan minat. Self kegiatan pembangunan dapat difasilitasi oleh konselor, guru, atau staf pendidikan lain yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstra-kurikuler. Self kegiatan pembangunan, antara lain, dapat dilakukan melalui layanan konseling yang berkaitan dengan masalah pribadi peserta didik, kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir.
b. Isi dari ilmu alam dan sosial di sekolah SD dan SMP adalah terpadu ilmu pengetahuan alam dan sosial.
c. Proses pembelajaran di kelas I, II, dan III dilakukan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada kelas IV, V, dan VI dilakukan melalui pendekatan subjek.
d. Rata-rata jam belajar bagi kelas I, II, dan III adalah 27 dan kelas IV, V, dan VI adalah 32 minggu, sedangkan rata-rata jam belajar di sekolah menengah pertama adalah 32. Unit Pendidikan dapat menambah maksimum 4 jam pembelajaran per minggu. Panjang satu jam pembelajaran adalah 35 menit di sekolah dasar dan 40 menit di sekolah SMP.
e. Periode belajar efektif dalam satu tahun sekolah adalah 34-38 minggu untuk kedua sekolah SD dan SMP dibagi menjadi dua semester.

Prinsip-prinsip Umum Pengembangan Kurikulum
1. Berfokus pada potensi peserta didik, pengembangan, kebutuhan, dan kepentingan, dan lingkungan mereka
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki potensi yang unik untuk mengembangkan kompetensi mereka untuk menjadi warga negara agama setia, cerdas, kompetitif, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pengembangan potensi ini dilakukan berdasarkan potensi peserta didik dan kebutuhan develomental. Para peserta didik seharusnya menjadi perhatian pusat kegiatan belajar (peserta didik kurikulum oriented).
2. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan oleh mengingat keragaman karakteristik peserta didik, kondisi geografi, tingkat dan jenis pendidikan, serta menghargai perbedaan agama, etnis, tradisi budaya,, sosial-ekonomi status, dan gender. Kurikulum harus berisi subyek yang diperlukan, konten lokal, dan pengembangan diri yang terintegrasi dan dikembangkan dalam integrasi intersubjects bermakna dan benar.
3. Responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan berdasarkan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum harus menyediakan peserta didik dengan pengalaman belajar yang memungkinkan mereka untuk mengikuti dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, pengetahuan, teknologi, dan pengembangan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Kurikulum dikembangkan dengan melibatkan para pemangku kepentingan untuk memastikan relevansinya dengan kebutuhan hidup yang mencakup kehidupan sosial, bisnis, dan lapangan kerja. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus mencakup pengembangan pribadi, berpikir, keterampilan sosial, akademis, dan kejuruan.
5. Komprehensif dan terus
Konten Kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara terus menerus melalui semua tingkat pendidikan. Artinya, karena itu, bahwa subjek yang sama dapat disajikan pada tingkat yang berbeda, tapi dengan kedalaman yang beragam dan cakupan.
6. Belajar seumur hidup
Kurikulum diarahkan proses perkembangan peserta didik, aculturation, dan pemberdayaan dalam rangka belajar seumur hidup. Kurikulum mencerminkan keterkaitan pendidikan formal, non-formal, dan informal dengan memperhatikan kondisi lingkungan yang terus berubah dan permintaan.
7. Menyeimbangkan kepentingan nasional dan regional
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan regional dalam rangka untuk mengembangkan kehidupan yang seimbang di masyarakat, bangsa, dan negara. Nasional dan kepentingan daerah harus tetap seimbang sejajar dengan motto dari Negara Kesatuan Republik Indonesia: persatuan melalui keragaman.

Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
1. Implementasi kurikulum didasarkan pada potensi peserta didik, pengembangan, dan kondisi untuk menguasai kompetensi berguna. Pelajar harus memiliki layanan pendidikan berkualitas dan kesempatan untuk bebas, dinamis, dan nyaman mengekspresikan diri.
2. Kurikulum dilaksanakan dengan menjaga lima pilar belajar: (a) belajar untuk setia dan berbakti kepada Tuhan, (b) belajar untuk mengerti dan memahami sepenuhnya, (c) belajar untuk bisa bekerja efektif, (d) belajar untuk hidup dengan dan bermanfaat bagi orang lain, dan (e) belajar untuk mengidentifikasi dan mengembangkan identitas sendiri melalui proses pembelajaran aktif, kreatif, dan puas.
3. Kurikulum implementasi memungkinkan peserta didik untuk memiliki perbaikan, diperkaya, dan / atau program pendidikan akselerasi setara dengan pelajar ‘potensi panggung, perkembangan, dan kondisi dengan memperhatikan peserta didik’ pengembangan terintegrasi pribadi mengandung spiritualitas, individualitas, masyarakat, dan moralitas.
4. Kurikulum dilaksanakan dalam situasi di mana ada saling menghormati, tutup, buka, dan hubungan hangat antara peserta didik dan pendidik dengan mengingat prinsip-prinsip pemodelan yang baik, memotivasi, dan memberdayakan.
5. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan multi-strategi dan pendekatan multi-media, pembelajaran yang memadai dan sumber teknologi, dan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
6. Kurikulum dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber-sumber alam, sosial-budaya, dan regional untuk program pendidikan yang berhasil mengandung subyek berguna dalam proses belajar yang optimal.
7. Kurikulum yang terdiri dari seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri dikelola dalam keseimbangan yang tepat dan memadai, keterkaitan, dan kesinambungan antara kelas, jenis, dan tingkat pendidikan.

Penutup Keterangan
1) Dunia berubah dan begitu juga upaya pendidikan untuk memberdayakan individu untuk mengembangkan potensi mereka untuk menjalani hidup yang bertanggung jawab dan sehat sehingga dapat melakukan independen dan kooperatif dan saling membantu dalam harmoni.
2) Kurikulum berfungsi sebagai zat yang memberikan jiwa untuk proses pembelajaran. Kurikulum harus terutama didasarkan pada pertimbangan meningkatkan minat peserta didik dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi mereka sepenuhnya.
3) Kurikulum nasional yang didirikan di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan. Kurikulum baru telah diterapkan secara nasional sejak tahun 2006. Basis kompetensi kurikulum sekolah disebut tingkat dikembangkan berdasarkan standar isi dan kompetensi. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan kebijakan pendidikan tentang pengelolaan sekolah dasar.
4) Keberhasilan pelaksanaan kebijakan baru pada kurikulum tergantung pada kesiapan semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran pada tingkat operasional, khususnya para guru.
5) Pemerintah pusat (Departemen Pendidikan Nasional) telah melakukan berbagai program untuk membantu sekolah dalam mengembangkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum sendiri dengan mengambil keuntungan dari informasi dan teknologi komunikasi.
6) Hal ini diperlukan untuk melakukan penelitian evaluasi untuk melihat efektivitas dari kurikulum baru yang terkait dengan prestasi peserta didik ‘diukur melalui pendekatan multi-dimensi.

March 11, 2011 at 3:05 pm 4 comments

Older Posts



More clock widgets here

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.